Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 50


__ADS_3

Raymond menatap ponsel di tangannya seolah benda itu adalah pusaka yang berharga. Namun, meski ia memandangi benda itu selama berjam-jam, tetap saja tidak ada pesan balasan. Ia sungguh tidak tahu lagi bagaimana cara menghubungi Lorie. Semua nomor yang ia gunakan untuk menelepon atau mengirimkan pesan langsung diblokir.


Bahkan nomornya dimasukkan ke daftar hitam dari kontak Kinara sehingga semua pesannya tidak pernah terkirim. Alex membuat batasan yang jelas dan tidak mau berurusan dengannya lagi. Pria itu bahkan memanggil polisis ketika Raymond bersikeras menunggu di depan gerbang utama Keluarga Smith.


Raymond sangat cemas, kesal, juga putus asa. Ia merasa telah menjadi seorang pecundang yang menyedihkan. Meski satu-satunya pesan dari Lorie adalah mengatakan bahwa dia sudah memaafkannya, tapi tetap saja, seperti ada sebuah batu yang menekan hati Raymond dengan keras dan membuatnya sesak napas setiap kali mengingat wanita itu.


Ia bangun dan berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Sejujurnya, ia sendiri tidak mengerti mengapa menjadi seperti terobsesi kepada Lorie. Hampir setiap saat, ia mencoba menggali apa penyebab ia tidak rela kalau harus melepaskan Lorie begitu saja, padahal jelas-jelas ada Alice di sisinya.


Alice, wanita yang ia cintai dan akan segera ia nikahi dalam waktu dekat. Lalu, jika ia begitu mencintai Alice, mengapa bayangan Lorie masih saja menghantuinya sepanjang waktu?


Apakah itu karena ia merasa bertanggung jawab sebab telah merenggut kesucian wanita itu? Betulkah ia hanya merasa bertanggung jawab atau karena rasa penasaran? Ataukah karena rasa ingin mendapatkan “sesuatu” yang sudah ia anggap sebagai “miliknya”?


Posesif?


Obsesi?


Entahlah, ia tidak bisa membedakannya.


“Oh, Tuhan ....”


Raymond menarik rambutnya karena frustasi. Di saat yang bersamaan, bel rumahnya berdering kencang sehingga ia terantuk kaki meja karena terkejut. Siapa yang mengunjunginya sepagi ini?


Pria itu berjalan menuju pintu dan membukakannya, lalu mematung saat melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya.


“Kejutaaan!” seru Alice seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Tanpa menunggu respon Raymond, ia langsung melompat maju dan memeluk pria itu dengan erat.

__ADS_1


“Aku sangat merindukanmu, Sayang!” serunya lagi sambil mendongak untuk mencium bibir Raymond.


Raymond yang terbengong seketika sadar ketika bibirnya terasa lembab dan basah. Ia berkedip satu kali dan menatap wajah Alice. Tunangannya itu sedang memejamkan mata dan menciumnya dengan penuh perasaan, jenis ciuman yang biasa mereka lakukan saat bertemu.


Akan tetapi, saat ini Raymond sama sekali tidak bisa menikmatinya, apalagi membalasnya. Nuraninya merasa bersalah, seolah ia sedang berselingkuh dari Lorie. Sangat konyol memang karena pada kenyataannya dirinyalah yang sedang berselingkuh dari Alice.


Raymond terkesiap karena pemikiran itu dan tanpa sadar mendorong tubuh Alice menjauh. Ia menatap tunangannya dengan linglung. Itu benar, ialah yang berselingkuh dari Alice. Perasaannya ... entah sejak kapan ... telah didominasi oleh Lorie. Ia memikirkan wanita itu setiap saat, berusaha mengingat malam yang mereka habiskan di hotel. Semakin tidak bisa mengingat, semakin membuatnya hampir gila karena frustasi.


“Ada apa, Sayang?” tanya Alice dengan kening mengernyit. Ia menatap wajah Raymond dengan ekspresi kecewa yang terlihat jelas di wajahnya.


“Kapan datang? Kenapa tidak mengabariku?” tanya Raymond setelah mengusai dirinya. Pria itu mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Alice sekilas dan memaksakan seulas senyum.


“Maaf, aku hanya terkejut,” ucapnya lagi seraya mengambil koper biru tua di samping Alice. “Ayo, masuk.”



Hati Raymond terasa pahit dan masam. Ia menunduk untuk menyembunyikan rasa bersalahnya, kemudian menjawab, “*Um*. Cukup sibuk. Maaf kalau kamu merasa diabaikan.”



“Tidak apa-apa, aku mengerti kamu melakukannya untuk masa depan kita juga,” balas Alice dengan sangat pengertian. Ia bergayut di pundak Raymond hingga dadanya yang montok menempel di lengan pria itu.



Raymond berdeham dan bergeser dengan sedikit tidak nyaman.

__ADS_1



“Aku akan ambilkan minuman. Mau yang panas atau dingin?” tanyanya seraya bangkit berdiri.



“Kamu sudah sarapan?” Alice balik bertanya.



“Belum.”



“Duduklah. Aku akan membuatkan roti panggang dan segelas susu hangat.”


Alice bangun dan langsung menuju dapur tanpa menunggu jawaban Raymond. Ia sudah pernah ke rumah pria itu sebelumnya, jadi ia sudah tahu di mana letak semua ruangan dan barang-barang yang ada di dalamnya.


Setelah memasuki dapur dan yakin Raymond tidak melihat, Alice mengepalkan kedua tangannya erat-erat dan menatap ke luar jendela dengan sorot penuh kebencian. Ia sangat benci sampai rasanya ingin menghancurkan semua perabotan yang ada di sana. Namun, wanita itu menahan semua emosinya dan mengatur ekspesi wajahnya agar kembali terlihat natural. Dengan gerakan yang stabil dan tenang, ia mengambil roti dan memasukkannya ke dalam mesin pemanggang.


Sementara itu, di ruang tamu, Raymond mengusap wajahnya berkali-kali setelah menyimpan ponsel cadangannya di dalam laci. Alice tidak boleh menemukannya.


Lihat, ia sudah semakin mirip seperti seorang peselingkuh, bukan?


***

__ADS_1


__ADS_2