
"Haissss..... Syukurlah semuanya baik baik saja" ucap Ruo yang merasa lega, setibanya dia di sekte Lembah Angin Semesta.
Matanya berkeliling, memeriksa seluruh wilayah sekte, dan tatapanya berhenti pada satu titik, di palataran depan gedung utama sekte.
Debbbbbbbb.......
Dalam sekejap mata, Ruo berdiri di hadapan kelima pemuda yang masih dalam kondisi babak belur, dengan satu wanita muda yang kehilangan tangan kanananya.
Melihat sosok pemuda yang memiliki wajah sama persis dengan wajah yang ada pada lukisan.
Kelima pemuda itu termangu, mulutnya terbuka,, kelimanya tak menyangka bahwa Ruo benar benar masih sangat muda dan tampan.
Terlebih bagi Hua dan Yui, mata keduanya tak mau beralih dari wajah Ruo yang memang sangat tampan.
"Jiang Ruo... " Ucap Hua pelan, namun Ruo dapat mendengar Hua menyebut namanya dan menoleh ke arah gadis itu.
"Emmm..... Siapa kalian" Ruo bertanya dengan suara pelan.
"Mereka berlima adalah orang yang mencari mu saudara" Dari jarak lumayan Jauh, Wuji menyahuti Ruo.
"Mencariku??? " Ruo merasa heran dengan jawaban Wuji.
"Kau tanyakan saja langsung pada mereka" Lanjut Wuji, lalu kembali meninggalkan Ruo bersama kelima tawananya.
Sejurus kemudian, Ruo melepaskan tali formasi yang mengikat kelimanya.
"Jika benar kalian mencariku, katakan!!! Siapa kalian" Tegas Ruo, setelah mereka membenarkan sikap.
"Dan Nona,,, telanlah pil ini!! " Ruo melemparkan botol guci kecil pada Hua.,, dan hal itu membuat Hua merasa heran dengan sikap Ruo, yang sejatinya... Mereka merupakan tawananya.
"Perkenalkan,, aku Jun, ini Lian, Shin, Yui dan yang kehilangan tanganya itu adalah Hua"
"Aku Jiang Ruo"mereka saling memperkenalkan diri.
" Dan,, apa yang membuat kalian di perlakukan seperti ini oleh saudara saudaraku? "
Mendapat pertanyaan dari Ruo, kelimanya menunduk malu,karna mereka menyadari kekeliruan sikap mereka.
"Haisss..... Lain kali, berlaku lah sebagaimana tuan rumah berlaku!! " Ruo sedikit paham dengan apa yang menyebabkan mereka babak belur.
"Ah.... Selalu saja kau barsikap baik sauadara" Wuji menyela perbincangan Ruo.
"Lalu,, kenapa saudara Wu tak langsung membunuh mereka?? " Timpal Ruo pada Wuji.
__ADS_1
"Aaa... Itu... Itu... " Lidah Wuji tercekat menjawab Ruo.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? " Wuji membentak Hua dan lainya,yang menatapnya.
"Sudahlah!!! saudara Wu,, apa saudara yang membuat Nona Hua kehilangan tangan kananya? " Ruo melihat luka sayatan yang sangat rapih, dan dia menebak,,, itu hasil dari tebasan cakram Guang milik Wuji.
"Heheee..... Kalau itu, memang aku yang melakukanya" Wuji tak mengelak, dia mengakui perbuatanya.
Mendengar pengakuan Wuji yang sangat enteng, Hua memasang wajah masam, namun tak berani memperlihatkan wajah secara langsung.
"Kalau begitu,, tugas saudara adalah membantu Nona Hua menyerap pil pengembalian tubuh,, sementara yang lain ikut dengan ku... Nona Hua,, ikutlah dengan saudara Wu" Ucap Ruo pada Hua
Wuji yang mendapat tugas mengobati Hua,,hanya diam dan melirik pada wanita itu.
"Tau begini,,, lebih baik aku langsung membunuhmu tadi,,,,,ikut aku!!!" Wuji menggerutu,,, sementara Hua terkejut dengan ucapan Wuji dan sejenak mematung.
"Kenapa diam berdiri saja??? Apa kau selamanya ingin kehilangan tanganmu itu? " Wuji yang malas kembali meneriaki Hua.
"Ah.. i. i... Iya senior,,, mari" Hua tergagap menimpali ucapan Wuji.
*
*
"Benar benar pemuda yang luar biasa" ucapan itu berasal dari patriak Wong di alam dewa tingkat satu.
Kecuali, jika kelima muridnya memutus sementara untuk hal hal tertentu, energi khusus yang tersambung dengan proyeksi visualpun akan terputus.
"Tetua Jia,,, beruntung, kelima murid mu di perlakukan dengan layak"
"Ya,, anda benar patriak, kelima muridku sangat beruntung,, karna pemuda itu sama sekali tak berniat melukai mereka" Tetua Jia Yi, merasa lega dan sangat senang, setelah mengalami kekhawatiran akibat kelima muridnya di tawan oleh orang orang Ruo.
Namun,,, setelah melihat langsung bagaimana Ruo bersikap, Tetua Jia Yi yang di kenal sebagai wanita sekaligus tetua sekte tercantik itu merasa yakin, bahwa kelima muridnya akan baik baik saja.
*
*
Sehari kemudian, di halaman kediaman Ruo,dia meminta kelima tawanan yang kini menjadi tamu itu menemuinya di kediamanya langsung.
"Bagaimana keadaan kalian" Ruo menuangkan teh kedalam enam gelas sekaligus menanyakan keadaan kelima tamunya.
"Terimakasih untuk semua kebaikan senior pada kami,, dan seperti yang senior lihat!! kami dalam keadaan baik, begitupun dengan saudari Hua yang tanganya sudah kembali lengkap" Jun mewakili semua temanya,mengucapkan rasa terimakasih mereka.
__ADS_1
Ruo menatap singkat kelima tamunya dan melempar senyum lembut mendengar ucapan Jun... hanya saja,Ruo tak tau kalau senyumnya berhasil menusuk Hati Hua sampai relung terdalam.
"Tak perlu sungkan,,, duduklah!!! dan nikmati tehnya" pinta Ruo,yang selanjutnya di turuti oleh kelima tamu dari alam dewa trsebut.
"Buat diri kalian nyaman!!! lalu ceritakan maksud kalian datang dari alam jauh hanya sekedar mencariku!! " Wibawa Ruo sebagai tuan Rumah, benar benar membuat kagum Jun, Lian, Shin, Yui dan Hua.
Mereka yang datang dengan kesombongan, justru mendapat perlakuan luar biasa dari sosok yang menjadi tujuan mereka.
Sekalipun,, mereka tak pernah mendapat rasa hormat seperti yang di lakukan oleh Ruo selama mereka berada di sekte mereka.
Pada akhirnya,,, sosok pemuda di hadapan mereka itu, layak mendapatkan kekaguman dan penghormatan mereka,, setidaknya, hal itu yang ada di benak mereka.
Terlebih lagi dengan Hua,,, Ruo dengan mudahnya memberikan pil yang dapat mengembalikan tanganya yang buntung, yang hal itu,,,takan Hua temukan pada sosok manapun di alam dewa tempatnya.
"Senior,, kami berlima dari alam dewa tingkat satu,, tepatnya kami adalah murid dari salah satu sekte yang ada di sana" Lian membuka pembicaraan dan menyampaikan maksud mereka datang ke alam Langit menemui Ruo.
"Untuk maksud dan tujuan,, kami pun tak mengetahui dengan pasti, karna kami hanya di tugaskan untuk menemui senior dan menyerahkan lencana ini sebagai undangan" tutur Lian melanjutkan, lalu memberikan satu lencana berwarna emas pada Ruo.
Ruo menerima lencana emas itu,memandanginya sesaat lalu tersenyum.
"Kalian dari sekte cahaya dewa rupanya" cletuk Ruo.
"Babbb.... bagaiman senior tau kalau kami dari sekte cahaya dewa? " Jun tersentak kaget, mendengar ucapan Ruo yang ternyata mengenali sekte mereka,, karna menurut informasi yang mereka dengar,,, tak ada satu orangpun di alam ini yang mengetahui tentang sekte sekte yang berada di alam dewa,baik alam dewa tingkat satu, dua apalagi tingkta tiga.
Maka wajar, jika Kelima pemuda itu terkejut dengan Ruo yang mengenali sekte mereka hanya dari melihat sebuah lencana.
Ruo pun tentu sama sekali tak mengetahui satupun sekte yang berada di alam dewa.
Hanya saja, Huo Eng dari dalam alam jiwanya yang memberi tau nama sekte yang lencana nya Ruo Terima.
"Kalian tak perlu terkejut dan berlebihan!! lalu,,, setelah bertemu dengan ku,,, apa yang akan kalian lakukan?? "tanya Ruo.
" Jika boleh jujur, kalaupun senior menerima undangan dari sekte kami, maka kami ingin senior bersama kami sekalian kami kembali?!" Shin yang kali ini menyampaikan ke inginanya.
"Kalau kalian mau tinggal selama sebulan kedepan di sekte ini,,, maka aku akan mempertimbangkan untuk ikut sekalian bersama kalian!!! "ucap Ruo tanpa keraguan.
Jun, Lian, Shin, Yui dan Hua saling pandang,,, seperti saling melempar pertimbangan ttg ucapan Ruo.
Tak lama, kelimanya pun mengangguk.
" Jika tak merepotkan senior,,, kami memutuskan tinggal selama sebulan kedepan di sekte ini"Jun berdiri sambil mengepalkan tinjunya bersikap sopan.
"Kalau kalian sudah memutuskan,, maka jangan pernah sungkan!!!! sekarang, temuilah Saudara Wuji,,, dan perkenalkan diri kalian pada tetua dan saudara saudaraku yang lain,,,untuk Nona Hua!!! mohon jangan pernah menganggap serius ucapan saudara Wuji, kalau tak mau merasa bodoh!!! aku pamit mundur sekarang" Ruo mengakhiri obrolanya,dan berlalu meninggalkan Lima tamunya.
__ADS_1
"Benar benar pemuda yang sangat luar biasa" Jun merasa salut dan sangat kagum pada Ruo, begitupun dengan empat sahabatnya yang lain.
...................................