
Ketika ranjang di sebelahnya melesak, Kinara bergumam pelan dan berguling menjauh. Samar-samar ia merasakan selimutnya sedikit tersingkap, lalu sebuah lengan yang kokoh melingkari pinggangnya dengan posesif. Refleks, ia bergeser ke belakang hingga menempel dengan sesuatu yang liat dan hangat. Seluruh tubuhnya seketika relaks. Ia bergelung dan kembali tidur dengan nyaman.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Ia menggeliat ketika usapan-usapan lembut di perutnya membuatnya meremang, seperti ada ribuan kaki kupu-kupu berlarian di atas permukaan kulitnya, geli tetapi menyenangkan. Tak lama kemudian, sesuatu yang basah dan kenyal menyentuh bahunya, kemudian pindah ke lehernya ... lalu ke daun telinga ....
Semua ini terasa sangat nyata tetapi juga seperti mimpi. Biasanya Alex menggodanya seperti ini ketika mereka sedang bergelung di dalam selimut. Namun, bukankah ia sudah mengunci pintu dan menyuruh pria itu untuk tidur di ruang tamu? Kalau ini hanya mimpi, mengapa aroma mint yang khas menggelitik indera penciumannya?
"Umh," erangnya seraya memukulkan tangannya dengan asal.
Matanya terasa sangat berat dan enggan membuka. Ia benar-benar mengantuk dan lelah, seakan baru saja melakukan perjalanan jauh yang menguras semua tenaganya. Sepertinya ia sanggup tidur dua hari dua malam, tidak ingin diganggu sama sekali.
Kinara menarik selimut hingga menutupi kepalanya, kemudian melanjutkan tidurnya. Akan tetapi, selimutnya kembali tersingkap dan embusan napas yang berat menerpa tengkuknya lagi.
"Baby ...."
Suara yang dalam dan serak itu mengembalikan kesadaran Kinara dalam sekejap mata. Ia membalikkan tubuh dengan cepat dan langsung menopang tubuhnya untuk duduk hingga kepalanya terasa berputar.
Sambil memijit pelipisnya, Kinara mengerjap beberapa kali untuk memastikan penglihatannya tidak salah.
"Alex?" panggilnya sedikit ragu.
"Hum?"
Alex menopang kepalanya dengan lengan kanan, lalu mengulurkan tangan untuk menekan pundak Kinara agar kembali berbaring.
"Kenapa bangun tiba-tiba seperti itu?" tanyanya seraya merapikan rambut Kinara yang menutupi separuh wajahnya, "Pusing?"
Kinara menatap suaminya yang memasang wajah tanpa dosa itu lekat-lekat. Ia mencubit lengannya sendiri untuk memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi, dan ternyata rasanya sakit.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana caramu masuk? Aku sudah mengunci pintunya," cecar Kinara tanpa berkedip.
Alex terkekeh pelan dan menarik Kinara hingga menempel dengan dadanya. "Kamu tidak bisa bersembunyi dariku, Baby, hadapi itu ...."
"Berhenti tertawa. Kamu membuatku kesal saja," gerutu Kinara seraya mengambil bantal dan menutupi wajah suaminya. Semua rasa kantuknya mendadak menghilang.
Melihat Alex menyeringai seperti itu entah mengapa membuatnya tiba-tiba kesal. Sangat kesal hingga ia ingin memukuli pria itu hingga babak belur.
"Baik. Aku tidak tertawa lagi," ujar Alex sambil berusaha menyingkirkan bantal yang membekap wajahnya. Suaranya tidak terdengar jelas karena teredam benda empuk itu.
"Bagaimana kamu masuk?" tanya Kinara lagi. Ia memerhatikan wajah Alex dengan penuh rasa ingin tahu.
__ADS_1
"Em, itu ... aku membongkar pintunya," jawab Alex sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Tenang, aku sudah mengganti kuncinya dengan yang baru," sambungnya cepat ketika melihat Kinara melotot ke arahnya.
"Oh, Tuhan ... Alex, aku sangat kesal. Melihatmu saja sudah membuatku kesal setengah mati. Wajahmu sangat menyebalkan."
Kinara berguling dan menduduki perut suaminya.
"Bolehkah aku memukulmu?" tanyanya dengan ekspresi serius.
Alex membalas tatapan istrinya yang membara dengan sangat tenang. Ia meraih tangan Kinara, mengecupnya sekilas sebelum meletakkan jemari-jemari mungil itu di dadanya.
"Pukullah sebanyak yang kamu mau, Baby," jawabnya seraya tersenyum lembut.
"Jangan tersenyum seperti itu, aku tidak suka melihatnya!" geram Kinara sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
"Aku membencimu! Aku membencimu! Dasar menyebalkan! Kenapa aku bisa menyukaimu? Selalu membuatku kesal! Benar-benar menjengkelkan!" racau Kinara sambil mencengkeram kerah baju Alex sekuat tenaga.
Alex tidak bergerak sama sekali. Ia tidak bertanya mengapa Kinara memarahinya. Alex tahu, Kinara hanya mencemaskannya atas insiden tadi. Ia pun hampir gila ketika Jericho menculik istrinya waktu itu. Jadi ia pikir, reaksi Kinara saat ini tidak berlebihan.
Ia diam dan membiarkan Kinara melampiaskan semua isi hatinya. Hingga akhirnya ketika istrinya sudah melemah, ia menarik tubuh mungil itu dan mendekapnya dengan penuh rasa sayang.
Dada Kinara bergerak tak beraturan, seirama deru napasnya yang tersengal. Memarahi suaminya menguras habis semua tenaganya yang tersisa. Dan sekarang justru ia merasa sedikit bersalah pada prianya itu.
"Maaf ...," ucapnya sambil mengusap bekas pukulannya tadi, "Sakit?"
Alex menggeleng. "Tidak," jawabnya.
Ia menangkup wajah Kinara dan menyesap bibirnya yang ranum. Jemarinya menyusup ke dalam baju tidur istrinya, kemudian menarik lepas helaian kain itu. Ia mengusap permukaan kulit yang terasa lembut di permukaan tangannya.
Kinara terkesiap. Sentuhan Alex memberi efek yang luar biasa. Tiba-tiba ia merasa ... um, lebih bersemangat dan ....
"Oh," desisnya ketika wajah Alex terbenam di dadanya.
Ia menggeliat pelan ketika tangan suaminya mulai bergerilya di tubuhnya. Sesekali ia berjengit ketika telapak tangan Alex yang panas memberi sensasi yang aneh ketika melewati kulitnya yang terekspos. Ini sangat aneh. Rasanya beberapa titik di tubuhnya menjadi lebih sensitif.
Alex mendongak. Ia menatap lurus ke wajah istrinya dan bertanya, "Sudah tidak marah padaku?"
Kinara menggeleng. Ia menyusuri garis wajah suaminya dan berhenti di bibir pria itu. Setelah mengusap permukaan bibir Alex dan menatapnya dengan penuh hasrat, ia menunduk dan menyesap bibir sensual itu dengan rakus. Ia menjarah mulut suaminya hingga mereka berdua terengah-engah karena paru-paru hampir berhenti menyuplai oksigen.
__ADS_1
Tangan Kinara gemetaran ketika melucuti kemeja suaminya. Ia mengusap dada bidang itu perlahan, lalu tiba-tiba berguling turun dan berlari ke kamar mandi. Ia berjongkok di depan kloset dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Hoek! Ugh! Hoek!"
Alex melompat dari atas tempat tidur dan menyusul istrinya dengan cemas. Ia memegangi rambut Kinara sambil menepuk-nepuk pundaknya perlahan, berharap bisa sedikit meredakan rasa tidak nyaman yang dialami oleh kelinci kecilnya itu.
Kinara muntah sampai wajahnya pucat pasi. Hingga akhirnya ketika tidak ada lagi yang keluar, air mata Kinara menetes saat rasa masam dan pahit dari lambungnya naik ke pangkal tenggorokan, membuatnya hampir tersedak.
Hal itu membuat Alex sangat khawatir. Ia membantu Kinara membersihkan diri, lalu memapah istrinya kembali ke tempat tidur. Ia mengambil secangkir air dari atas meja dan mengulurkannya pada Kinara.
"Kamu sudah makan malam?" tanyanya sambil melirik ke jam dinding di sisi ranjang.
Jarum pendek menunjuk ke angka 11. Sudah hampir tengah malam. Ia menerima cangkir kosong yang disodorkan oleh Kinara dan mengembalikan benda itu ke tempat semula.
"Belum."
Kinara menggeleng lemah. Ia sama sekali tidak ingin makan apa pun sejak tadi siang. Semua aroma masakan membuatnya mual.
"Mau kubuatkan sup?" tawar Alex sambil memakaikan kembali baju tidur istrinya.
Lagi-lagi Kinara menggeleng. Sekarang ia hanya ingin tidur.
"Aku panggilkan dokter," ujar Alex lagi sembari mengambil ponselnya di atas meja.
"Tidak usah. Besok aku akan ke rumah sakit setelah pulang kuliah," cegah Kenapa, "Kemarilah. Aku ingin dipeluk."
"Tapi kamu--"
"Aku baik-baik saja," sela Kinara, "Cepat ke sini."
Dengan ragu-ragu Alex menyusul istrinya dan naik ke atas ranjang.
"Kamu yakin tidak ingin makan?" tanya Alex sekali lagi. Melihat Kinara muntah seperti tadi membuatnya cukup merasa takut. Istrinya itu bahkan tidak muntah separah itu ketika mabuk.
Kinara menarik tangan Alex hingga melingkari pinggangnya. Ia bergelung dengan nyaman lalu berkata, "Selamat malam."
"Good night, Baby," balas Alex seraya menarik selimut untuk menutupi mereka berdua.
Ia menatap wajah istrinya yang tidur dengan wajah damai dalam pelukannya. Hatinya terasa hangat. Ia mengecup pipi Kinara sekilas sebelum akhirnya ikut terlelap dalam mimpi.
__ADS_1