
Ketika melihat tembok baja yang menjulang tinggi di hadapannya, Kinara tahu mereka sudah sampai di sarang musuh. Ia meremas tas ranselnya kuat-kuat dan memaksakan diri untuk tetap tersenyum. Panik sama sekali tidak akan membantu untuk saat ini. Alex sudah berkali-kali mengajarinya untuk menghadapi situasi ini, jadi ....
"Kita akan makan siang di sini?" tanyanya pada Billy dengan ekspresi wajah setenang mungkin. Meskipun sudah tahu, ia harus tetap berpura-pura tidak mengetahui apa pun agar musuh tidak curiga, bukan?
"Hum, Alex sudah menunggumu di dalam," jawab Billy tanpa menoleh.
"Benarkah? Tapi ini tidak terlihat seperti tempat untuk makan."
Billy tidak menjawab dan terus mengemudi menuju gerbang masuk. Dua orang penjaga menghentikan mereka di depan pos. Namun, ketika melihat Billy melambaikan tangan dari balik kemudi, mereka langsung membukakan portal dan membiarkan mobil itu masuk.
Setengah lusin pasukan bersenjata lengkap langsung menyambut Billy dan Kinara di tempat parkir. Separuh wajah mereka tertutup oleh masker hitam.
Billy mematikan mesin dan keluar lebih dulu. Ia berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Kinara.
"Turunlah," ujarnya seraya berbalik menghadap pasukan yang menatap tajam ke arah mereka.
"Menyingkirlah! Kalian menakutinya!" serunya pada pria-pria itu, tapi mereka bergeming dan mengabaikan perkataan Billy.
"Ada apa ini, Billy?"
"Maaf, Nara, aku terpaksa melakukannya. Mereka meminta menukarmu dengan Elizabeth."
"Oh ...." Kinara menatap Billy dan pasukan di hadapannya bergantian. "Jadi kalian bekerja sama?" tanyanya.
"Maaf," ujar Billy sekali lagi sambil mengusap ujung hidungnya.
"Cepat jalan!" hardik salah seorang pria di dekat Kinara sambil mengarahkan popor senjatanya.
Kinara terdiam dan mengikuti pria yang baru saja membentaknya itu. Billy berjalan di sisinya dalam diam, sementara sisa pasukan yang lain mengawal dari belakang.
Tarik napas, Nara ... Alex pasti sudah di sini, jangan takut ... tarik napas, jangan takut ....
Kening Kinara mengernyit ketika tiba-tiba perutnya terasa kram. Sakit. Seluruh otot perut menegang hingga tanpa sadar kedua tangannya memegangi perut untuk meredam rasa sakit.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Billy dengan rasa cemas yang tidak dibuat-buat.
Kinara mengangguk. "Asam lambungku ... nanti juga hilang," jawabnya.
Billy semakin merasa bersalah. Seandainya ada pilihan lain, ia tidak akan memaksa Kinara untuk berada dalam situasi ini. Kalau ia diberi kesempatan, satu kali saja untuk membalas semua perbuatan Nathan, maka ia tidak akan memberi bajing*an itu balasan yang setimpal. Namun saat ini, ia hanya bisa pasrah di bawah todongan senjata, berjalan mengikuti pengawal seperti anjing kampung yang tidak berguna.
"Masuklah. Tuan sudah menunggu kalian," ujar salah seorang pengawal sambil membukakan pintu.
Perkataan pria itu membuyarkan lamunan Billy. Ia mempercepat langkahnya dan mendahului Kinara memasuki ruangan, lalu mengedarkan pandangan dengan cepat untuk mengamati keadaan. Ruangan itu cukup luas dan terlihat berbeda dengan ruangan-ruangan sebelumnya. Beberapa lusin pasukan berbaris dengan rapi di sisi kanan dan kiri. Di ujung ruangan, seperti biasa terdapat semacam kursi kebesaran untuk Nathan. Pria licik itu sedang menyeringai ke arahnya sambil bersandar dengan pongah.
Sebenarnya bede*bah itu punya berapa markas? rutuk Billy dalam hati.
Sepertinya daerah kekuasaan Nathan ada di mana-mana. Apakah mungkin ada orang pemerintahan yang terlibat di dalamnya?
"Diakah orang yang menyuruhmu?" tanya Kinara yang sudah berdiri di samping Billy. Ia menatap ke arah Nathan tanpa berkedip. Sekarang ia sudah sedikit bisa menebak mengapa pria itu mengincar Alex.
Billy tidak menjawab pertanyaan Kinara, tetapi ia bergerak secepat kilat ke samping kanan dan merebut senjata salah seorang pengawal.
"Di mana Elizabeth?" tanyanya seraya menodongkan pistol ke kepala Kinara. Ia menarik tubuh wanita itu hingga mereka berdua hampir menempel dengan tembok.
"Suruh anak buahmu untuk menurunkan senjata!" teriak Billy lagi dengan mata menatap nyalang.
Sudah sampai sejauh ini, tidak boleh melakukan kesalahan. Ia harus memastikan Elizabeth benar-benar dibebaskan, kalau tidak ... bedeba*h gila itu bisa saja menahan Lizie dan Kinara sekaligus. Itu akan menyulitkan operasi penyelamatan.
Kinara terlalu terkejut untuk memberikan reaksi. Ia hanya bisa menahan napas ketika moncong pistol menekan pelipisnya dengan kuat. Kinara tidak bisa menebak Billy sedang berakting atau sungguhan, jadi ia hanya mematung dan mencoba untuk tidak melakukan gerakan sekecil apa pun.
Dalam situasi yang menegangkan itu, tiba-tiba suara tawa yang dalam dan berat bergema dalam ruangan. Nathan terbahak hingga wajahnya memerah, tetapi tidak ada satu orang pun yang berani ikut tertawa bersamanya.
"Well ... well ... tak kusangka serangga busuk sepertimu rupanya cukup pintar," ujar Nathan seraya turun dari singgasananya. Ia berjalan mendekati Billy dan Kinara dengan sangat perlahan.
__ADS_1
"Kau tahu aku selalu menepati janji," ujarnya lagi setelah berada cukup dekat dengan Billy. Ia mengeluarkan ponsel dari balik jubahnya dan menunjukkan benda itu.
"Lihat. Kekasihmu sudah berada di depan kantor polisi kota Brooklyn, tepat seperti yang kau minta," ujarnya sambil menyeringai bengis ke arah Kinara.
Billy memerhatikan layar ponsel Nathan sampai Elizabeth berhasil masuk ke dalam kantor polisi. Ia akhirnya bisa menarik napas lega setelah menyaksikan tunangannya ditolong oleh salah seorang petugas polisi yang bertugas.
"Sekarang berikan wanita itu dan enyahlah dari hadapanku!" perintah Nathan tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Kinara.
Kali ini giliran Billy yang terkekeh pelan. Ia harus mengulur waktu. Ia tidak tahu apakah Alex berhasil menemukannya dan Kinara atau tidak. Lokasi ini melenceng 100% dari titik tuju semula. Ia khawatir sahabatnya itu kehilangan jejak.
"Apa yang kau tertawakan?" geram Nathan mulai kesal melihat tingkah Billy.
"Aku tidak akan melepaskan wanita ini sebelum melihat Lizie dibawa ke rumah sakit" jawab Billy dengan tenang.
"Kau?!"
"Jangan memaksaku. Wanita ini tidak akan berarti apa-apa jika mati. Mungkin justru akan menjadi motivasi yang bagus bagi Alex untuk balik mengejarmu," ancam Billy.
Sial, Alex! Di mana kamu? Cepatlah!
"Billy?" panggil Kinara pelan ketika merasakan jantung Billy berdentam di punggungnya.
"Diam!" bentak Billy. Ia bergerak seakan sedang mencekik Kinara dan berbisik, "Fokus, Nara. Bersiaplah. Kalau Alex tidak berhasil menemukan kita, maka--"
Boom!
Boom!
Boom!
Boom!
Suara ledakan dahsyat yang beruntun mengalihkan perhatian semua orang. Bangunan itu bergetar hingga kaca jendela dan lemari retak. Kemudian dalam sekejap mata, para pasukan dalam ruangan itu segera membentuk barikade dan melindungi Nathan.
Dor!
Dor!
Dor!
Ia melepaskan tiga tembakan beruntun pada dua orang pengawal yang menghadang di depan pintu, lalu mengambil senjata mereka yang tergeletak di atas lantai.
"Bunuh siapa pun yang menahan langkahmu!" seru Billy seraya menyerahkan senjata rampasannya pada Kinara.
"Baik," jawab Kinara tanpa banyak komentar.
Ia menerima pistol dari Billy dan membidik ke depan, menghabisi siapa pun yang berada dalam jangkauan tembakannya. Sesekali ia berlindung di balik pilar kalau tembakan dari musuh berhasil mendesaknya.
Boom!
Boom!
Suara ledakan kembali terdengar, disusul gema suara mesin seperti buldozer dari lantai satu. Kinara menutup telinga dan tiarap di lantai. Ini semua benar-benar kacau. Amunisinya hampir habis.
Di mana Alex?
Matanya bergerak memindai seluruh penjuru ruangan, berharap bisa menemukan bayangan suaminya di antara semua kekacauan ini. Namun, sejauh mata memandang, hanya musuh yang terus berdatangan.
"Kinara, kita harus bergerak," ajak Billy ketika melihat pasukan di depannya bertambah banyak, "Cari tangga darurat. Aku akan melindungimu, cepat pergi!"
Dor!
Dor!
__ADS_1
Dor!
Kinara melesat bak busur anak panah ketika Billy melepaskan tembakan untuk melindunginya.
Dsing!
Bugh!
"Ukh!"
Tubuh Billy terlempar dan menghantam tembok ketika sebuah peluru mengenai perutnya.
"Billy!" pekik Kinara dengan panik.
"Lari! Mereka mengincarmu. Cepat lari!"
Kinara sudah hampir menangis. Tangga darurat berada hanya sekitar satu meter di belakang mereka. Ia tidak mungkin meninggalkan Billy seperti ini.
"Bertahanlah, kita hampir sampai," kata Kinara sambil membantu Billy berdiri meski peluru terus berdesing di sekitarnya.
"Umph!" pekik Kinara ketika tiba-tiba mulutnya ditutup dari belakang, lalu tubuhnya melayang dan dengan cepat menghilang di balik pintu.
"Sssht, ini aku," bisik Alex sambil memeluk Kinara erat-erat, "Kamu baik-baik saja?"
"Mmmh ... mmmh!" Kinara mengangguk-angguk sambil memukul tangan Alex yang masih membekap mulutnya.
"Billy! Billy terluka!" ucap Kinara dengan panik setelah Alex melepaskan tangannya.
"Shhh ... tenanglah. Lorie sudah mengurusnya. Oh, syukurlah kamu baik-baik saja ...," kata Alex seraya meraih tangan Kinara dan meletakkannya di dadanya yang berdegup kencang. Berdegup sangat kencang sampai ia pikir jantungnya akan melompat keluar.
Kinara menarik napas lega dan membalas pelukan Alex. "Aku senang kamu baik-baik saja," ujarnya.
Alex menunduk dan mengecup kening Kinara sekilas.
"Pulanglah bersama Lorie dan Billy, aku masih ada urusan dengan bede*bah gila ini."
"Alex," panggil Kinara dengan wajah ragu. Ia ingin meminta suaminya untuk pulang bersamanya, tapi ia tahu semua kekacauan ini harus diselesaikan saat ini juga. Sekarang atau tidak sama sekali.
"Hati-hati. Aku mencintaimu."
Akhirnya ucapan itu yang keluar dari mulut Kinara. Ia merangkum wajah suaminya dan mencium bibirnya dengan lembut.
"Aku juga mencintaimu. Ayo, aku akan mengantarmu pada Lorie."
Alex menggengam jemari Kinara dan mendorong pintu hingga terbuka. Setelah memastikan situasi sudah aman, ia menuntun istrinya menuju tangga darurat di sebelah ruangan yang tadi mereka masuki. Ia menemani Kinara menuruni anak tangga. Sekitar 10 orang pasukan dengan perlengkapan taktis sudah menunggu di dasar tangga, di dekat pintu masuk.
Lorie muncul dari balik pintu dan tersenyum penuh kelegaan pada Kinara. "Ayo, pulang," ajaknya.
Kinara menghambur ke arah pengawalnya itu dan memeluknya dengan kuat.
"Di mana Billy?" tanyanya.
"Helikopter sudah membawanya, dia aman. Sekarang giliranmu. Ayo."
Kinara menoleh pada Alex dan mengucapkan salam perpisahan.
"Aku akan menunggumu di rumah. Cepatlah pulang," ucapnya lalu berjalan keluar dengan berat hati. Ia tahu suaminya itu memiliki kemampuan, tapi tetap saja ... ia merasa khawatir ....
"Tenanglah, tuan akan baik-baik saja," bujuk Lorie ketika melihat Kinara masih melongok dari atas heli yang sudah mengudara.
"Aku tahu. Aku tetap cemas," jawab Kinara tanpa mengalihkan pandangannya dari bangunan di bawah sana yang semakin mengecil.
__ADS_1