Panggilan Takdir Sang Kultivator Semesta

Panggilan Takdir Sang Kultivator Semesta
Tewasnya Ruo....?????


__ADS_3

Adu kekuatan level Dewa masih berlangsung,Ruo yang mengeluarkan semua medan elemenya malah semakin tertekan.


"krakkkkk....... " Zirah Naga seperti kehabisan energi, Ruo melihat keretakan pada Zirah naganya.


"Hentikan,,, perbuatanmu Patriak Furen"


whuuuusssss...........


Doooooooommmmmmmmm.......


Tangan emas raksasa,menghentak Penjara Alam Patriak Furen, hingga hancur.


Duuuuuaaaarrrrr..... Boooommmmm


Zirah Naga Ruo hancur,oleh benturan kekuatan energi yang menumpuk pada kekuatan energinya.


Ruo mematung,dengan posisi bersimpuh tak bergerak,,, tubuhnya di penuhi luka bakar,wajahnya hampir tak di kenali lagi,Darah mengalir dari setiap pori pori tubuhnya.


tanah yang semula tertutup salju, kini menjadi tanah gersang dan terbakar.


slaaaappppp.......


Tombak yang menancap di perut Ruo di tarik dengan energi oleh Patriak Furen.


"Geeeuuukkkkk" Ruo mengalirkan darah dari mulut tanpa suara teriakan saat tombak itu tercabut.


"Pak Tua Shou,, ada apa kau datang kemari.. " ucap Patriak Furen pada sosok yang menghancurkan Jurus Penjara Alamnya.


"Furen,,,,,kau bertanya seperti itu, seakan kau tak menyadari akibat dari pertarungan mu" ucap Patriak Shou, lalu dia melirik ke arah Ruo, yang keadaanya sangat mengenaskan.


wuuussss..... wuuussss.... wuusss...


Rombongan tetua Patriak Furen datang bergabung, dengan membawa A Nara bersama mereka.

__ADS_1


"lepaskan aku,,,, bajingan..... lepaskan aku" teriak A Nara yang mencoba melepaskan diri dari sekapan salah satu tetua, lalu matanya berkeliling melihat kehancuran sejauh matanya memandang.


Degggghhhhhhh.........


A Nara langsung membisu, saat matanya mengarah kebawah pada sosok yang Ruo yang tubuhnya bisa di katakan gosong.


"Ge.............. " air matan Nara menetes deras,salah satu tanganya menutup mulut,dadanya tersa sangat sesak.


"Ge........ " Nafas Nara naik turun, bahkan untuk memanggil Ruo pun Nara kesusahan.


"hiks... hiks.. hiks...... "


"Ge............. "


"aaaaaaaaaaaaa............. "


A Nara berteriak sangat lantang, dia tak kuat lagi menahan emosi melihat keadaan Ruo.


Dalam sekejap,,,,Kulit sekujur tubuh A Nara meledak,menciptakan pendaran energi menyilaukan mata yang sangat besar,,,, ledakan dari A Nara membunuh seluruh tetua di bawah ranah Dewa Agung.


Menyisakan Patriak Mung, Lun, Furen, Shou dan Yei Xie.


Itupun,,, mereka harus mengalami luka luka yang lumayan parah.


Blaaaaaaarrrrrrr.............


Riak cahaya melingkup seluruh daratan benua selatan,,, Milyaran orang menutup mata mereka karena silau terkena pendaran cahaya dari ledakkan Tubuh A Nara.


zzzeeeeeeeepppppppppp..............


Gumpalan cahaya yang berpusat pada tubuh A Nara, membentuk sosok bening seperti Kristal,dan tembus pandang.


Rambut beningnya memanjang sampai ujung kaki,sosok itu adalah bentuk dari energi ras Abadi.

__ADS_1


"Perempuan itu,ternyata dari ras suci manusia abadi" gumam Furen.


A Nara yang dalam mode manusia abadinya menatap Furen, lalu mengarahkan telunjuknya.


Chiiiiuuuuuu............


Booooommmmmmmm.........


Furen,,,,,, Kultivator Dewa Agung,meledak oleh telunjuk A Nara dalam mode manusia abadinya.


A Nara kemudian menatap lainya,.


chiuuuu.......


bommmm..... booommm..


Patriak Mung dan patriak Lun,,harus menerima nasib yang sama dengan patriak Furen.


A Nara, tak menganggap Patriak Shou dan Yei xie,, dia memutar wajah ke bawah melihat sosok yang masih tak bergerak.


A Nara,, menghampiri Ruo perlahan...


tes.... tes.....


Air mata beningnya menetes ke tanah,,,,dan secara ajaib tanah yang terkena tetesan air mata A Nara berubah menjadi cristal.


"Greeepppppp..... " Anara memeluk tubuh gosong Ruo.


"Ge,,,,,, " ucap A Nara pelan di telinga Ruo.


A Nara tak melanjutkan ucapanya,,, dia hanya memeluk Tubuh gosong Ruo dan mencoba menenangkan diri dan hatinya..........


........................

__ADS_1


__ADS_2