
Mentari pagi mengintip melalui celah jendela sebuah penginapan di salah satu wilayah benua tengah,Daerah itu bernama Desa kecipir yang masuk dalam teritori kerajaan Lung,Kekaisaran Zong benua tengah.
"Hoaammmmm..... " Ruo yang yang dengan wajah khas orang yg bangun tidur, menguap dan mengangkat kedua tanganya, meregangkan otot ototnya.
"Sudah pagi ternyata"Ruo tak menunggu,dia bergegas ke kamar mandi.
*
*
" Selamat pagi tuan muda"seorang pelayan menyapa sopan, saat Ruo melangkah ke rumah makan yang berada di ruang bawah penginapan.
"Apakah tuan muda hendak memesan menu sarapan"
"Ya,,, Junior ingin memesan teh hangat dan singkong goreng Nona"Ruo memesan menu sarapan paginya.
"Baik,,, segera kami siapkan,mohon tuan muda menunggu di salah satu meja yang ada" pinta pelayan, meminta Ruo untuk duduk, yng kebetulan... hampir semua meja masih terlihat kosong.
Tak berapa lama, pesanan Ruo datang dan di hidangkan.
Saat Ruo tengah menikmati teh dan singkong gorengnya,Seorang wanita datang ke rumah makan itu dengan tergesa gesa,sikapnya menggambarkan kepanikan, dan seperti ketakutan.
Dia menuju ke meja kasir dan seperti meminta tolong pada sang kasir tersebut.
Wanita itu berbisik cukup lama pada sanga kasir, Ruo sesekali mencuri pandang.
"Maaf Nona,,, kami tidak bisa membantu Anda,,, kami tak mau terlibat, apalagi dengan sekte Teratai hitam" selesai mendengar bisikan wanita itu, si kasir menolak apapun maksud yang di bisikan si wanita tadi.
Wanita yang terlihat panik itu, lalu beralih wajah pada Ruo yang sedang santai menikmati sarapanya.
Segera dengan tergesa gesa, wanita trsbt menghampiri Ruo.
"Tuan muda,, apakah anda menginap di penginapan ini"tanya si wanita.
Ruo lalu mengarahkan wajahnya pada si wanita yang saat ini ada di depannya.
" ehmmm..... "Ruo mengangguk.
" Tuan muda,,, jika demikian, aku mohon bantuan tuan muda,,, aku mohon izinkan aku bersembunyi di kamar tuan muda"
"heeh... " Ruo mengangkat sebelah alisnya.
"Tuan muda,, tolonglah aku,,, aku tidak punya waktu untuk menjelaskan..." Wanita itu masih memelas pada Ruo.
"Hei.... Un Shu, kau tak perlu meminta bantuan orang lain,,,, biar tuan muda ini yang akan melakukanya" Sekelompok orang datang dengan sikap arogan memasuki rumah makan.
Wanita yang di panggil Un Shu itu semakin panik, dengan kedatangan kelompok tersebut.
Un Shu, akhirnya memilih pasrah dan hanya menundukkan kepala dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.
"Nona,,, namamu Un Shu bukan" Mendengar ucapan dari pemuda di hadapnya, Un Shu sedikit menganggkat kepala dan memganggukanya.
"emm... "
"Aku Ruo.... " sambil menjulurkan tangan menyerahkan kunci kamar pada Un Shu.
"Pergilah, ke kamar" suruh Ruo.
Meski pikirnya sudah terlambat,Un Shu memilih menuruti Ruo,wanita itu menatap wajah tenang Ruo, dan melangkah dengan ragu menuju ke kamar Ruo.
"Hohohoo.... lihatlah,ada berang berang tak tau diri, yang mencoba menjadi pahlawan kepagian... "
"hahahaaaaaaa" semua anggota kelompok itu tertawa lantang.
"huuffff.... " Ruo hanya membuang nafas, lalu kembali menyecap tehnya.
__ADS_1
"hei kau,,,, dan kalian,,, pergi dan bawa Un Shu kemari" pemimpin kelompok menunjuk beberapa orang.
"Baik,,,, " orang orang itu kemudian bergegas untuk mengejar Un Shu, yang hendak ke kamar Ruo.
Ruo seperti tak perduli,,, dia tetap saja dengan ketenanganya.
"Dan kau, si berang berang..... jangan pernah berani mencampuri urusan sekte Teratai Hitam,kalau masih ingin hidup dengan badan utuh.. " pemimpin itu menujuk Ruo geram.
Srrreeetttttt...........
Jari telunjuk pemimpin kelompok itu terpotong, dan si pemilik beberapa saat tak menyadari, kalau jari telunjuknya terpotong.
pluuukkkkkk....
potongan jari itu terjatuh,,, si pemilik lalu menoleh kebawah.
"app... pa ittt... tu" si pemilik jari menoleh ke bawah lalu ke jarinya.
"arrggghh" dia menjerit, setelah sadar kalau jari yang terjatuh itu adalah miliknya.
"Bangsat,,,, siapa yang memotong jariku... " teriak pemimpin kelompok, sambil memutar tubuhnya dan matanya berkeliling kemanapun,dia mengira,,, ada orang lain selain Ruo yang berada di sana.
Dia tak menemukan orang lain, lalu tatapanya kembali pada Ruo.
"kau... kau,,, kau yang melakukanya.. "ucap pemimpin kelompok itu pada Ruo.
"Srreeeeppppp...... " sesapan teh terakhir Ruo telah dia habiskan.
"Sarapan dan teh pagi selesai,,, kini aku bisa membunuh kalian, bagaimana?"
"oh iya,,, kalian dari sekte mana tadi? Teratai Hitam?"
Ruo berdiri dari duduknya,dia mengeluarkan aura yang sangat menenangkan.
blarrr... blaarrrr....
"Kalian pergilah,aku sedang tak ingin berurusan dengan siapapun,,, dan mengenai Un Shu, dia adalah kenalan ku sekarang... " Ruo sangat tenang dalam setiap perkataanya.
"Babb... baik tuan muda,kami pergi sekarang" pemimpin kelompok itu tergagap,bertatap wajah dgn sosok yang sangat berkarisma di hadapanya.
Dia bukanlah orang bodoh,yang mudah menyinggung sseorang seperti Ruo.
"jangan lupakan teman kalian yang yang lain" ucap Ruo.
Dengan tubuh gemetar, mereka semua lalu meninggalkan rumah makan itu,dengan keringat dingin.
Tak berapa lama,Ruo ke kamarnya...
"tokk... tokkk... tookk"
"Nona,,, bukalah!" pintu kamar pun di buka oleh sosok wanita cantik.
"Emmm.... silahkan masuk tuan muda"
"eh... " Ruo sedikit merasa aneh
"Aku pikir ini kamar ku Nona?"
"ah... maaf Tuan Muda"
"Sudahlah,,, mari duduk,dan jelaskan kenapa Nona seperti buronan mereka?"
Ruo mengambil tempat duduk,begitupun Un Shu,,,, meski ada ke emgganan,namun karna merasa telah di tolong oleh pemuda yang ada di hadapanya,mau tak mau di menceritakan semua hal yang terjadi.
"Jadi,,, hanya karna anak dari patriak sekte Teratai Hitam,ingin menikahimu dan kau menolak,,, mereka membunuh semua anggota keluarga mu tak terkecuali?" Ruo tidak habis pikir mendengar cerita yang di tuturkan oleh Un Shu.
__ADS_1
"mm.... " Un Shu hanya menjawab dengan anggukan,karna tak bisa menahan tangis.
"Lalu,,, apa rencanamu selanjutnya Nona? "
"hiks.. hiks... hiks... "
"aissss...... tak perlu menangis seperti itu non...... " ucapan Ruo tertahan, dia merasakan pergerakan dari orang kuat yang menuju ke penginapan.
Kesadaran spiritual Ruo, memerintah cepat,,, membuka dunia jiwa.
whuuuussssss.......
Un Shu di tarik oleh sebuah energi dan di paksa masuk pada dunia jiwa milik Ruo.
Chiuuuuuuuu..........
Booooooommmmmmmmmm.....
Tepat, saat Un Shu telah di masukan paksa dalam dunia jiwa milik Ruo... penginapan itu meledak dan hancur oleh beberapa serangan dari orang orang kuat yang kedatanganya Ruo rasakan.
Tak ada yang selamat di penginapan itu, selain Ruo yang melindungi dirinya dengan sayap Qi.
Ruo berdiri perlahan, dan menatap tujuh orang berjejer di udara dengan sikap pongah mereka.
Blaaaarrrrr.......
Ruo mengepakkan sayap Qi nya, dan melesat ke udara, berdiri sejajar di ketinggian.
"Anak muda,,, apa kau yang menyembunyikan calon istri dari tuan muda kami?"
"Kalian,,,,, tak perduli dengan apapun yang kalian lakukan,,, Sombongggg"
Tegas Ruo pada ketujuh orang di hadapanya.
"Hahahaaa....... semut ingin di anggap gajah,,, apa yang membuatmu berpikir kami perduli... " kata salah satu dari mereka.
"Semut? apa ini yang kau anggap semut? "
Bammmmmmm.............
Ruo mengeluarkan aura kultivasi Dewa Abadinya,,, dia tak tertarik dengan keterkejutan orang orang yg ada di hadapanya.
whuuuusssss.........
Bammmm....... Bammm... bammm.. bammm...
Ruo memukul ketujuh orang itu, tepat tiga senti di bawah pusar, dengan sedikit mengeluarkan elemen logamnya.
Buggghhh... buuuggghhh
Aaarrrrggggghhhhhh......
ketujuh orang itu langsung terjatuh ke tanah,tiga dari mereka langsung tewas.
Ruo menghancurkan dantian mereka, yang menjadi pusat lautan Qi, dengan hancurnya Dantian.... otomatis mereka menjadi manusia biasa tanpa kekuatan appun.
Ruo menatap bengis pada ke empat orang yang masih mengerang kesakitan,,, selain dantian hancur,akibat jatuh dari ketinggian, mereka pun mengalami patah tulang, entah tangan, kaki, dan lainya.
"Jadilah pecundang setelah hari ini" ucap Ruo. yang menatap tanpa sesal pada perbuatanya.
"Katakan pada Tuan Muda kalian, aku Ruo yang melakukannya... "Ruo beralih wajah pada puing puing yang baru saja hancur,namun dia tak melihat sudah tak ada kehidupan satupun.
whuuusssss........
Ruo melesat, meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
..............................