Panggilan Takdir Sang Kultivator Semesta

Panggilan Takdir Sang Kultivator Semesta
Dewi Langit


__ADS_3

Fajar, baru saja hendak menyingkap gelap. namun,,,, langit benua Zen sudah begitu riuh dengan pekikan suara dari jutaan burung raksasa,hari ini... adalah hari dimana telah di tentukanya pertempuran yang melibatkan ratusan juta anggota dari berbagai sekte di benua Zen.


Jutaan Burung raksasa itu menuju ke satu tempat,,, Pulau Naga.Pulau kecil bagi benua Zen, namun luasnya melebihi daratan Zurhen.


Ruo dan tiga Jian, berada di salah satu burung raksasa itu, berbaur dengan ribuan anggota sekte pedang angin.


"saudara,,, kenapa dari tadi kau diam saja" Jian Luo merasa heran dengan sikap Ruo yang tak seperti biasanya.


"tak apa apa, saudara... aku hanya baru pertama kali, menaiki burung sebesar ini, jadi aku membiasakan diri"


Ruo beralasan, namun sebenarnya... dia sedang memikirkan seseorang, yang dari dua bulan lalu tidak Ruo lihat.


Jian luo, yang mendengar alasan Ruo,,, kembali bersikap biasa.


"kkiiiiyyyyaaaaaakkkkkkkk"


burung raksasa yang di naiki rombongan Ruo memekik, dan melesat turun ke daratan Pulau Naga.


"Bentuk barisan,,,,, formasi siaga" lantang seseorang yang mengatur semua pasukan, dia adalah Hei Peng,,,, Patriak sekte paku bumi, yang di tunjuk sebagai jendral satu untuk mengatur semua pasukan, Jendral kedua di pegang oleh Chang Qem,,, patriak sekte semut api, jendral ketiga Shu zu, Matriak sekte mawar hitam, dan masih banyak lagi.


Sekte pedang angin sendiri mendapat dukungan dari puluhan sekte lainya....


pada akhirnya, Sekte pedang angin memiliki 470juta pasukan, sedangkan sekte Zi beranggotakan 250jt.


kedua belah pihak kini berhadapan dalam jarak lima kilometer,,, namun, jika di lihat dari atas, mereka sangat dekat karena jumlah yang sangat banyak.


Menjelang tengah hari, kedua wakil dari kedua belah pihak bertemu di antara dua barisan pasukan.


Patriak Jian mewakili pedang angin dan sekutu, sementara sekte Zi, patriak Zi Tian menunjuk dirinya sendiri sebagai pemimpin pasukan.


Keduanya maju dan saling mengampiri... hinga jarak mereka hanya Sepuluh langkah masing masing.


Patriak Zi menatap tenang pada sosok Patriak Jian.... berbeda halnya dengan patriak Jian yang menatap tajam pada patriak Zi.


"Zi Tian,,,, Pada akhirnya, kita di pertemukan dengan keadaan yang seharusnya dari dulu kami lakukan" Patriak Jian berucap.


"Jian Feng,,,, sebenarnya kau bisa bertemu dengan keadaan selain seperti hari ini denganku kapanpun" Patriak Zi menanggapi.

__ADS_1


"Kau, dengan arogansimu,,,, menganggap kami tidak layak untuk itu, Zi Tian"


"Kau terlalu berlebihan dalm menilai,, Jian Feng"


"Apa kau layak,menolak penilaian orang lain Zi Tian"


"hahahaaaa....... apa selama kalian menilai buruk tentang sekte maupun diriku,, aku menggap semua itu, Jian Feng"


"aku diam, dan tak perduli dengan sikap kalian selama ini,Jian Feng.... dan sebuah kebetulan, kalian memiliki alasan untuk menunjukkan kemunafikan kalian hari ini,,,, kalian menampung sumber masalah apa sekte Zi peduli,, heee" suara Patriak Zi meninggi.


"Jian Feng,,, masalah sekte Zi, hanya dengan satu bocah, ingat..... dengan satu bocah, seorang bocah yang telah membunuh tujuh murid sekte ku, dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan kalian, namun kau jadikan hal itu menjadi hari ini,,,,, sekarang aku tanya sebagai sesama patriak,,, apakah layak,satu kesalahan bocah, yang bahkan dia bukanlah bagian dari pedang angin,di banding seluruh pasukan yang berdiri hari ini" Suara patriak Zi lantang bergema dan dapat di dengar oleh seluruh pasukan kedua belah pihak. Patriak Jian tak bisa menjawab ucapan Patriak Zi.


"Jian Feng,,,,, entah kalian yang memang bodoh, atau bocah itu memang pintar,kalian menganggap bocah itu sebagai alasan untuk berperang dengan kami, itupun hanya karna ketidak sukaan kalian kepada sekte Zi, sedangkan bocah itu sendiri memanfaatkan kekuatan kalian untuk alasan pribadinya,,, apa kalian tidak berfikir...." bentak patriak Zi, yang memperlihatkan ketidak sukaanya.


"asal kalian tau,,, sekte yang selama ini kalian anggap sombong dan arogan,serta di anggap tak peduli dengan sesama anggotanya, hari ini kami semua berdiri hanya untuk tujuh murid, dari dua ratus lima puluh juta murid lainya,,,, inilah kami, kami yang selama ini kalian anggap sombong"


"sedangkan kalian..... kalian berada di sini, hanya karna ketidak sukaan kalian kepada kami, apakah itu sebanding"


"Jian Feng,,,,, jika sekte ku di anggap menekan,,,,, apa selama ini ada di antara muridmu yang mati tanpa alasan, jika sekte Zi di katakan arogan, apa kami bertindak saat semua sekte menganggap buruk sekte kami" patriak Zi seprti sangat membenci patriak Jian, karna tak memiliki alasan yang kuat.


"Cukup" suara seseorang tiba tiba memotong argumen kedua patriak.


"salam untuk dewi langit"


semua pasukan sekte Zi memberi hormat pada Dewi langit.


Dewi langit, hanya mengangguk dan kembali menatap semua pasukan aliansi sekte pedang angin lalu tatapanya jatuh pada patriak Jian yang masih gemetar....


Dan bukan hanya ptriak Jian yang gemetar, tetapi seluruh pasukan aliansi sekte pedang angin pun mengalami hal yang sama,,, hingga membuat heran Ruo.


"saudara,, siapa sebenarnya wanita dengan zirah perang itu" tanya Ruo pada Jian Luo.


"ah... tentu saja saudara tidak tau,, wanita itu adalah Dewi langit... "


jawab Jian Luo,, Ruo menjadi sangat penasaran dengan sosok dewi langit itu, dan kembali menatapnya.


"Jian Feng,,,, jika kau dan aliansimu ingin memuaskan diri dengan berperang, maka lakukanlah,,,,, tapi,,, bawa bocah itu di hadapan ku, dan juga Zi Shen" ucap Dewi langit pada patriak Jian,,,

__ADS_1


Ruo mendengar namanya selalu di sebut,sudah tak peduli lagi dengan semua yang di rencanakan oleh patriak Jian dan aliansi.....


"whuuuuusssssss........ "


Ruo melesat,, menghampiri Dewi langit, yang masih berada di udara, kemudian Ruo menatap tenang pada sosok Dewi langit, begitupun Dewi langit, diapun menatap tenang Sosok Ruo.


"Anak muda,,,apakah kau, bocah yang membunuh tujuh murid sekte Zi" tanya Dewi langit dengan tenang.


"Benar nyonya,,, junior yang telah membunuh ke tujuh murid sekte Zi" jawab Ruo,dengan sikap yang sama tenangnya seperti Dewi langit.


'aneh..pemuda ini begitu tenang'


pikir Dewi langit ttg Ruo yang sangat tenang tanpa gentar.


"anak muda,,, apa alasanmu membunuh ketujuh murid sekte Zi"


"sederhana nyonya,,,, aku hanya menagih dendam"


"dendam...... " tanya Dewi langit, penasaran.


"ya.... dendam"


"anak muda, sekarang jelasakan,,,tentang asalan mu mendendam pada ketujuh murid itu"


"nyonya,,,, dendamku bukan pada ketujuh murid sekte Zi itu, melainkan pada sekte Zi itu sendiri" Ruo mulai sedikit meninggikan suaranya.


melihat perubahan sikap pemuda yang ada di hadapanya,Dewi langit melihat kejujuran dalam diri Ruo.


"anak muda,, aku ingin mendengar semua alasan mu mendendam pada sekte Zi" kali ini,,, patriak Zi Tian yang ikut bertanya.


"kau.... patriak sekte Zi keparat,,,,, jangan berpura pura tidak tau kenapa aku begitu membenci sektemu, bangsat..... "


"Boooommmmmmmm"


Ruo meledakkan aura energinya dengan penuh di ranah Dewa Langit tahap puncak,krna mendapat pertanyaan dari patriak Zi, ketenangan Ruo berubah jadi kemarahan....


semua orang di buat tak percaya dengan kekuatan aura Ruo.... namun, Dewi langit dengan mudah menahan aura tekanan Ruo agar tak berdampak pada yang lainnya.

__ADS_1


"bocah keparat,,,, aku sudah bertanya baik baik,,,, tapi kau bocah bangsat sombong,mengarahkan kebencian pada ku..... " patriak Zi sangat marah dengan Ruo


"Cukup Zi Tian,,,, aku belum selesai dengan anak muda ini" tutur Dewi langit, pelan pada patriak Zi.


__ADS_2