Panggilan Takdir Sang Kultivator Semesta

Panggilan Takdir Sang Kultivator Semesta
Bertemu Wuji


__ADS_3

"Fei'er,,, aku telah menepati janjiku,sementara Fei'er temani ibu Yun di sini, tunggulah sampai anggota pasukan kusus datang menjemput"


Ruo yg telah memberikan teratai lima warna pada Fei Yun,berpamitan pada keduanya.


"setelah ini, kemana tujuan Gege,,, "


"Aku akan mampir ke wilayah barat, ada sesuatu yang harus segera kukerjakan,,,, Fei'er tentu paham,kita tak bisa menunggu untuk sesuatu yang dapat merusak"


"emm...... Gege berhati hatilah"


"ya, aku akan berhati hati,, "


"Nyonya Yun,,, Fei'er, aku pergi sekarang"


setelah peradatan, Ruo meninggalkan ibu dan putri itu, dan segera melesat terbang ke wilayah barat.


di tengah perjalanan, Ruo menyaksikan pertarungan, yang melibatkan para bandit rampok, serta prajurit pengawal.


"kalian,,,,, behentilah"


ucap Ruo dari udara, lalu mendekat turun.


"senior"


sapa semua pengawal pada Ruo, namun wajah ketakutan terpasang pada setiap bandit rampok.


Ruo memeriksa sekeliling mencari korban pertarungan, untungnya pertarungan itu belum memakan korban.


"kalian,,,,, saya akan tanya satu hal,,," Ruo menatap tajam pada kelompok bandit, namun ada satu orang ngeyel dan sombong yang merasa ingin menantang Ruo


"apa yang akan kau tanyakan, bocah tengik" ucap si ngeyel itu.


"whhuuuuzzzzz,,,, cclleeeeppp"


Bruuggghhhhhh


satu duri landak, melesat dan menjatuhkan yg orang ngeyel tadi,Ruo malas berdebat.


"siapa lagi.... "


tanya Ruo, yang memberi kesempatan para bandit untuk menentangnya.


semua bandit gemetar, melihat salah satu dari mereka ambruk tanpa tau bagaimana Ruo menyerangnya.


"kalau sudah tak ada lagi orang sepertinya, aku akan kembali bertanya"


"bab baik, senior... apa yang ingin kau tanyakan"


"hidup atau mati" ucap tegas Ruo


"Degghhhhh"


semua bandit tambah gemetar,mendengar pertanyaan Ruo.


"Dan kalian,,,,, pergilah dari sini" Ruo menyuruh prajurit pengawal untuk meninggalkan tempat itu, dan segera mereka menuruti perintah Ruo.


"Cepat jawab,,, aku sedang tak ingin berlama lama" bentak Ruo


"Hi... hidup senior,,, kami ingin hidup"

__ADS_1


ucap semua bandit rampok..


"Whheeezzzzzzzz"


dengan cepat, Ruo memasang segel pengikat jiwa pada mereka semuanya.


lalu memberikan cincin ruang pada salah satu dari mereka


"itu adalah biaya, untuk perjalanan kalian..... dan aku tak ingin mendengar sanggahan, pergilah ke wilayah selatan, Di belantara hutan bagian barat, temukan markas anak lembah angin di sana"


Ruo lalu melempar satu lencana pada satu di antara mereka.


"jika mau,,, bawa srta semua anggota kalian yang tersisa, ingat....jika ada yang mencoba merampok,,,, kalian akan sekaligus mati saat itu juga" ancam Ruo


"aku pergi sekarang," tanpa mendengar jawaban apapun, Ruo langsung melesat le udara dan meninggalkan semua bandit.


"saudara,,, bagaimana ini"


"yaahhhh... mau bagaimana, sudah untung kita di biarkan hidup"


"lalu"


"lalu apa,,,,, ya kita bawa istri dan ank anak kita ke tempat yng di sebutkan senior tadi"


"lalu jika ada di antara kita yang tak mau ke tempat itu bagaimana"


"mudah,,,,, tinggal mati saja,,,, gampang kan"


"glleeuukkkkk" menelan ludah


akhirnya,,, mereka semua memilih mengikuti arahan Ruo dan kembali ke markas mereka untuk persiapan ke markas anak lembah angin.


"slamat datang di tempat makan kami tuan muda"


"terimakasih nona"


"mari saya antar ke meja yang masih tersedia" pelayan rumah makan itu mengarahkan Ruo kemejanya, Ruo langsung memesan makanan sebelum mengambil tempat duduknya.


"jadi ini, wilayah kerajaan paman Wu" gumam Ruo, lalu Ruo mangambil satu sumpit, sekedar untuk iseng dan mengetuk ketuk meja untuk menghilangkan jenuh nya.


"Dari apa yang sedang tuan muda lakukan,,, sepertinya tuan muda sedang merasa bosan" tiba tiba, suara wanita mengomentari apa yang sedang Ruo lakukan dan menghampiri meja Ruo.


"Di antara semua pengunjung, ternyata ada seorang penilai yang baik" sahut Ruo.


"tidak.. tidak,,, aku tidak sedang menilai, justru aku ingin tau apa yang membuat tuan muda merasa bosan" jawab wanita asing itu


"tak perlu menyelam, jika nyatanya anda tak mampu berenang" tutur Ruo


"memang,,,, aku tak perlu berenang, tapi cukup hanya menunggu dan membiarkan orang lain yg melakukanya" keduanya saling melempar ungkapan. kemudian wanita asing itu mengambil tempat duduk di tepat berhadapan dgn Ruo


"sayangnya,,, aku bukanlah orang yg mau melakukan itu" tegas Ruo


"aku menyukai karaktermu tuan muda,, "


"Namaku Wu Liang, aku putri bangsawan Wu Meng"


Wu lian mengenalkan diri, namun belum sempat Ruo berucap, pelayan datang membawa pesanan makanan Ruo.


"Aku lapar Nona Wu,,, jika anda tidak keberatan," Ruo acuh, lalu menyantap pesanan makananya tak peduli dengan Wu Lian yg ada di hadapanya.

__ADS_1


"Sikap mu, ku anggap lancang tuan muda" Wu Liang sedikit meninggikan suaranya... beberapa orang yang mengawal Wu Liang langsung menghampiri meja Ruo.


"ada apa Nona Muda" tanya salah satu pengawalnya,sementara Ruo tetap dengan makananya.


Wu Liang benar benar di buat kesal dengan sikap Ruo... namun dia pun tak mau gegabah dengan orang yang ada di hadapanya....


"heeeiiii.... tuan Chun, aku datang membawa Binatang buruan ,,,tuan"


suara teriakan terdengar di luar rumah makan, dan seketika merubah suasana tegang di meja Ruo sedikit teralihkan.... semua pengunjungpun mengarahkan tatapanya pada orang yang berteriak tadi.


"Aissssss...... bocah, bisakah kau tidak berteriak,,,, suaramu mengganggu semua pelanggan ku" protes orang yang di panggil tuan Chun pada pemuda yang berteriak tadi.


"ah.... maaf,,, maaf"


ucap orang yang berteriak itu, lalu mengeluarkan binatang buruanya.


"emmmm....... 600 keping emas" tuan Chun langsung memberi harga pada binatang buruan yang di lihatnya...


"aisssss..... tuan Chun, kau selalu saja menganggap hasil buruanku, sedekah berbayar,,,, apa tidak bisa di lebihkan"


"lihat,,,, binatang sebelah sana itu, masa anda tega" ucap pemuda itu, meminta agar tuan chun menaikkan harga binatang buruanya...


" mau tidak" tanya tuan Chun cepat


"mau.... " ucap spontan pemuda itu.


"nih,,, terimalah" tuan Chun langsung memberikan koin emasnya, dan segera mengambil semua binatang yang sudah di bayarnya.


"aaaiiiiisssssss...... lagi lagi trik pertanyaan cepat" sesal pemuda itu....


lalu berbalik dan hendak meninggalkan rumah makan itu.....


"apa sudah selesai dengan transaksinya, saudara Wu" ucap pelan Ruo namun dengan energi Qi.


"Deggghhhhh"


pemuda itu langsung diam mematung mendengar suara yang menyebut namanya.


"Dia... bukan..... dia.... bukan...... dia.. "


pemuda itu menghitung jari sambil menebak nebak.


wheeeezzzz........


dia melesat ke arah suara,yang menyebut namanya.setelah berada di hadapan Ruo, pemuda itu melihat sosok Ruo dengan teliti.


"Sudahlah Saudara Wuji,,,, ini aku, Ruo"


ucap Ruo sambil berdiri dari kursinya.


"ya aku tau kau saudara Ruo, tapi kenapa kau bersama Nona Wu Liang, apa kau putus dengan Nona Liu Fei"


Wuji, memegang dagunya sperti berpikir, sedangkan Nona Wu Liang yang di libatkan oleh Wuji menunduk malu.


"aaaahhhahahahahhaa"


tiba tiba Wuji tertawa terbahak bahak, membuat Ruo keheranan.


"aaaiiiiissssss..... aku lupa dengan kebiasaan mu" Ruo menyesal menganggap serius sikap Wuji,yang pada akhirnya dia di kerjai.

__ADS_1


sekarang, mereka duduk satu meja dan saling bertanya kabar, dan kondisi.... Ruo merasa senang, karna semua orang terdekatnya baik baik saja.Wu Liang, merasa seperti orang asing di antara keduanya, namun yang membuat Wu Liang, siapakah Wuji ini.... kenapa dia mengenalnya bahkan mengenal seluk beluk keluarganya... padahal Wuji terlihat biasa saja,,,, itupun karna seragam berburunya, Wu Liang tak tau kalau Wuji adalah pangeran dari Kerajaan di mana keluarganya mengabdi.


__ADS_2