Panggilan Takdir Sang Kultivator Semesta

Panggilan Takdir Sang Kultivator Semesta
Menagih Dendam


__ADS_3

Waktu yang di berikan Patriak sekte musang api pada Ruo, telah habis.


patriak Huo pun, mencabut hak kusus yang di berikan pada Ruo.


"Nak Ruo, apa yang kau cari dari sekte ini telah kamu dapatkan,,, kami pun, tidak mengikatmu dengan mengharuskan mu membawa identitas sekte, karna kami mengerti apa yang menjadi tujuanmu" patriak Huo membebaskan Ruo untuk memilih


"lakukan apa yang mau kamu lakukan, karna sebagai patriak, aku yakin kamu sudah mendidik dirimu sendiri dengan baik,benar kata patriak Li yang kau ceritakan... kamu adalah sebuah kitab kosong, di mana dirimu sendirilah yang harus mencoret kan tinta di dalamnya"


"melukis lah pada kanfasmu sendiri, karna yang demikian pasti lebih baik, dari pada merebut lukisan orang lain"


"aku akan mengingat nasehat patriak"


ucap Ruo. yang setelah melakukan peradatan,Ruo pun pergi meninggalkan gedung utama sekte musang api.


sampai di pintu gerbang ilusi, tetua Eng tengah berdiri seprti menunggu kedatangan Ruo.


"salam tetua Eng"


"tak perlu sungkan, nak Ruo"


"apa kamu sudah mau pergi"


"benar tetua,,,,,, sekalian aku pamit pada tetua"


"yaaahhh..... pada akhirnya, semuanya hanya alasan, namun takdir..... sudah pasti menjadi kepastian"


"seprti kedatangan, dan kepergian mu ini"


"datang dengan sebuah alasan,,, dan pergi untuk panggilan takdir"


"Nak Ruo,berapapun bab yang telah kau tulis,,, pada akhirnya kau akan kembali melihat sampul depan dari sebuah kitab,maka ingatlah jati dirimu"


"aku akan mengingatnya tetua Eng,,, dan terimakasih telah memberi arahan padaku selama ini,,,, nilai dari yang kudapat, sebagian adalah karna anda dan sekte musang api tetua"


ucap Ruo, yang tau diri.


"itu sebuah kehormatan bagi sekte ini"


ucap tetua Eng, sambil menepuk pundak Ruo.


"Tetua,,, aku pamit pergi sekarang"


Ruo mengkupkan tangan, sebagai bentuk hormatnya pada tetua Eng, setelah selesai... Ruo pun pergi meninggalkan sekte musang api.


"Benua Zen terlalu kecil untuk tempatmu Nak Ruo"


gumam tetua Eng, seraya menatap sosok Ruo yang makin jauh.


Ruo melesat, keluar dari hutan monster.. dia terbang selama satu jam, dan mendarat setelah hampir sampai di gerbang kota Zi.


"hei lihat.... bukankah wajah pemuda itu sama dengan yang ada di poster"


ucap salah satu penjaga


"benar,,, dia Ruo, buronan sekte Zi,,,,, segera laporkan ke yang lain, kita akan menangkapnya" petugas itu segera berlari untuk melaporkan keberadaan Ruo.


Ruo sendiri, hanya berjalan santai menuju gerbang kota.


"sepertinya para penjaga kota, mengenalku" gumam Ruo.


"yaahhh... baiklah, semakin cepat beres maka semakin baik" desah Ruo


greggg... greeggggg... greegggg...


suara hentakan dari ribuan kaki prajurit menggetarkan tanah kota Zi, dan hal itu membuat geger seluruh warga kota, melihat hal yang tak seperti biasanya.


Ruo menghentikan langkahnya, dan menatap ribuan prajurit berjejer menutup gerbang kota Zi.

__ADS_1


lalu ada seseorang mendekat ke arah Ruo .


"aku Zi weng, komandan dari prajurit penjaga kota" Zi Weng berkata lantang dari jarak yang masih jauh


"Ruo,,,, penguasa kota dan Sekte Zi, memerintahkan kami agar menangkapmu,karna membunuh tujuh murid sekte Zi, hidup atau mati"


"Zi Weng,,,, sebagai komandan pasukan kota,,, aku menghargai mu, tapi mengingat kalian berada di bawah perintah sekte Zi, aku beri dua pilihan..... menyingkir dari hadapanku, atau mati" ucap Ruo tak kalah lantang memberi peringatan.


"lancangggggggg"


whhuuuussssssssss.. .....


mendengar Ruo yang mengancamnya Zi weng langsung melesat memyerang Ruo.


Bam.... bam.... bammm......


pertarungan tak bisa lagi di hindari,,,Ziweng langsung menyabetkan tombaknya ke arah Ruo.


"serraaaaaaaannnnnggg"


melihat Zi weng yang sudah mulai pertarungan, seluruh pasukan bawahan Zi weng, segera menyerang Ruo.


Ruo meladeni Zi weng, dengan pedang pembalik langit...


duar.... duarrrrr,,, bammm.. bammmm


tiap kali dua senjata keduanya beradu, percikan api dan gelombang kejut dari energi kedua senjata itu memercik.


"kau pemuda sialan,,,, yang entah datang darimana, berani membuat kekacauan di kota ini,,,, aku sebagai komandan pasukan kota Zi, takan membiarkan mu berbuat sesuka hati di wilayah ku,,,, "


" Tombak tirani...... pembunuh dewa, heyyyyyaaaaaa"


Zi wen memutar tombaknya, lalu di arahkan ke langit,,, segera, energi besar tersedot dari kekosongan dan masuk ke dalam tombak.....


"pedang pembelah langit,,,,, hukuman langit,,, heeyyyyaaaaaa"


Whuuuussssssssssssss.......


Boooommmmmmmmmmm........


Demmmmmmmmm.......


Demmmmmmmmmmmmm


semua tempat langsung porak poranda, dan hancur,,,, ribuan pasukan terpental jauh, oleh dorongan gelombang kejut dari energi kedua senjata.......


heyyaaa....


duaaghhh.... tranggg.... tranggg gg


clannnggg.... clang...


bemmmmmmm......


pertarungan berlanjut, Zi weng sekuat tenaga menyerang Ruo, keduanya terlibat pertarungan sengit.


whussss......


tombak di ayun, dan di sabetkan pada arah leher Ruo...


clang.........


Ruo menangkis tombak tirani dengan pedang pembalik langit.


wuugghhhhh...


Ruo menendang dada Zi weng, namun masih bisa di hindari.

__ADS_1


buakkkk.... buaaakkkk...


booommmmmm......


kedua pukulan bertemu, dan mementalkan Zi weng,,, Ruo melihat kesempatan, langsung menyerang Zi weng.


whuuusssss......


sabetan Ruo,masih belum mengenai Zi weng,,,, yang menggulingkan tubuhnya untuk menghindari sabetan pedang Ruo.


clannngggg... cllaaangggg.....


pedang dan tombak, terus beradu,,,, belum ada satupun dari keduanya yang kalah.


buuaakakkk..... buaakkkk.....


Duarrrrr..... Baammmmmmm


Ruo berhasil mukul dada Zi weng, namun Zi weng memasangkan tombak pada dadanya agar tak kena pukulan langsung oleh Ruo.


whuuuusssssss........


Zi weng memutar tombak bersamaan dengan tubuhnya,,,


"tombak tirani,,,,,,, pemukul bumi,,, heeyyyyyyaaaaaa"


Zi wen melempar tombaknya pada Ruo,


" pedang pembalik langit,,,,, hujan pedang"


drrreeeetttttt.......


ciuuuuu......


Ribuan pedang menerjang tombak tirani milik Zi wen.


Blaaaaammmmmmm......


Duuuaaaarrrrrrr.......


tombak tirani terpental oleh terjangan ribuan pedang energi Ruo,,,, pedang pedang itu masih terus melesat mengarah pada Zi Wen.


whuuuunnnnnggghhh.....


bammmm.... bammmm, duaaarrrrr.


Zi wen tak bisa menghindari pedang energi dari serangan Ruo. dan akhirnya Zi wen harus meregang nyawa.


"elemen angin..... pesona angin"


whuuussss..........


Ruo yang belum puas, mengendalikan semua pedang energinya, mengarahkanya pada ribuan parjurit kota.


clepppp... sreeetttt..... slaaassshhhhh


"aaarrrrggggggghhhhhhhh"


semua prajurit berteriak, kesakitan.


pedang pedang Ruo, menusuk, memotong, dan menyeset semua prajurit hingga tak ada yang terlewat dan semuanya tewas.


beres dengan semua pasukan,,,, Ruo membabat gerbang dan benteng kota hingga hancur,rata dengan tanah, menggunakan pedang energinya... membuat warga seisi kota berlarian karna ketakutan.


"ingat namaku baik baik,,, aku Jiang Ruo, dari daratan Zurhen.... aku menuntut balas atas perbuatan sekte Zi"


"siapapun yang bekerja sama dengan sekte Zi, maka akan ku hitung dalam daftar kematian..... sampaikan ucapanku pada siapapun"

__ADS_1


Ruo berkata lantang menggunakan Qi, agar dapat di dengar oleh seluruh warga kota Zi.... setelah selesai, Ruo melesat terbang meninggalkan tempat bekas pertarunganya.


__ADS_2