
Royal Club berdiri tepat di samping Sweets Bakery yang tidak terlalu ramai. Dua bangunan itu tampak kontras, yang satu bernuansa biru muda dan cerah, sedangan yang satunya lagi terkesan megah dan mengintimidasi karena bentuk bangunan dan nuansa yang didominasi oleh warna gelap.
Ketika Lorie mendorong pintu Royal Clun, seorang wanita menyambutnya di depan pintu dan langsung memintanya untuk mengikutinya ke ruang VIP. Lorie cukup terkejut mendapati kenyataan bahwa orang-orang dari Drun Industry mengenalinya begitu ia masuk ke gedung itu. Apakah mereka menyelidiki profilnya diam-diam?
Lorie mengernyit. Tiba-tiba ia teringat perkataan Alex yang memintanya untuk berhati-hati karena orang-orang dari Drun Industry tidak sesederhana apa yang mereka tampilkan di permukaan. Tingkat kewaspadaannya meningkat ketika melihat setidaknya lima pria bersetelan hitam di sepanjang lorong menuju ruang VIP.
Sekarang aku sedikit menyesal karena datang sendiri, gerutu Lorie dalam hati.
Saat wanita yang menjemputnya membuak pintu VIP dan mempersilakannya untuk masuk, Lorie memasukkan tangan ke dalam saku jasnya dan mengaktifkan sinyal pelacak yang terhubung langsung dengan markas utama di Broockyln dan Venice. Sekarang ia sedikit merasa tenang. Setidaknya Alex tahu harus mengirim orang untuk mencarinya ke mana jika sesuatu terjadi dalam rapat dengan klien kali ini.
“Silakan duduk, Wakil CEO—“
“Panggil Lorie saja.”
Manik hitam pria di seberang meja tampak berkilat saat Lorie menatapnya. Dari penampilannya, Lorie cukup yakin pria itu adalah Rafael, pemilik Drun Industry. Rafael menyunggingkan senyum miring dan berbisik kepada seorang pria di sisi kanannya. Tak lama kemudian, pria yang baru saja dibisiki itu keluar dari ruangan.
__ADS_1
“Silakan duduk, Nona Lorie,” ucap sang wanita yang tadi mengantar Lorie.
Setelah melihat Lorie duduk, ia segera membuka koper kulit berwarna cokelat tua di atas meja dan mengeluarkan berlembar-lembar dokumen. Namun, belum sempat ia menjelaskan apa pun, suara magnetis dari seberang meja menghentikan gerakannya.
“Sabar sedikit, Grace. Kamu akan mengejutkan Nona Lorie karena terlalu serius saat bekerja.” Pria itu menyilangkan kakinya dan bersandar di sofa dengan santai. Ia menatap lekat ke arah Lorie dan bertanya, “Bagaimana kalau kita minum dulu?”
“Aku tidak minum alkohol, Tuan Rafael,” balas Lorie dengan sopan.
“Tidak masalah kalau Nona Grace ingin membahas kontrak kerja Drun Industry dengan Jotuns Corps,” lanjutnya lagi seraya tersenyum lebar.
Pria yang disapa dengan nama Rafael itu tampak tenang. Air mukanya tidak berubah sama sekali meski tawarannya ditolak oleh Lorie. Sikap yang tenang dan tak terbaca itu pastilah merupakan hasil latihan bertahun-tahun, juga setelah berinteraksi dengan begitu banyak rekan bisnis.
Sayangnya sikap yang mendominasi itu tidak membuat nyali Lorie menciut sama sekali. Alex Smith adalah guru yang sangat kompeten, dan Lorie telah mempelajari semuanya dari pria itu: kekejaman, sikap mendominasi, juga tatapan merendahkan kepada lawan. Tiga tahun adalah waktu yang cukup baginya untuk mewarisi semuanya dari Alex, dan ... oh, ia mencapai jabatan Wakil CEO bukan tanpa kerja keras. Ia mendapatkannya setelah melalui beragam ujian yang membuat mentalnya sekeras baja. Oleh karena itu, alih-alih merasa terintimidasi, Lorie pun menyilangkan kakinya dengan elegan setelah meletakkan tasnya ke atas meja.
Wanita itu kemudian membalas tatapan Rafael dengan sorot yang tajam sambil berkata, “Jotuns Corps memiliki beberapa syarat. Saya harap Anda bersedia memeriksanya sebelum kita membahas kerja sama ini lebih jauh.”
__ADS_1
Kilatan di mata Rafael tampak semakin tajam. Lorie bisa melihat minat dalam ekspresi wajah pria itu semakin bertambah.
Lorie mempertahankan posisi duduknya dan membalas tatapan Rafael dengan cara yang diajarkan oleh Alex. Jangan pernah berpaling, sedetik pun jangan. Semenyeramkan apa pun lawanmu, jangan pernah memalingkan wajah. Itu adalah cara untuk menujukkan siapa yang menjadi alpha dalam persaingan psikologis yang tak kasat mata.
“Well ... Nona Lorie, Anda tidak mengecewakanku,” gumam Rafael setelah hampir setengah menit beradu pandang dengan Lorie. “Tadinya aku pikir Anda adalah wanita lemah yang hanya mengandalkan wajah atau penampilan. Aku bersalah. Mohon maafkan kelancanganku barusan.”
“Aku akan menganggap tidak terjadi apa-apa,” balas Lorie seraya mengeluarkan map dari dalam tasnya.
Rafael memajukan tubuhnya dan memberi isyarat kepada anak buahnya agar mengambil berkas yang disodorkan oleh Lorie. Kali ini pria itu tampak sangat bersemangat dan penuh antusiasme, senyuman di wajahnya pun tampak lebih natural dan bersahabat.
Chip yang ditanamkan di tempurung kepala dan dapat mengontrol orang, siapa yang tidak tertarik?
Rafael memeriksa dokumen di tangannya dengan serius. Tiap poin yang terlampir dibacanya dengan teliti. Suasana dalam ruangan itu mendadak hening. Semua anak buah Rafael tidak ada yang berani bergerak atau pun bersuara. Lorie bahkan merasa bisa mendengar embusan napas setiap orang yang berada di dekatnya karena kesunyian yang menguasai udara.
Lembaran kertas bergemerisik saat dibalik. Tak lama setelahnya, ekspresi wajah Rafael berubah muram. Ia melemparkan dokumen ke atas meja dan menatap Lorie dengan tajam.
__ADS_1
***