
Tara dan Gio cuma mengobrol beberapa menit saja setelah itu Gio memilih untuk kembali lagi bekerja.
"Sayang, aku mau lanjut kerja dulu, kamu di rumah jangan nakal."
"Cuma sebentar?" tanya Tara pada sang suami.
Gio mengangguk. "Nanti kalau aku ada jam istirahat, aku akan menggunakan waktu itu untuk menghubungimu lagi, Sayang," jawab Gio sambil tersenyum pada sang istri. "Udah dulu ya, Sayang dan kamu jangan lupa untuk makan malam."
"Aku masih kangen," ucap Tara dengan cara malu-malu kucing. "Nanti dulu kerjanya, temani aku sebentar saja," pinta Tara pada sang suami. "Iya, Gio sebentar saja ... karena aku ini cuma minta waktumu saja bukan uangmu," sambung Tara.
"Sayang, aku harus kerja, supaya bisa cepat bertemu dengan kamu. Karena aku merasa hanya ragaku saja yang disini, sedangkan hati dan pikiranku terus bersamamu di sana," ucap Gio bersungguh-sungguh tanpa ada kata dusta di dalamnya. "Aku harap kamu mengerti dengan keadaanku saat ini."
"Harus berapa kali aku mengerti dengan keadaanmu Gio? Sedangkan kamu sama sekali tidak pernah mengerti dengan rasa rindu dihatiku ini, yang semakin hari semakin menumpuk sehingga tidak bisa disamakan dengan apapun itu."
__ADS_1
"Bersabarlah Sayang, karena kita pasti akan segera bertemu. Dan kalau boleh aku jujur, selama dua minggu ini aku tidak berselera untuk makan, karena pikiranku terus saja tertuju padamu, tidurku pun tidak nyenyak karena bantal gulingku ada di Indonesia saat ini."
"Kirimkan aku alamatmu, Gio, siapa tahu nanti kalau aku libur kuliah aku bisa kesana," ucap Tara yang sekarang malah meminta alamat sang suami.
"Nanti akan aku kirimkan, untuk sekarang ini aku harus bekerja dulu Sayang. I love you ...." Setelah mengatakan itu baterai pada ponsel Gio kehabisan daya.
Sehingga saat ini Tara merasa kalau Gio lah yang mematikan sambungan video call itu tanpa meminta persetujuannya, yang ternyata sebenarnya terjadi batri ponsel sang suami lobet. "Awas saja kamu Gio, nanti kalau kamu pulang aku akan membuat perhitungan, berani-beraninya dia memutuskan sambungan telepon itu tadi secara sepihak, dia tidak tahu saja saat aku telah melihat wajahnya, kini rasa rinduku ini menjadi kian bertambah berlipat-lipat ganda," gerutu Tara sambil mencoba menghubungi nomor ponsel laki-laki itu lagi.
Namun, seribu kali sayang nomor Gio malah tidak aktif. "Ish! Sangat menyebalkan, awas saja kamu, Gio!" geram Tara. Sambil meghentak-hentakkan kakinya di kasur empuknya. "Istrinya sedang rindu berat, tapi dia malah ... ah, sudahlah! Dasar Giorgio, laki-laki yang hanya bisa menumpuk rasa rindu di dalam hatiku ini!" ketus Tara yang terus saja berbicara pada dirinya sendiri. "Pokoknya awas saja, nanti kalau kamu menelponku, aku tidak akan pernah mengangkatnya." Tara sampai kesal sendiri karena sang suami.
Pagi menjelang ketika Tara akan sarapan bersama tiba-tiba sana sebuah rekaman suara di putar oleh sang ayah di atas meja makan itu
"Jelaskan, apa ini salah satu alasan kamu dan Gio pergi dari rumah itu?" tanya Arzan dengan sorot mata yang terlihat merah menyala. "Katakan Tara, karena Papa ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu!" bentak Arzan yang saat ini kecewa pada Tara karena, wanita itu selama ini tidak pernah menceritakan apapun pada dirinya dan juga Yana.
__ADS_1
Tara yang terlihat akan mengisi piringnya yang masih kosong dengan nasi dan lauk, segera mengurungkan niatnya, karena ia tidak pernah menyangka sang ayah bisa mendapatkan rekaman suara Lydia beberapa minggu yang lalu, saat ibu mertuanya itu menyuruh Gio menikahi Tika dan juga menyuruh Gio menduakan Tara dengan Sera, adik angkatnya laki-laki itu.
"Dari mana Papa mendapatkan rekaman itu?" tanya Tara dengan takut-takut pada sang ayah.
"Kamu yang seharusnya menjawab Papa Tara, dan apa benar ini semua kalimat yang terlontar dari mulut Lydia, mertua kamu itu?"
"Pa, ini semua hanya salah paham," jawab Tara yang tidak mau kalau sampai sang ayah akan membuat perhitungan dengan keluarga Gio. Mengingat Arzan yang tidak pernah main-main dengan ucapannya. "Iya, ini semua hanya salah paham, Pa," sambung Tara.
"Tidak ada yang namanya salah paham Tara, karena Papa ini masih cukup mengerti untuk masalah ini. Sekarang Papa akan turun tangan."
"Pa," panggil Tara.
"Papa akan segera mengurus surat cerai kamu dan Gio, karena Papa tidak terima kalau Lydia wanita yang berpendidikan bisa berkata seperti itu padamu."
__ADS_1
Detik itu juga hati Tara merasa tidak karuan hanya karena ia mendengar kalau Arzan akan mengurus surat cerainya dengan Gio. "Pa, jangan begini aku sama Gio tidak ada masalah apapun. Tapi kenapa Papa malah mau mengurus surat cerai kami?"
"Cukup Tara, biarkan saja Gio menikah dengan wanita lain. Karena kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Lydia, sungguh membuat Papa merasa sakit hati, Papa tidak terima kalau dia mengatakan kamu ini mandul." Arzan tidak habis pikir, ternyata mental putrinya sedang di pertaruhkan.