Pak Penghulu, Nikahi Aku!

Pak Penghulu, Nikahi Aku!
Cemburu


__ADS_3

"Ais mau pakai daun pisang makannya, kayak Ayah." pinta Ais.


Gadis kecil itu begitu penasaran saat melihat Alkan- Ayahnya makan beralaskan daun pisang.


"Sini Ayah suapin," ajak Alkan lembut.


Satu tangan sang Bapak Penghulu terulur pada Ais, membuat gadis kecilnya tersenyum sumringah. Sementara wanita yang ada di seberangnya merasa cemburu, dia juga ingin di suapi oleh si Bapak Penghulu tercintanya.


Makan di tengah sawah, beralaskan tikar, menikmati pemandangan yang di suguhkan Tuhan secara gratis bersama pasangan dan keluarga, bagaimana bisa Cia lewatkan.


"Cici gak Mas suapin," tutur Cia penuh harap.


Kedua mata abu abunya menatap dalam pada sang suami, entah kenapa dia merasa tersaingi oleh putrinya sendiri dalam mendapatkan perhatian Alkan. Apa lagi saat seperti ini, ketika mereka bersama pasti Cia akan kalah oleh Ais.


Salah satu sudut bibir Alkan berkedut, susah payah dia menahan senyumannya saat melihat wajah cemburu sang istri. Cimut nya tengah iri pada Ais- putri mereka berdua, terlihat begitu lucu di kedua mata Alkan.


"Sini, Bunda biar Shaka aja yang suapin." belum sempat Alkan membuka suara, sang jagoan pertama menjadi tameng untuk hati sang Bunda.


Dengan gentle Shaka bangkit sembari membawa makanannya yang sama- di bungkus daun pisang. Bungkusan ala sang Nenek, membuat makanan di dalam terasa sangat enak. Walaupun tidak mewah, namun terasa nikmat di lidah.

__ADS_1


"Bunda biar Shaka yang suapin," lanjutnya lagi.


Tangan bocah laki laki itu terulur pada Cia, bahkan tanpa sungkan Shaka mengecupi kedua pipi Cia tanpa canggung. Sudut mata Shaka melirik pada sang Ayah, dia menampilkan senyum kemenangan saat melihat Alkan- Ayahnya menghela napas pelan.


"Sini, Nenek biar Aska yang suapin," celetuk sang pangeran es.


Bukannya tersanjung, Bunda Marwah malah tertawa geli di buatnya. Aska yang pendiam, tidak terlalu banyak bicara, namun begitu care pada semua anggota keluarganya, terlihat menggemaskan di kedua mata sang Nenek.


🕊


🕊


🕊


Dan saat ini, ibu dari tiga orang anak itu tengah menatap hamparan sawah milik sang suami. Sebenarnya Cia sudah ke tiga kali ini kemari, namun hari inilah yang paling begitu mengesankan untuknya.


Ketiga anaknya bermain tanpa canggung, jijik atau pun risih. Mereka berbaur dengan para petani yang bekerja di sawah serta perkebunan coklat sang Ayah. Apa lagi Shaka yang terkenal cerewet dan serba ingin tahu, bocah lelakinya yang satu itu terus saja merusuh.


"Kamu melamun?"

__ADS_1


Cia tersentak saat merasakan sapuan halus di belakang kepalanya yang tertutup hijab. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna saat tahu siapa yang ada di belakang tubuhnya saat ini.


"Enggak, Cici cuma lagi lihat sawah. Cantik ya Mas, Cici gak nyangka kalau nasi yang setiap hari kita makan itu berasal dari sini." celoteh Cia antusias.


Alkan ikut tersenyum di buatnya, kedua tangannya terulur untuk mendekap Cia. Alkan menumpukan dagunya di atas kepala istrinya, sementara kedua tangannya mendekap erat tubuh Cimut kesayangannya.


Keduanya larut dalam suasana sederhana, namun begitu bermakna. Cia dan Alkan saling melempar senyum kala tatapan mereka bertemu, saat Cia mendongak. Bahkan tanpa ragu Alkan membubuhkan banyak kecupan di pucuk kepala Cia, membuat wanita beranak tiga itu terpejam beberapa saat.


"Ayah? ayo kita cari belut sama keong lagi!" suara Ais membubarkan suasana romantis low budget Alkan dan Cia saat ini.



AIS KESAYANGAN AYAH



AYAH KESAYANGAN OTHOR, KABOOOOORRRR


__ADS_1


BUNDA YANG LAGI CEMBOTENG GAK MAU NOLEH



__ADS_2