Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 58


__ADS_3

Daniel tercengang untuk waktu yang sangat lama setelah mendengar jawaban itu. Ia terbengong hingga Lorie takut dagu pria itu akan jatuh ke lantai.


“Kamu ... sedang bercanda?” tanya pria itu setelah pulih dari keterkejutannya.


“Tidak,” jawab Lorie tanpa berpikir dua kali. “Aku sedang hamil.”


Daniel menatap wajah Lorie lekat-lekat, lalu berpindah ke jari manisnya yang kosong. Tidak ada cincin yang melingkar di sana. Wanita itu pasti berbohong dan ingin mempermainkannya saja agar ia mundur. Jadi, ia mengangkat alisnya dan menatap Lorie dengan sorot menuduh.


Seolah bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh pria di hadapannya, Lorie tersenyum tipis dan berkata, “Aku belum menikah, itu hanya hubungan sekss kilat yang tidak disengaja. Tapi anak ini ... aku tidak mungkin menyingkirkannya hanya demi seorang pria asing yang baru kutemui beberapa hari lalu.”


Lorie mengambil hasil USG yang tadi ia masukkan ke dalam tas dan menyodorkan benda itu ke hadapan Daniel.


“Usianya sudah hampir tiga bulan,” imbuhnya.


Cahaya matahari yang memantul di permukaan kertas foto berwarna hitam putih itu terlihat menusuk mata. Dengan hati-hati Daniel mengambil lembaran itu dan memeriksanya dengan teliti. Ia menelan ludah. Ia tidak mengerti huruf-huruf kecil yang tertulis dalam angka dan singkatan di sisi kiri, tapi gambar di tengah itu, ia bisa menebak seharusnya itu adalah kantong rahim dengan bulatan sebesar biji kacang merah di dalamnya yang pasti adalah janin yang sedang bertumbuh. Lembaran kertas itu terlihat asli, sama sekali bukan hasil rekayasa.


Kali ini Daniel menatap mata Lorie dengan intens, seolah ingin menghujam ke dalam dasar jiwanya untuk mencari kebenaran dari ucapan barusan. Namun, meski hampir satu menit mereka beradu pandang, tak ada riak apa pun di permukaan yang bisa digunakan Daniel sebagai pegangan bahwa wanita itu hanya asal bicara.


Jadi ... wanita ini benar-benar hamil? Tidak sedang bercanda atau main-main?


“Karena itu, Tuan Daniel, saya harap setelah ini Anda tidak perlu—“


__ADS_1


“Hah ....”


Embusan napas Daniel yang keras membuat Lorie tidak menyelesaikan ucapannya. Ia mengernyit saat melihat ekspresi pria itu yang tidak terbaca.


Seluruh jejak keterkejutan di wajah Daniel sudah menghilang sama sekali. Kerutan di keningnya yang muncul tadi pun sudah tidak ada. Bahkan samar-samar Lorie bisa melihat ada sedikit senyum di sudut bibir pria itu.


Pria ini, apa yang sedang dipikirkannya?


Lorie hanya bisa bertanya dalam hati dan menunggu pria itu mengejeknya, atau bangun dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Apa pun itu, ia sudah siap.


Tidak, ia akan sangat senang kalau Daniel melakukan keduanya. Ia tidak peduli bagaimana cara pandang pria itu terhadapnya sekarang karena yang ia inginkan hanya kehidupan yang tenang.


Daniel menghela napas satu kali lagi sebelum berkata, “Tidak masalah, hanya perut yang membesar saja. Nanti setelah anak itu lahir, aku akan mengurus formulir adopsi agar dia benar-benar menjadi anakku.”


Pria itu sudah kembali ke mode santai, bersandar di kursi seperti seekor kucing besar yang malas.


“A-apa katamu?” tanyanya sedikit tergagap.


“Lahirkan saja, aku akan merawat kalian berdua dengan baik.”


“Kamu ... kamu ....”


Lorie benar-benar kehabisan kata-kata.

__ADS_1


“Aku tertarik kepada kepribadianmu, bukan pada tubuhmu. Aku juga bukan orang suci yang tidak pernah menyentuh wanita, jadi ... Lorie, jangan menghindariku lagi karena aku tidak akan menyerah dengan mudah.”


Ucapan yang terdengar sedikit main-main dan menggoda itu entah mengapa membuat jantung Lorie seperti dihantam oleh tangan tak kasat mata. Tiba-tiba ia merasa sesak napas.


Mengapa pria ini keras kepala sekali?


“Tuan Daniel—“


“Daniel,” ralat pria itu.


Lorie menghela napas dan mendongak. Ia memejamkan mata sesaat dan mengumpulkan semua kesabarannya yang mulai berceceran di mana-mana.


“Ini masih terlalu pagi untuk berdebat ... Daniel,” gumam Lorie sambil menggertakkan gigi, menahan emosinya yang semakin meluap. “Kita baru bertemu satu kali, berikan alasan mengapa aku harus mempercayai semua omong kosong ini? Aku bukan lagi gadis polos yang percaya cinta pada pandangan pertama dan menerima semua permen kapas yang ditawarkan kepadaku.”


Sejujurnya, Lorie semakin mencurigai apa motif Daniel yang begitu kukuh ingin mendekatinya. Apakah pria itu adalah orang yang disuruh oleh saingan Jotuns Corps dan ingin mencuri informasi berharga milik perusahaan? Pengalamannya di sisi Kinara Lee membuatnya sadar, ada tipe manusia menjijikkan yang akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuan mereka. Kalau benar begitu, maka ia tidak akan segan mencincang Daniel dengan tangannya sendiri saat kebenarannya terungkap.


Tatapan Lorie yang mengintimidasi dan penuh kecurigaan justru membuat Daniel terkekeh pelan. Irisnya bersinar cemerlang dan bulu matanya bergetar karena tawanya itu. Suara tawanya terdengar renyah dan enak didengar.


Lorie menatap Daniel dan terkesima. Sejujurnya, jika mereka bertemu dalam keadaan yang berbeda ... dua atau tiga bulan lalu ... mungkin ia akan benar-benar tertarik kepada pria itu.


Sayangnya, tidak semua hal berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, bukan?


***

__ADS_1


like woyy likeee🤣🤣


votee yang banyakk


__ADS_2