Panggilan Takdir Sang Kultivator Semesta

Panggilan Takdir Sang Kultivator Semesta
Batu Bintang


__ADS_3

Seminggu stelah pertemuan aliansi Zurhen.


"Lapor senior,,, di depan gerbang sekte ada 5 orang yang ingin menemui senior" We Tiau sang penjaga gerbang sekte Lembah Angin, menghadap Ruo.


"kenapa mereka tak langsung di izinkan masuk,,, bukankah sekte ini terbuka untuk siapapun" tanya Ruo pada We Tiau


"saya sudah meminta mereka untuk masuk, namun mereka memilih menunggu senior di luar, dan mereka juga tak memberi alasan" jelas We Tiau


"ya sudah,, saudar We pergilah kembali dulu, aku akan menyusul" pinta Ruo,


"Saudara Qian dan semua,,, aku permisi sebentar" ucap Ruo pamit pada par asaudaranya, lalu pergi menemui 5 orang tamunya.


"ahhhh..... ternyata anda senior " Ruo terlihat sangat senang, melihat tamu yang datang berkunjung, yang ternyata Yao Wendhi


"Salam para senior,, mari,,,, kita cari tempat untuk sekedar duduk" ajak Ruo, dan di ikuti kelima tamunya..


"junior merasa senang, mendapat kunjungan senior, di sekte Lembah Angin Ini" tutur Ruo


"Bocah,,, kunjunganku kemari, ingin mengenalkan tiga saudaraku, dan ketiganya adalah penguasa hutan kematian di tiga penjuru" ucap Yao Wendhi


"Dan, untuk senior yang satu ini, akupun baru bertemu tadi di luar gerbang... "


"salam junior,,, namaku Yao Yien"


"salam junior,,, aku Yao Tutung"


"salam junior,, aku Yao nying"


tiga penguasa hutan kematian memperkenalkan diri pada Ruo.


"salam senior,,, aku Jiang Ruo"


Ruo memyambut salam perkenalan itu,.


"eee.... dan siapakah senior ini"


Ruo bertanya pada satu orang lagi yang hanya diam dari awal.


"salam junior,,, Orang tua ini Samo Chun" Chun mengenalkan diri.


"emmmm,,,, maaf senior, sepertinya kita pernah bertemu, tapi dimana" ucap Ruo pelan, dan Empat Yao melihat ke arah Samo Chun.


"ah,,,,, itu,,,, junior yang waktu itu membeli sekarung batu, waktu di ibukota Kekaisaran Jiang" Samo membantu ingatan Ruo.


"yaa.. ya... ya..... benar, maaf atas kelupaan junior"


"tak apa" ucap Samo singkat.


"dan kalau boleh, saya ingin mendengarkan keperluan senior berlunjung ke sekte Lembah angin ini" Ruo mulai menanyakan keperluan kelimanya.

__ADS_1


"Bocah,,, kepentingan ku, hanya mempertemukan saudara Yao dengan mu, sekaligus menyatakan bergabung dalam rencanamu itu,,, untuk kepentingan lainya itu bukan urusanku" Yao Wendhi, yang memiliki karakter mirip Ruo, tak suka basa basi, langsung mengatakan kepentinganya,.


"Junior mewakili seluruh penguasa daratan Zurhen mengucapkan terakasih atas kesediaan para senior bergabung dalam aliansi Zhuren ini" Ruo menangkupkan tangan.


"Tak apa junior Ruo,, kami juga merasa bahwa dengan kamu memberi informasi dan mengajak kami bergabung dalam aliansi,kamu dan semua penghuni wilayah mengakui kami sebagai bagian dari wilayah ini,,,, "


ucap Yao Tutung


"Lagipula, informasi yang kau sampaikan melalui saudara Yao Wendhi menarik minat kami kembali, setelah kami tau ttg masih adanya ras kami di benua sana" kali ini Yao Yien yang berkata.


"ya.... dan kami sudah siap dengan rencana kami serta penempatan pasukan dan segala hal,kalupun perkiraan invasi itu datang lebih cepat, maka kami yang akan berada di barisan depan sementara aliansi Zurhen bersiap" Yao nying menyampaikan.


sementara di samping mereka, sosok Samo chen sudah berkeringat dingin, setelah tau bahwa empat orang di samnginya adalah penguasa hutan kematian, bahkan dari empat penjuru.


meski Samo dari selatan, tapi dia sangat tau, ttg hutan kematian wilayah barat seperti apa.


"emmmm..... dan untuk senior Chun sendiri, " Ruo kini beralih pada Samo Chun.


"eee... anu... aissss... maaf" Samo yang belum tenang dan masih gemetar, sekuat mental dia menenangkan diri.


"begini junior Ruo,,, aku sudah mendengar ttg aliansi dan tujuan di bentuknya aliansi tersebut" Samo mengawali.


"sebagai warga, aku ingin terlibat dan mengambil sedikit bagian untuk membantu... aku mau menawarkan sekaligus memberikan tambang batu yang junior beli waktu itu, jika memang bisa di manfaatkan untuk keperluan mendatang" Samo Chun menyampaikan keinginannya.


"Senior,,,, apa senior serius" Ruo terlihat semangat dengan apa yang di tawarkan Samo Chun.


"emmm... " Samo Chun mengangguk mantap.


"Silahkan Junior yang menentukan, kalau mau,,,,sekarang pun bisa" Chun mengusulkan.


"Baik,,,, semua senior, junior permisi sebentar" Ruo meninggalkan para tamunya untu menemui patriak dan para saudaranya.


Ruo sedikit memberi informasi ttg semua sosok tamunya, dan juga memyampaikan ttg tawaran dari Samo Chun dengan memberi sedikit penjelasan mengenai kegunaan batu batu yang di tawarkan.


Baik patriak, tetua dan enam saudara yang lain merasa sangat antusias atas kerjasama yang di bangun Ruo dengan Yao serta atas tawaran dari Samo Chun, mereka semua bergegas menemui para tamu Ruo, dan saling mengenalkan diri.


"emmm..... Bocah,bagaimana kalau kami berempat ikut bersama kalian dan saudara Chun ini" Yao Wendi menawarkan diri.Ruo lalu menatap Samo Chun meminta persetujuan.


"ah... tentu tuan.... tentu anda dan yang lain sebaiknya sekalian ikut " ajak Samo Chun, dan akhirnya rombongan pergi mengikuti Samo Chun.


Rombongan Ruo, sampai di suatu tempat yang tak jauh dari gunung merapi, yang berada di perbatasan wilayah barat dan selatan, dan memang tempat itu sebelumnya belum pernah terjamah, hingga Samo Chun seorang yang memgeksplor tempat trsb.


"Saudara Chun,,, bukankah ini wilayah Lidah Api" tanya Yao Yien pada Samo Chun


"benar Nona Yien,,, ini memang wilayah lidah api, wilayah yang tak di akui oleh penguasa barat dan selatan" tutur Samo Chun.


"mari,,,, sebentar lagi kita sampai di pertambangan" Samo kembali mengajak rombongan untuk mengikutinya.


"Inilah tambang itu,,, " Samo menunjukkan satu lubang gua yng cukup besar, merekapun memasuki gua itu dan menelusurinya.

__ADS_1


selesai memeriksa gua tambang, rombongan kembali keluar.


"bagaimana junior Ruo" tanya Samo pada Ruo.


"emmm.... di dalam tambang memang sangat banyak batu baja hitam, dan sedikit batu meteor, namun untuk batu bintang dan batu pelangi aku tak melihat adanya dua batu itu" ucap Ruo.


"saya tak mengerti mana batu bintang dan mana batu pelangi, junior" tukas Samo.


whussssss....


Ruo mengeluarkan dua contoh batu dri cincin ruangnya... lalu menjelaskan kedua batu itu pada semua orang.


"Junior,,, kalo untuk batu pelangi, memang di tambang ini tidak ada, karna aku menemukan batu batu itu, di berbagai tempat,di sepanjang perjalanan saya" Chun menjelaskan ttg kenapa dia bisa memiliki batu pelangi.


"tapi, untuk batu bintang,,,, ada satu batu raksasa yang tekatur batunya sangat mirip, namun lokasinya berada tepat di tengah lidah api junior"


"Deggghhhh"


semua orang merasa kaget, karna salah satu batu yang di perlukan Ruo ada di tengah lidah apai, yang artinya berada di tengah kawah gunung merapi.


namun Ruo berpikir tenang dan mencari cari cara.


"emmmm,,,, baik, aku punya sebuah ide... tunggu sebentar"


whuuuzzzzzzzzzzzzz


Ruo tak menjelaskan makaudnya, dia langsung melesat terbang meninggalkan rombongan,menuju kawah gunung merapi sekaligus memeriksa batu bintang yang di katakan Samo Chun.


"Beb... besar sekali" Mulut Ruo menganga lebar, melihat ukuran batu bintang yang terendam dalam lava panas merapi, dia lalu mengeluarkan tongkat emas pendek dan melemparkanya kedalam lava.


"berubah.... " ucap Ruo


crakkk,,, buuuzzzzzz.... bllaaaaaarrrr


Tongkat merubah diri menjadi Zirah, tujuan Ruo adalah untuk menguji apa yang ada di pikiranya.


"pusaka Zirah naga ini benar benar luar biasa" gumam Ruo lalu menarik kembali zirah naganya yang beberapa saat dia rendam di dalam lahar merapi.


Ruo kembali ke tempat rombongan...


"patriak, saudara dan para senior Yao,,,, benar kata senior Chun, batu raksasa itu memiliki ukuran yang sangat besar, hampir seluas gunung itu sendiri... " tutur Ruo


"lalu apa rencana mu saudara" tanya Qian.


"aku tidak bisa mengangkatnya sendiri, kalaupun harus ku potong dengan pedang pembelah langit, maka dampak ledakanya akan membuat bencana, karna batu itu mungkin sudah ribuan tahun terendam di dalam kawah, jadi bisa di bayangkan seperti apa daya ledakanya" Ruo menjelaskan.


"Duri landak baja juga takkan mampu mengebor batu raksasa itu" lanjut Ruo


"senior, dan lainya... bila ada yang memiliki ide, mohon sampaikan"

__ADS_1


pinta Ruo pada semua orang untuk menyampaikan pendapat.


__ADS_2