Panggilan Takdir Sang Kultivator Semesta

Panggilan Takdir Sang Kultivator Semesta
Alam Xianren


__ADS_3

"Nona Hua, saudara Jun, shin, Lian dan Nona Yui,,, mohon katakan pada patriak kalian!! Untuk saat ini, kami tak bisa menemui mereka"


"Katakan pada beliau,,, aku dan lainya akan kembali setelah semua yang terjadi hari ini menjadi tenang" Ruo mengirim pesan Jiwa pada Hua cs.


Dan beberapa saat kemudian, Ruo menarik semua pasukan dan saudaranya kembali ke dunia jiwa.


Sraahkkkk........


Ruo menebas kekosongan, lalu menatap mantap ke arah puluhan juta orang, baik anggota sekte cahaya dewa, maupun pasukan bala bantuan yang datang dan bergabung dengan pasukan sekte.


Zeeepppppp..........


Ruo memasuki sobekan ruang dan lenyap seketika,,, dan tentu saja, apa yang di lakukan Ruo membuat heran sekaligus kaget semua orang, terkecuali Hua cs.


"Kau adalah langit,,, Ruo Gege" gumam Hua,yang lalu sedikit menundukkan kepalanya.


"Kemana pemuda itu dan pasukanya??"semua orang saling melempar pertanyaan dan ke bingungan.


Di rasa, pertempuran sudah selesai,,, patriak Wong yang memang masih penasaran dan bingung, lalu memimpin semua murid sekte nya untuk kembali.


Namun,, tepat pada saat patriak Wong ingin beranjak dari tempatnya,,,


" Patriak Wong,,,, ini belum berakhir, sampai kau memberikan apa yang bangsa kami inginkan" Suara Jendral Gui menggema dari langit yang dapat di dengar oleh semua orang.


"keparat..... dasar bajingan pengecut,,, kemana kau saat pertempuran sebelumnya, sialan?? " Patriak Wong sangat geram, mendengar suara jendral Gui.


"Kau bisa menunggu di pertempuran berikutnya patriak!!! " ucap Jendral Gui.


"Ya... dan jika saat itu tiba,,, jangan bersembunyi dari kematian mu, jendral keparat!!! " timpal Patriak Wong.


Namun tak ada jawaban dari jendral Gui, sampai akhirnya mereka semua memilih kembali ke sekte cahaya dewa.


*


*


Seorang pemuda berdiri, memandangi luas rimbun nan hijau,,, udara segar masuk keluar memompa paru paru.


Tatapan mata pemuda itu tenang,,, namun ada riak air di pojok ekor matanya.


Entahlah,,, namun pemuda itu seakan mengulas ingatan lalu,,, ingatan seseorang yang sebelumnya memang berasal dari alam yang baru saja pemuda itu pijak.


Dialah A Nara,,, sepelik jiwa yang masih bersemayam dalam sanubari Jiang Ruo... emosi dari sepelik jiwa A Nara berpusara di hati Jiang Ruo.


"A Nara,,,"Gumam Ruo

__ADS_1


"Aku bukanlah badai,,, aku adalah lelaki yang pada hari itu memintamu menemani jalan pedang ku,mengukir takdir dengan nama mu pada masa depanku"


"Kau masih wanitaku,,, meski tersisa sepelik jiwa,,, kerinduan ini masih utuh,,namun sepertinya aku tidak baik baik saja"Ruo sedikit menundukkan wajah, jiwanya merayap kekedalaman sanubari yang tak sekalipun dapat dia jangkau.


" Inikah tempat mu berasal??? "gumam Ruo dalam hati, lalu dia mencoba menyadarkan diri dan menilik keseluruh area yang dia bisa jangkau.


Kesadaran jiwanya menghampar sejauh puluhan kilometer, untuk merasakan adanya suatu kehidupan di sekitarnya.


Debbbbb...........


Tak merasakan apapun,,, Ruo beralih tempat ke ujung jauh, mencoba mencari peradaban apapun yang bisa dia temukan.


Dan siapa sangka,, Ruo kembali tak menemukan peradaban apapun, kecuali binatang buruan.


Waktu sepuluh hari sudah berlalu,, Ruo masih tak menemukan keberadaan satu manusia pun,, dia benar benar di buat heran....


"Alam seluas ini,begitu sepi,,,, tak mungkin alam ini tak berpenghuni" pikir Ruo, yang sudah menjelajah di hampir seluruh wilayah yang bisa dia jangkau.


Ruo akhirnya memilih untuk menginjakan kakinya di tanah alam yang sunyi itu,, menyusuri dengan berjalan kaki.


Berjam jam Ruo berjalan kaki, akhirnya dia merasa jenuh,,, segera dia mengeluarkan Zan Lang dari dunia jiwa.


Ruo menjadikan Zan Lang tungganganya,,, sesekali di mengambil sikap rebahan di atas punggung Zan Lang, sambil menatap biru cerahnya sang langit dengan terselip satu rumput di mulutnya.


"Lang,,, jika saja kau bisa bicara,aku ingin mengajakmu berbincang" ucap Ruo yang masih bersantai di atas Zan Lang.


"Auuuu..... " Lang melolong pelan menyauti Ruo.


"Lang,,sebenarnya,aku sedang mencari ras manusia abadi di alam ini,, karna menurut ingatan jiwa A Nara, alam ini adalah alam dari ras manusia abadi"


"au... " lolong Zan Lang.


"Aiizzzzz........dari tadi kau cuma Au,,, au,saja Lang??? apa tak ada yang lain selain au??"


"auuu..... " Zan Lang kembali melolong.


"Merasakan bulu tebal dan halus, , aku jadi sangat ingin tidur,, hehee.... Lang, aku akan istirahat di punggung mu!! terserah kau arahkan aku kemana!!! " tak lama,Ruo tertidur di punggung Alpha dari pasukan serigala angin semesta,,,Zan Lang, yang berukuran sangat besar itu.


*


*


Di sekte Cahaya Dewa,, Patriak Wong kedatangan banyak patriak dan tetua sekte lain,, di antaranya, sekte Darma, sekte Tapak Dewa, sekte Halilintar, sekte cambuk Dewa, sekte pedang Dewa dan lainya.


Kedatangan mereka tak lain, ingin mengetahui bagaimana pertempuran tempo hari berlangsung.

__ADS_1


Namun, ketika semua pertanyaan mereka mengarah pada sosok pemuda dengan kekuatan luar biasa dan pasukanya,,, Patriak menimpakan jawaban pada Tetua Jia Yi.


"Patriak dan sekalian,,,maaf jika saya tak dapat memuaskan rasa penasaran kalian!!! karna ini adalah pesan langsung pemuda tersebut pada Sekte kami" Jia Yi harus mengulang alasan yang sama berulang kali untuk menjawab pertanyaan yang sama pula.


"Tetua Yi,,, setidaknya, jika kami mengetehaui sosok pemuda itu,kami bisa untuk tidak menyinggung nya" timpal salah satu tetua.


"ya,,,hal itu memanglah baik,, tapi jika kami memberitaukan identitasnya,, lalu apa tanggapan pemuda itu pada kami??"tukas Tetua Jia Yi.


" Saya mengajak patriak dan tetua semua yang ada saat ini,,, kesampingkan dulu ke ingintahuan tentang pemuda itu,sebaliknya.... saya meminta saran bagaimana menghadapi jendral iblis Gui, yang dengan sangat jelas,, bahwa dia akan kembali "tutur Jia Yi.


" Pertempuran tempo hari, membuat kita tau sedikit banyak tentang pasukan yang di kerahkan Jendral Gui"


"Dan sebagian dari patriak serta tetua sudah tau, seberapa kuat mereka?? "Jia Yi, memaksa semua tetua menanggapi serius krisis keamanan di alam Dewa tingkat satu.


" Demi ke amanan alam ini,,, tentu saja kami akan berdiri di samping sekte cahaya Dewa" salah satu patriak berucap tegas.


"Ya,, kami dari sekte tapak Dewa juga memiliki sikap yng sama dengan sekte Darma.


Pertemuan itu berlangsung cukup lama, dan baru mencapai kesepakatan kerjasama setelah beberapa jam berikutnya.


Tamu tamu sekte kemudian di arahkan pada tempat yang di sediakan oleh sekte cahaya Dewa.


Sementara Jia Yi, bergegas menemui Hua cs di pelataran yang menjadi wilayah pelatihan Jia Yi sendiri.


" Guru?! "Hua cs memberi peradatan saat Jia Yi sampai di tempat mereka.


" Hua'er,,,, guru masih sangat penasaran dengan Jiang Ruo itu,, apa kau tidak keberatan jika menceritakan ttg pemuda itu dan pasukanya pada guru?!"entah Jia Yi memiliki maksud apa,tetapi Tetua tercantik itu benar benar sangat penasaran dengn Jiang Ruo.


Memang selain menjadi Tetua wanita paling cantik,, umur Jia Yi terbilang masih muda,,, yaitu 23 tahun.


Sama seperti A Nara Un Shu Liu Fei dan Jian Ning,,, identitas Jia Yi pun penuh dengan liku misteri.


Dia datang ke sekte cahaya Dewa di umur 13tahun dengan kekuatan dan ke anggunan, hingga menarik minat patriak Wong,bahkan Leluhur Sekte cahaya Dewa sendiri.


Sosok Jia Yi sudah di perhitingkan tatkala di umurnya yang baru lima belas tahun,, mampu menjadi juara tiga di turnamen antar sekte seluruh alam Dewa tingkat satu.


Barulah, di umur 19 tahun,, Jia Yi di nobatkan menjadi tetua termuda di alam Dewa tingkat satu,hingga setahun kemudian,, Jia Yi mengangkat Hua cs menjadi muridnya sampai saat ini.


Jia Yi memang hanya memiliki Lima murid pribadi,, namun kelimanya adalah sosok jenius, yang di pilih langsung oleh Jia Yi.


"Baiklah guru,,, Hua'er akan menceritakan dari awal" melihat wajah penasaran gurunya,,, Hua pun menceritakan kembali dari awal ttg Ruo dan semua orang yang berkaitan denganya.


Meski Hua merasa heran... karna dia pikir,, bukankah guru dan patriaknya memantau apapun dari proyeksi visual?? yang artinya, gurunya dapat mengetahui ttg semua hal yang terjadi dari awal pula.


Namun Hua memilih menceritakan saja, dari pada terus merasa heran pada sikap Jia Yi.

__ADS_1


.......................................


__ADS_2