
Alex menyingkir ketika seorang dokter masuk bersama dua orang perawat. Dengan cemas ia memerhatikan istrinya diperiksa dan diberi obat melalui suntikan. Hatinya sangat kalut dan cemas. Bagaimana kalau Kinara tidak bisa melewati fase kritis ini? Bagaimana kalau trauma yang dialami oleh istrinya mengendap selamanya? Apa yang harus ia lakukan? Pertanyaan demi pertanyaan yang berputar dalam kepalanya membuat Alex merasa putus asa.
Apakah ini yang dirasakan olehnya ketika aku dirawat? Perasaan sedih dan tak berdaya ... benar-benar menguras emosi dan tenaga.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Alex ketika melihat dokter telah selesai merawat istrinya.
“Luka fisiknya tidak terlalu parah, hanya saja ... kondisi psikisnya cukup terguncang. Saya sudah memberi obat penenang untuk membantu Nyonya beristirahat. Perawat akan datang dua jam sekali untuk memeriksa keadaannya. “
“Baik.”
Dokter dan perawat mengangguk sekilas sebelum berjalan keluar ruangan. Alex kembali menghampiri ranjang Kinara, menatap istrinya yang sudah tertidur pulas tanpa berkedip. Semua penderitaan gadis itu disebabkan olehnya. Sekeras apa pun ia mencoba untuk melindungi istrinya, selalu saja ada celah sehingga gadis itu terluka. Apa yang harus ia lakukan?
“Bagaimana keadaanya?”
Alex terlonjak dan berbalik dengan cepat.
“Billy?” panggilnya dengan raut wajah sedikit terkejut.
“Aku mengetuk pintu sejak tadi, tapi kamu tidak menjawab.” Billy mengangkat tangan kanannya yang memegang buket bunga lily dan berjalan menghampiri Alex.
Dalam sekejap Alex kembali tenang dan membalas tatapan Billy. Ia tahu mengapa sahabatnya itu berani datang kemari. Musuhnya pasti sudah tahu kondisinya yang sudah bisa melihat dan berjalan. Bagus. Ia tidak perlu menutup-nutupinya dari Billy lagi, tidak perlu menyuruh pria itu untuk menjauh darinya. Namun, bukankah asistennya itu sedang berusaha mengakali chip-nya bersama dokter Ana? Apakah mereka sudah berhasil?
“Apakah Kinara baik-baik saja?”
Setelah menarik dalam-dalam, Alex menyugar rambutnya dengan dengan kasar dan menjawab, “Fisiknya baik-baik saja, tidak dengan kondisi mentalnya.”
“Aku turut berempati untuk kalian berdua ...,” ujar Billy seraya menepuk pundak sahabatnya. Ia meletakkan buket bunga di atas meja, lalu berdiri di samping Alex.
“Bagaimana dengan proyek yang kusuruh untuk kau selesaikan?” tanya Alex. Ia tahu, Billy pasti tahu proyek apa yang ia maksudkan.
Billy menggeleng pelan sambil menunjukkan ekspresi penuh penyesalan. “Proyek itu terlalu sulit. Aku memerlukan tambahan waktu,” jawabnya.
“Waktu adalah sesuatu yang tidak kita miliki, Kawan. Kau tahu itu,” ujar Alex dengan suara yang terdengar lemah.
Sebenarnya kondisi fisik pria itu belum terlalu baik. Dokter Ana sudah mengingatkannya untuk jangan dulu melakukan aktifitas berat. Namun, bagaimana ia bisa diam saja ketika nyawa istrinya terancam? Kini rasa sakit mulai merambati kakinya, bagaikan sulur-sulur dari neraka yang mengantarakan nyeri dan panas. Tulangnya berdenyut ngilu. Ia sudah menahan rasa sakit itu sejak tadi, tapi udara malam memperburuk semuanya. Obat pereda nyeri yang ia minum satu jam lalu hanya mampu menyamarkan rasa sakit tanpa benar-benar meredakannya. Ia menarik sebuah kursi mendekat ke ranjang, lalu duduk dan menatap wajah istrinya lekat-lekat. Wajah polos itu terlihat sangat tenang. Embusan napasnya yang teratur membuat Alex ikut merasa relaks.
“Aku tahu,” desah Billy pelan setelah berpikir cukup lama dan tak dapat menemukan kalimat balasan yang dapat menguatkan sahabatnya.
Sebenarnya, bukannya ia tidak mencoba. Rasa sakit ketika dokter Ana membuatnya tidak sadar melalui berbagai cara, lalu menghipnotis dan berusaha menggali informasi sungguh membuat kepalanya seperti dihantam godam. Meski begitu, belum ada hasil yang cukup berarti sampai sekarang. Sejujurnya, ia pun cukup terkejut ketika mengetahui Alex telah bisa berjalan dan melihat lagi. Ia juga tahu apa alasan sahabatnya itu merahasiakan semua darinya, tapi sekarang ... semuanya terlihat sia-sia. Mereka harus memulai lagi semuanya dari awal. Atau ... haruskah ia mengorbankan Elizabeth? Melihat tunangannya juga disiksa membuatnya hampir kehilangan akal sehat. Kalau terus begini, bisa-bisa mereka semua bisa kehilangan nyawa atau berakhir di rumah sakit jiwa.
”Pulang dan beristirahatlah. Aku akan menjaganya,” kata Billy setelah terdiam cukup lama.
__ADS_1
“Alex?” panggil Billy seraya menoleh ketika tidak mendengar jawaban.
Ia menghela napas panjang ketika melihat sahabatnya itu telah tertidur. Kepalanya bersandar di pinggang Kinara, sementara satu tangannya melingkupi jemari istrinya dengan lembut. Sambil tersenyum, Billy mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mengambil foto sepasang suami istri itu diam-diam.
“Kau benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat, Buddy,” gumam Billy seraya menatap hasil jepretan kamera ponselnya, “Aku akan menggodanya ketika dia bangun nanti.”
Billy mengambil selimut dan menutupi pundak sahabatnya. Ia mematikan lampu sebelum berjalan keluar. Senyum tipis tersungging di wajahnya ketika meninggalkan rumah sakit. Setidaknya ada salah satu dari mereka yang merasakan indahnya cinta di tengah semua kekacauan ini.
***
Seorang pria mengendap-endap di lorong gelap. Sesekali ia menoleh dan menatap jalanan lengang di belakangnya dengan waspada. Sudah hampir dua pekan ia menggelandang, berpindah dari satu tempat ke tempat lain setiap dua jam sekali. Ia harus terus bergerak kalau tidak ingin orang-orang itu berhasil menangkapnya. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia makan atau membersihkan diri dengan layak. Luka di sekujur tubuhnya mulai meradang karena tidak diobati secara benar. Entahlah, rasanya ini seperti pelarian tanpa ujung.
Klontang!
Bunyi keras dari balik tubuhnya membuat pria berkacamata itu melompat masuk ke dalam semak-semak. Ia tidak memedulikan rasa sakit akibat tergores ranting yang patah. Ia telah merasa sedang diikuti sejak memasuki perbatasan kota sore tadi. Oleh karena itulah ia tidak mencoba mencari tempat untuk beristirahat. Terus memaksakan kakinya melangkah meski tulang-tulangnya sudah hampir patah. Ia tidak berani menumpang pada kendaraan yang melintas karena terlalu beresiko.
Alat pelacaknya tidak bisa mengirim sinyal untuk meminta bantuan. Pistolnya kehabisan amunisi. Persediaan uangnya pun sudah habis. Ia belum sempat menjual jam tangannya, satu-satunya benda berharga yang tersisa di tubuhnya. Lengkap sudah. Kini ia kelaparan, kehausan, kelelahan, dan sendirian. Ia merasa seperti seekor singa tua yang sedang diburu oleh segerombolan hyena.
Pria itu merendahkan tubuhnya hingga hampir rata dengan tanah ketika mendengar derap langkah kaki melintas tepat di depan wajahnya. Rupanya ia benar, sekumpulan hyena itu belum mau melepaskannya.
“Berpikirlah singa tua, berpikir ...,” bisik pria itu pada dirinya sendiri.
Ia tahu, kali ini kemungkinannya lolos tidak sampai lima persen. Itu artinya ia tidak boleh mati dengan sia-sia. Ia harus menghubungi seseorang dan memberitahu penemuannya dan berharap rekannya itu bisa memecahkan masalah yang cukup rumit ini.
Setelah menarik napas dan mengambil ancang-ancang, pria itu melompat dan memanjat ke atas seperti seekor tupai. Kakinya berpijak dengan ringan di atas balkon dan melangkahi pagar pembatas. Dengan sangat hati-hati, ia mendorong jendela kaca yang sedikit terbuka.
Bagus. Tidak terkunci.
“Siapa itu?”
Tubuh pria itu membeku ketika mendengar suara bariton yang cukup serak. Dengan sangat perlahan, pria itu mengangkat kedua tangannya. Ia mengatur detak jantungnya yang sempat melonjak agar kembali normal. Ia sama sekali tidak menyangka sang pemilik rumah masih terjaga selarut ini. Ia meneguk ludah ketika melihat seorang pria berkepala pelontos mendekat ke arahnya dengan memegang sebuah senapan laras panjang.
“Sir, saya bukan pencuri. Saya hanya ingin meminjam telepon Anda. Ada orang-orang jahat yang mengejar saya,” ujar pria itu seraya mulai berlutut.
“Hentikan omong kosong itu dan minggat dari sini sebelum aku meledakkan kepalamu!”
“Anda boleh menembakkan benda itu ketika saya selesai menelepon. Tolong ....”
Pria botak yang hanya memakai celana boxer itu mendekat. Jarak mereka kini hanya sekitar tiga meter. Tanpa aba-aba, pria berpakaian compang-camping yang lebih mirip gelandangan itu berguling ke arah tuan rumah dan merampas senjatanya. Pria berkepala botak gemetar ketika moncong senjata telah berpindah tangan tanpa sempat ia sadari.
“Tuan, saya hanya ingin meminjam ponsel. Tolong. Waktu kita tidak banyak.”
__ADS_1
“T-tunggu sebentar,” jawab sang pemilik rumah dengan suara tergagap, lalu buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian, pria itu kembali dengan sebuah ponsel di tangannya.
“Terima kasih,” kata si pria berkacamata, menerima ponsel yang diulurkan ke arahnya dengan sukacita, “Ada telepon lain? Tolong hubungi polisi dan cari tempat persembunyian.”
Pemilik rumah itu mengangguk cepat, lalu berbalik dan hendak masuk kembali ke dalam kamar.
“Tunggu. Bawa ini untuk berjaga-jaga. Maaf melibatkan Anda dalam kekacauan ini.”
Pria botak itu menatap tak percaya pada tamu tak diundang yang menyambangi rumahnya di tengah malam buta ini. Ia hampir terlonjak mundur ketika pria aneh di depannya menyodorkan senjatanya ke depan dada. Entah bagaimana, ia percaya pada perkataan pria aneh itu.
“B-baik. Tidak masalah,” ujarnya sebelum masuk kamar dan mengunci pintu.
Pria berkacamata itu menekan beberapa rangkaian nomor, lalu menunggu nada hubung.
“Halo?”
Suara dari sambungan di seberang sana terdengar serak. Tanpa sadar, pria berkacamata itu menyunggingkan senyum lembut.
“Lorie? Ini aku.”
“Ken?! Di mana kamu? Apa yang terjadi?“ cecar Lorie setelah mengenali suara lawan bicaranya.
“Ssst. Dengar. Aku tidak punya banyak waktu jadi dengarkan aku baik-baik. Ada penyusup dalam kelompok. Lokasiku tidak bisa ditemukan, bukan? Itu disengaja. Dia membocorkan posisiku pada orang-orang itu, tetapi merahasiakannya pada kalian. Aku harus selalu berpindah. Kamu tahu hanya ada dua orang yang mempunyai akses itu. Temukan dia sebelum membahayakan tuan.“
“Di mana posisimu? Aku akan ...”
“Sudah tidak sempat.”
“... menjemputmu.”
“Andromeda Coorporation, itu hanya kamuflase. Kalian tidak akan menemukan data basenya di mana pun karena nama sesungguhnya adalah–“
Dor!
Suara tembakan memecah malam. Keheningan yang mencekam mengudara. Detik demi detik terasa lambat dan menyakitkan.
“Ken ...?” bisik Lorie dengan suara hampir menyerupai bisikan. Ia merasa takut. Entah karena suaranya yang serak dan kesepian membaur dalam udara malam, atau karena tidak ada jawaban dari ujung sana. Air mata gadis itu menetes deras ketika bunyi gemerisik bercampur dengan suara seretan terdengar jelas dari ponselnya.
Gadis itu menatap nanar ke layar ponselnya selama beberapa detik sebelum mengetik pesan singkat dan mengirimnya pada Alex.
03 was killed. He is gone. Confirmed.
__ADS_1
***