
Tiga bulan setelah pertempuran, semua tatanan di seluruh wilayah daratan di perbaharui,dari tingkat Kekaisaran, kerajaan, sekte ataupun bangsawan.,, agar tidak ada gejolak internal di seluruh wilayah.
Aliansi Zurhen pun sudah di bekukan, di ganti dengan kerjasama saling menguntungkan,ke amanan tiap wilayah di fungsikan seperti semula.
Ruo cs, telah memilih jalan masing-masing,pasukan kusus bentukan Ruo resmi begabung dengan sekte lembah angin sebagai pengganti kekuatan Ruo cs.
Ke empat Yao memimpin semua pasukanya meninggalkan daratan Zurhen, untuk mencari rasnya di benua Zen.
Liu fei dan ibunya di jemput oleh jendral wei setelah mendapat informasi dari Ruo, kini dengan adanya Liu Fei dan Fei Yun,,,Kekaisaran Jiang memiliki seorang Ratu, dan mengambil alih tahta kaisar.
sedangkan Ruo lebih memilih kembali pulang ke kediaman pamanya, yaitu paman Guo.
"Ruo'er,,, apa kau tidak bosan berlatih"
paman Guo, seperti protes dengan ksibukan Ruo yang hanya berlati sepanjang waktu, kecuali waktu istirahat.
"tidak paman, aku hanya mengasah saja agar tidak lupa" jawab Ruo.
"ya sudah,,, yang terpenting jangan memaksakan diri"
ucap paman Guo.
Ruo sendiri hanya akan pulang ketika hari menjelang petang, hanya untuk istirahat, dan ketika pagi hari Ruo akan berada di gua air terjun tempat biasa dia berlatih.... hari harinya, di sibukkan dengan ber eksperimen membuat berbagai pil dari bermacam tingkatan. Meski dia sendiri sama sekali tak tau tingkatan pil buatanya, dan berada pada tingkat apa ke ahlian alkemisnya begitu juga dgn keahlian formasinya.
selain membuat pil, semua ke ahlian Ruo selalu di latih,baik dari beladiri, kekuatan spirit, ke ahlian Formasi, dan menyempurnakan semua jurus jurusnya.
sesekali, dia meneliti Zirah naganya yang sampai saat ini pun Ruo masih di buat penasaran oleh Zirah tersebut.
Ruo selalu mengira ngira ttg bahan apa yang di gunakan untuk pembuatan Zirah trsbt.
"Paman,, menurut pendapat paman, seperti apa benua Zen itu" tanya Ruo pada paman Guo, di sela keduanya berada di bale depan kediaman mereka.
"hehhhhh" Guo membuang nafas, dan seperti paham,, arah dari pembicaraan Ruo.
"Setelah pertempuran yang lalu, paman berfikir,,, di sana,penuh dengan orang orang kejam, dan tak peduli pada ikatan apapun"
"Sebaiknya, pikirkan kembali ke inginanmu itu Ru'er" ucap paman Guo
"ya paman, tentu aku memikirkanya dengan matang matang,,, namun seperti memang aku harus berkunjung kesana,,,, "
"dulu,,, waktu membentuk aliansi Zurhen, aku berpikir akan bisa bertemu atau sekedar melihat ayah, nyatanya tidak... dan Ruo berfikir setelah itu, tentang dua kemungkinan,,,, kalao ayah tidak berada di daratan ini,,, atau..... " Ruo menghentikan ucapanya dan menundukan wajahnya.
__ADS_1
"perkiraan mu memang masuk akal, Ruo'er..... namun apakah kau benar benar sudah siap"
"Ruo yakin Ruo sudah siap paman" tegas Ruo
"lalu,,,, bagaimana ttg Liu Fei, yang kau ceritakan itu... paman sebenarnya ingin bertemu dan melihat gadis kecilmu itu"
goda paman Guo.
"Aku serahkan urusan itu pada langit, paman" Ruo berkata enteng.
"yaahh.... bagaimanapun, semua kembali padamu, lagi pula kamu masih sangat muda Ruo'er" paman Guo pasrah dengan keputusan Ruo
"dan kapan kamu akan kembali bertualang"
"kemungkinan dalam seminggu kedepan, paman"
"apa ada yang bisa paman persiapkan untuk mu Ruo'er"
"terimakasih paman,,,, tapi Ruo'er sudah cukup"
"lantas,,, ttg sahabat sahabatmu, apa ada dari mereka yang akan ikut bertualang denganmu"
"Jika itu keputusanmu,maka pintar pintarlah bergaul setelah kau berada di tempat tujuan mu,,, ingat Ruo'er, di sana sudah tentu berbeda dari wilayah Zurhen ini, baik lingkungan maupun orang orangnya"
"sebisa mungkin, jadilah tamu yang baik, agar tuan rumah segan padamu"
"Paman merasa, petualanganmu kali ini, akan berbeda dari sebelumnya" ucap paman mengingatkan Ruo.
"ya, paman Ruo'er akan mengingatnya"
keduanya lalu memilih melakukan kegiatan masing masing.
Ruo yang setelah pembicaraan itu, kembali ke gua air terjun, kali ini... dia akan menghabiskan sisa waktunya untuk mempersiapkan semua hal yang di perlukan.
Waktu yang sudah di tentukan Ruo akhirnya tiba,sebelum memulai perjalanan, Ruo melakukan peradatan pada paman Guo, untuk meminta restu.
"Jaga dirimu Ruo'er" paman Guo menepuk pundak Ruo sebagai bentuk memberi semangat pada Ruo.
"emm..... aku akan menjaga diri dengan baik paman,, paman pun harus menjaga diri paman, tunggu Ruo'er dan ayah datang untuk menjemput paman"
kedua pria beda umur itu akhirnya berpisah, Ruo memilih berjalan kaki,sekedar ingin merasakan suasana tempat masa kecilnya.
__ADS_1
"Benu Zen,,,,, aku datang"
gumam Ruo, mendadak sorot matanya menjadi sangat tajam, seprti orang yang di penuhi dengan kebencian,.
Ruo telah jauh dari tempat paman Guo, diapun memilih terbang, melesat cepat le arah selatan.
"aaiiiisssssss,,,,, aku akan sangat merindukan daratan ini"
"terutama kalian,para saudaraku"
Ruo mengingat kembali semua kebersamaan nya dengan ke enam sahabatnya, dari mulai bertemu Wuji, orang pertama yang menjadi temanya di sekte Lembah Angin,, lalu juga mengingat sahabatnya yang lain.
tanpa di sadari, karna larut dalam kenanganya,Ruo sudah berada di atas lautan, dia terus melesat terbang tanpa henti.
"Kabut,,,, inikah pembatas benua Zen itu"
gumam Ruo, yang melihat di depanya hamparan kabut hitam sejauh mata melihat.
"elemen angin,,, pesona Medan angin"
Buzzzz.....
Ruo menyelimuti dirinya dengan elemen angin,bersemilir menyibak pelan kabut hitam itu.
dua jam Ruo berusaha menerobos kabut hitam namun belum terlihat tanda tanda ujung dari batas kabut hitam tersebut.
"pantas saja, untuk menuju benua Zen ternyata tidaklah mudah"
"aisss...... masa iya aku tersesat oleh kabut"
Ruo mencoba tak perduli, dia yakin akan bisa melewati kabut hitam itu.
setelah empat jam,, barulah Ruo melihat samar samar sinar matahari,, Ruo pun mempercepat terbangnya.
wwhhhuuuuusssssssssss........
"haaaaaaaaaaaa" Ruo berteriak lega, telah keluar dari kabut hitam.
"Benua Zeeeeennnnnnn,,,, aku sampai"
Ruo kembali berteriak lantang, setelah merasakan udara benua Zen.
__ADS_1