
Dengan deretan pertarungan yang sudah di lakoni ke empat Jian,mereka menjadi mengerti bagaimana harus bersikap pada musuh,,, seperti saat ini.
kelima pemuda itu, berhadapan dengan puluhan Ribu musuh, mereka berasal dari berbagai sekte dan bermacam tahap kekuatan.
"saudara,,, kalian telan dan seraplah pil ini" Ruo, memberikan ke empat Jian dua pil masing masing...
"emmm...." ke empatnya mengangguk, dan menerima pil yang di berikan Ruo.
"pil apa ini" ucap ke empat Jian.
"kalian akan tau, ketika sudah dalam medan pertarungan" tutur Ruo, lalu mengarahkan tatapan pada puluhan ribu musuh di depanya.
"apa kalian dari sekte Zi"
"hohohoo..... calon jenazah, bisa berbicara juga ternyata... "
"kenapa,,, apa kalian tak mau menjawab" ucap Ruo
"ya.... kami semua adalah Sekutu sekte Zi,,, Bocah" bentak orang trsbt
"Bagusssss........ kalian semua memiliki alasan yang tepat untuk mati, jadi tak perlu bicara omong kosong"
sllllaaaaappppp.....
Ruo, menerjang pasukan musuh,,,, di ikuti empat Jian.
"hahahaa...... majulah, agar kematianmu lebih cepat boc... "
cleppppppp....
Bruuuukkkkkkkk
belum sempat menyelesaikan ucapanya, musuh itu ambruk, tanpa di sentuh oleh Ruo...
ciiaah.....
trang... trang.... tranggh.....
lima melawan puluhan ribu....
bammmm........
buakkk..... bammmm..... cleppp... cleppp..... Demmmm.....
Ruo dan keempat Jian menerjang puluhan Ribu lawanya... mereka mengambil posisi masing masing.
"hidup atau mati, mereka memiliki nilai yang sama,,, jangan lepaskan satupun"
salah satu musuh berteriak sambil menyerang...
"masih beruntung kami bernilai, sedangkan kalian, takan berarti apapun,,, "
Jian Cok menganggapi...
hiyyaaaa......
trang... trangggg.... trannnggggg.....
Jian Cok membabat musuh musuhnya... entah tangan, dada, leher,kaki... apapun sekenenya.
buaakkk....
__ADS_1
Jian Cok terpental terkena tendangan.
srekkk..... tringgg.... clepppp....
sabetan pedang yang mengarah padanya, ia tangkis.. lalu Jian cok mendorong badannya ke atas dalam posisi memutar, sambil menusukkan pedangnya...
"aaaarrrrggghhhh"
musuh menjerit terkena tusukan pedang Jian Cok,
"jurus pedang angin,,,,, padang badai.... heeyyyaaaa.... "
delapan siluet sabit tercipta saat jian Cok, mengeluarkan jurus nya....
wuuuussssssshhhhh
duuuaaaaarrrrr.... Bommm... boomm
ratusan musuh tewas tak bisa menahan serangan Jian Cok.
Jian Luo, yang berpulu meter jaraknya dari Jian Luo, tak mau kalah.... dia sangat lincah menggunakan ke ahlian pedangnya.....
whissss.... clang... clannngg...
Jian Luo, meloncat kesana kemari, untuk menghindar, bertahan, dan menyerang sekaligus dalam setiap gerakanya, setiap sabetan pedangnya akan sellu ada musuh yang tewas.
"jurus pedang angin.... angin angkara... heeyyyyaaaaa.... "
kembali,,,, energi yang sangat kuat di lepaskan Luo....
chiiuuuuuuu........
demmmmmmm...........
Booommmmmmmmmm
energi itu kemudian meledak.... melempar tubuh dari ratusan musuh.. tak berhenti di situ... Luo langsung menerjang setiap tubuh yang terlempar dan membabat mereka semua...
slaaassahhhhh.... sllaaaassshhhh
sreetttt... sreetttt... sreetttt......
tidak ada ampun bagi musuh musuhnya,,, semua di buat tak bernyawa oleh Luo.
Jian Ning pun demikian,,, dengan jurus tarian pedang angin,, di terlihat begitu anggun, namun sangat mematikan,sekujur tubuhnya di lumuri oleh darah musuh musuhnya,,, tak terlihat lagi, Jian Ning yang cantik... kini Jian Ning lebih pas di katakan dewi kematian yang bermandikan darah....
"ayoooo maju semuaaaaaaaa, keparatttt" teriakan Jian Ning, menggema, dia seperti sedang menyalurkan kebencian dan dendam pada pertarunganya,,,, bahkan musuhnya di buat ngeri ketakutan dengan Jian Ning, bagaimana tidak,,, setelah Jian Ning, berhasil menusuk atau membabat musuh musuhnya, dia akan dengan senang hati memutilasi.
dengan perbuatanya, Jian Ning berhasil menebar rasa takut pada musuhnya...
berbeda dengan Jian wewei, dia bertarung selayaknya, dan tak berlebihan... meski wewei juga berhasil membunuh ratusan musuh musuhnya...
"hahahaaaaa........ mana tawa kalian,,, ayoooo.... tertawalah" ejek Jian Cok yang masih dengan pedang tertenteng di tanganya. serta pakaian yang sudah berwarna merah.
sedangkan Ruo,,, dia seperti bermain main saja, Ruo tak terlalu banyak mengeluarkan tenaga, dia lebih memilih menghabisi musuh musuh dengan duri landak baja angin,,, setelah melawan musuh yang menggunakan gada besar.
dalam lima jam,,, semua musuh berhasil di tumpas habis.... kelimanya berdiri di tempat masing masing sambil menggengam erat pedang mereka, serta melihat ribuan mayat di sekelilingnya....
"haaaaaaaaaa....... " Jian Cok, berteriak lantang, membuat yang lain mengarahkan tatapan padanya.
"akhirnya aku bertarung sebagai seorang kultivator sejati" Jian Cok kembali berteriak....
__ADS_1
"saudara Ruo,,, aku memutuskan, mulai saat ini, aku akan menjadi bagian dari senjatamu" Jian Cok, menatap tegas pada Ruo.
"emmm... " Ruo hanya mengangguk
"aissss..... aku juga tak mau ketinggalan saudara... aku pastikan, aku akan berdiri sejajar dengan kalian"
"ya... aku juga"
"hitung aku juga"
ketiga Jian lainya pun setuju dengan ucapan Jian Cok, untuk berdiri sejajar dengan Ruo.
"itu kita urus nanti,,, sekarang mari kita lanjutkan" ajak Ruo, mereka pun saling mendekat dan berkumpul.
"eh...yang mana saudari Ning" tanya Ruo, yang tak mengenali dua wanita penuh dengan darah melumuri sekujur tubuhnya...
"senior.... " ucap pelan Jian Ning, sambil menunjuk dirinya sendiri...
"ee... maaf saudari Ning, " Ruo merasa bersalah, pada Jian Ning
"emmm.... sepertinya kita harus membersihkan diri dulu,,," usul Jian Ning
"yaaa.... jangan menunggu kering, mari kita cari sungai" ajak Jian Luo
kelimanya lalu mencari sungai, dan membersihkan diri di sana.
selesai membersikan diri mereka melanjutkan menuju wilayah Ning, sepanjang perjalanan mereka menjadi akrab, hingga Ruo merasa bahwa ke empat Jian seprti para saudaranya di daratan Zhuren...
"suadara Cok,,, melihat sikapmu dan caramu membuat lelucon, aku teringat pada salah satu sahabatku,, di daratan Zurhen"
"oh,,, benarkah"
"ya... namanya Wuji" ucap Ruo, lalu menceritakan sosok Wuji pada ke empat Jian, yang membuat mereka sangat terhibur dan tak berhenti ketawa, tiap Kali Ruo menceritakan kekonyolanya.
"saudara,,, aku jadi iri dengan persahabatan kalian" ucap Jian Luo.
"yaaa... mau bagaimana, kami tumbuh dan berlatih bersama, di satu sekte yang muridnya saja kurang dari seratus orang,,,, sedangkan kalian, empat di antara 70jutaan murid,,, tentu karna persaingan yang membuat kalian tidak begitu akrab dengan yang lain" tutur Ruo, yang membandingkan perbedaan di antara mereka.
"memang benar,,, persaingan murid, menjadikan kita seperti orang lain saudara, untungnya.... semua itu dapat di kendalikan oleh aturan sekte,,, jika tidak, barang kali kita akan memiliki arogansi yang sama dengan sekte Zi, "
jelas Jian Luo.
"Senior,,, kita sudah memasuki wilayah Ning" ucap Jian Ning, yang memotong obrolan lainya.
mereka terbang pelan,mengikuti Jian Ning, yang sebenarnya sudah di penuhi amarah dan kebencian.... Ruo mengerti sikap yang di tunjukan Jian Ning, lalu dia berbisik pada yang lain.
"saudari Ning,,, jika kebencian dan amarahmu, ingin kau tuntaskan.... maka kami bersamamu" ucap Jian Luo, yang sebelumnya mendengar Ruo berbisik padanya.
Jian Ning, memutar badan,,, dan memperlihatkan wajah sudah di aliri air mata.
"ya,,, aku sangat ingin menuntaskan semua dendam yang mereka tanamkan padaku" Jian Ning menatap tegas pada Ruo dan ketiganya.
"entah nyawa ayah ibuku, entah nyawa kedua saudari ku, entah nyawa sepupu, paman, bibi, dan yang lainya,,,, aku sangat ingin menuntaskan semuanya" lanjut Jian Ning, dengan suara bergetar menahan tangis, meski mata sudah mengalirkan airnya..
"kalau begitu, saudari tak perlu menunggu nanti,,,, saat ini,kita kesana dan menghancurkan mereka" ucap Jian Cok, yang kembali bersemangat.
"emmm.... " Ruo mengangguk
"baik,,,, lagi pula, aku hidup, aku berlatih,aku mendapat kekuatan hanya karna menunggu saat ini,,, "
whuuuuussssssss............
__ADS_1
kelimanya melesat, dengan kecepatan tinggi,dengan semangat dan dendam di hati Jian Ning.