
Yana menyerngit tanda ia heran karena Gio kembali tanpa membawa obat tetas manta itu. "Mana obatnya Gio?" tanya Yana.
"Maaf ma, aku sudah cari tetes mata itu tadi di kotak P3Knya, tapi aku tidak menemukannya," lagi-lagi Gio harus terpaksa berbohong. Karena laki-laki itu tidak akan mungkin mengatakan yang sejujurnya kalau Tika yang telah mengambilnya. Bisa-bisa Tara dan Yana akan menjadi curiga dan pasti dua wanita itu akan menanyakan alasan kenapa Tika bisa mengambil obat tetes mata itu. "Mama bisa lihat sendiri kalau mama masih tidak percaya sama aku," sambung Gio yang malah menyuruh Yana mengecek obat tetes mata itu sendiri.
"Bukannya mama tidak percaya sama kamu Gio, tapi ... mama rasa ini sangat aneh sekali, padahal baru tadi pagi mama beli dan menaruhnya di sana. Karena papa Arzan sangat sering sekali sakit mata, membuat mama selalu jaga-jaga, seperti kata pepatah sedia payung sebelum hujan." Yana kali ini benar-benar sangat heran. "Apa jangan-jangan, Tika yang telah mengambilnya tadi sebelum kamu, Gio?"
"Wah ma, kalau soal itu aku tidak tahu. Tapi, kalau mama masih penasaran tanyakan saja langsung pada kak Avantika," balas Gio menimpali. "Dan aku juga sepertinya mau beristirahat dulu ma, karena pekerjaan di kantor yang sangat menumpuk membuat tenagaku banyak berkurang sehingga aku merasa sangat penat."
"Iya Gio, kamu istirahat saja di kamar Tara, karena Tara juga saat ini sudah masuk dari tadi. Dan katanya juga hari ini dia sangat lelah kalian memang pasangan suami istri yang sangat luar biasa, sampai-sampai semuanya sama mulai dari makanan kesukaan kalian, hobi, dan satu lagi tidak suka dengan udang," ucap Yana ketika wanita itu mengatakan itu semua. "Pantesan saja kalian jodoh, ternyata memang benar kalau jodoh itu adalah cerminan diri kita sendiri," lanjut Yana berbicara panjang lebar dengan sang menantu.
"Nanti lagi kita lanjut ngobrolnya ma, karena mataku juga sudah sangat ngantuk."
__ADS_1
"Kalau begitu sana cepetan masuk, nanti kalau makan malam, mama akan memanggilmu dan Tara," ujar Yana.
Gio hanya membalas dengan mengacungkan kedua jempolnya saja, dan tidak lama laki-laki itu kini terlihat berjalan ke arah kamar sang istri. Dan untung saja kamar Tara terletak di lantai bawah, sehingga laki-laki itu tidak perlu menaiki anak tangga.
"Hanya satu malam saja Gio, jadi mohon bersabar untuk kali ini saja demi Tara," gumam Gio membatin. Yang kini laki-laki itu sudah terlihat berdiri di depan pintu Tara sambil mengetuk pintu itu dengan sangat pelan. Dan tanpa ia tahu bahwa pintu kamar itu tidak pernah dikunci sama sekali.
**
"Kamu sudah masuk sekarang dan mendapat bonus, jadi untuk apalagi kamu membahas itu?" Tara malah bertanya balik pada sang suami. Dan kini posisi wanita itu masih membelakangi Gio, dengan hanya menutup tubuh polosnya dengan selimut.
Sedangkan Gio tadi sudah kembali mengenakan pakaiannya. "Apa susahnya kamu menjawab aku saja, supaya suamimu ini merasa tidak diabaikan," ujar Gio yang malah semakin erat memeluk tubuh kurus sang istri.
__ADS_1
"Aku sangat ngantuk, jadi aku tidak ada waktu dan sempat untuk membalas ataupun menyahut setiap kalimatmu, Gio."
Gio malah membuka selimut sang istri. "Pakai dulu bajumu Tara, karena tadi kata mama, dia mau memanggil kita untuk makan malam bersama. Oleh sebab itu, aku takut nanti mama masuk dan melihatmu tanpa sehelai benang pun seperti saat ini," ujar Gio memberitahu sang istri.
"Mama sudah pernah muda, jadi mama sudah tahu semuanya. Untuk itu kita tidak usah merasa malu, karena hal seperti ini pasti sudah sering Mama dan Papa lakukan, sehingga aku dan Kak Tika bisa ada di dunia ini," celetus Tara menimpali sang suami.
"Kalau begitu terserah kamu saja Tara, karena aku mau tidur dulu sebentar."
"Tidur, tidur katamu tapi nanti kamu malah main kuda-kudaan," seloroh Tara. Karena entah mengapa ia merasa dunia hanya miliknya berdua dengan Gio. Jika laki-laki itu sudah bercocok tanam dengan dirinya seperti beberapa menit yang lalu. "Merem kalau kamu benar-benar ngantuk, jangan malah menatapku seperti macan yang sedang kelaparan," sambung Tara yang tahu kalau saat ini Gio sedang memperhatikan dirinya padahal posisinya masih sama seperti yang tadi. Dimana ia masih betah membelakangi sang suami.
Gio terlihat menyelimuti tubuh polos istrinya sambil berkata, "Iya aku merem, kamu juga istirahatlah karena masih ada beberapa ronde lagi." Gio terkekeh saat ia mengatakan itu pada sang istri. "Apa kamu mau beberapa ronde lagi?" tanya Gio yang sangat suka sekali menggoda sang istri. Namun, wanita yang digoda sudah tidak menjawab pertanyaannya yang tatdi, menandakan bahwa saat ini Tara sudah benar-benar tertidur. "Ish, sangat cepat sekali Tata tidur, padahal tadi mulutnya masih merespon setiap kalimatku," kata Gio sambil mengganti posisi Tara yang sedang terlelap itu. Supaya sang istri tidak membelakanginya lagi. "Tara, andai kamu tahu, aku sangat mencintaimu," gumam Gio pelan dengan cara berbisik di telinga sang istri.
__ADS_1