
"Cici...," suara Cia tercekat kala akan berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Cici izin ikut sama Mas Al, ya Mi." lanjutnya.
Jujur, Cia tidak tega melihat wajah sang Mami, yang sendu kala dia dan Alkan berpamitan. Bahkan Nagara, mengalihkan pandangannya kearah lain, pria berwajah bule itu tidak sanggup melihat wajah sang putri.
"Pi? Cici pulang dulu sama Mas Al ya, Cici janji bakalan sering main ke sini." ucap Cia pelan.
Kedua matanya menatap sang Papi yang tengah menghela napas kasar, lalu tanpa menunggu Cia segera memeluk tubuh Nagara. Cia memeluk erat, tubuh pria yang menjadi cinta pertamanya.
"Jaga diri kamu baik baik Princess, kalau ada apa apa, beritahu kami. Papi, Mami dan Abang kamu, akan selalu ada untuk kalian. Tiga bulan lagi resepsi pernikahan kalian akan di laksanakan, baik baik dengan suami dan Ibu mertua kamu." ucap Nagara pelan.
Bahkan pria berwajah bule itu, memberikan kecupan lembut di pucuk kepala sang putri.
"Cici sayang Papi, Mami sama Abang Gala." gumam pelan Cia.
Kemudian Cia melepaskan pelukannya, kedua sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyuman lebar. Yang dia tunjukan pada kedua orang tua, serta Opa serta Omanya.
__ADS_1
"Kami bertiga pamit, terimakasih karena Papi dan Mami, sudah mengizinkan saya membawa Cici." ucap pelan Alkan.
Salah satu tangannya meraih telapak tangan Nagara dan Lovyna secara bergantian, dan menciumnya takzim. Setelah itu, Alkan dan Cia mendekat pada Mace Reina dan Pace Ilham. Mereka pun melakukan hal yang sama, seperti yang di lakukan pada kedua orang tua mereka. Diikuti oleh Bunda Marwah, yang juga ikut berpamitan pada sang besan.
Sedangkan di dalam mobil, Galaska terlihat menatap sang adik sendu. Hari ini Gala yang akan mengantar Cia, Alkan dan Bunda Marwah pulang. Kenapa Cia tidak membawa mobilnya sendiri? jawabannya adalah karena Cia sudah bertekad meninggalkan semua yang di rumah ini. Cia bahkan menyerahkan black card pemberian Grandpa Crish pada Nagara.
Semuanya Cia tinggalkan, mulai dari mobil, perhiasan, baju glamor, tas branded, sepatu, jam tangan yang harganya selangit. Semua itu Cia tinggalkan di dalam kamarnya, Cia hanya membawa tabungannya sendiri. Hasil kerja keras Cia, saat bekerja di DIAMOND QUEEN. Mungkin tabungannya ini, bisa berguna nanti.
Cia melambai pada kedua orang tua serta Oma Opanya, ke tiga orang itu berjalan menuju mobil Jeep hitam Gala. Cia dan Bunda Marwah duduk di kursi belakang, sedangkan Alkan duduk di depan, tepatnya di sebelah Kakak Iparnya.
Sepanjang perjalanan, ke empat orang itu banyak terdiam, membuat Cia melirik mereka satu persatu.
Galaska menoleh sekejap, lalu kembali fokus ke depan. Kedua tangannya begitu lihai, dalam memainkan stir mobil.
"Apa?" sahut Galaska malas.
"Emm- kabar Crystal gimana?" tanya Cia ragu.
__ADS_1
Dia tahu kalau Galaska tidak suka, kalau ada yang membahas si gadis malang itu. Namun Cia benar benar penasaran, walaupun Crystal tengah di rawat dengan baik oleh para medis, dan di jaga ketat oleh Melody, tapi Cia masih khawatir dengan keadaannya.
"Gak tau!" jawab Galaska cuek.
Cia hanya tersenyum kecut mendengar jawaban sang Abang, pria berambut ikal ini masih keras hati serta keras kepala.
"Abang jangan kayak gitu sama Crystal, kasihan. Dia juga kan gak pernah mau ketemu sama Abang, memangnya siapa yang mau ketemu sama cowok galak, emosian, tukang marah marah, kayak Abang. Crystal juga terpaksa ketemu sama Abang, jadi please jangan suka marah marah sama dia. Nanti otaknya bisa cidera lagi, kata dokter kalau itu sampai terulang, Crystal bisa meninggal." ucap panjang lebar Cia.
Wanita cantik itu menatap sang Abang kesal, karena pria yang satu gen dengannya ini begitu batu.
"Abang juga gak pernah ngarep ketemu sama cewek cengeng, tukang nangis, dikit dikit nangis, di pelototi nangis, di diamkan nangis. Udah kayak Lora sama si Prince aja, cengeng banget." balas Gala.
Dia tidak menerima kala sang adik terus saja memojokkannya, tidak sang Mami, tidak adiknya terus saja menjadikan dia sebagai tersangka.
"Cici doain Abang jatuh cinta sama Crystal, bucinnya sampai sel darah. Terus Crystal cuek sama Bang Galak, biar tau rasa." gumam pelan Cia, namun masih bisa di dengar oleh Bunda Marwah, dan segera di aamiini ibu mertuanya.
__ADS_1
IKUT MAS AL KEMANA PUN, BERAK PUN NGIKUTðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜