Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 95


__ADS_3

“Minggir!” seru Raymond, sengaja menabrak lengan Billy dengan keras.


Billy yang sama sekali tidak menyangka akan mendapat serangan tiba-tiba itu sudah hampir terantuk daun pintu. Kalau bukan karena ia yang berpegangan dengan erat, pasti sudah terempas ke belakang.


Bocah sialan ini!


“Berhenti!” Billy mengulurkan tangan untuk mencekal kerah baju Raymond.


Dengan gerakan yang sama cepatnya, Raymond berkelit dan menekan pangkal leher Billy dengan sangat kuat. Kekuatan yang ia gunakan itu seperti sedang menghadapi musuh bebuyutannya. Tidak ada lagi rasa segan atau hormat, atau sikap berhati-hati dalam tindakannya.


“Aku menghormatimu karena hubunganmu dengan Lorie dan Kinara, selebihnya tidak ada. Aku tidak berutang apa pun kepadamu, jadi jangan memaksaku.”


Setelah mengucapkan kalimat yang penuh penekanan dan aura membunuh itu, Raymond mendorong Billy ke samping dan melangkah maju. Bahkan Alex yang berdiri dan menatapnya dengan tajam pun tidak dihiraukannya. Ia hanya berjalan lurus menghampiri ranjang Lorie dan berhenti sekitar dua langkah di sisi wanita itu.


Lorie yang sudah mendengar semua keributan di luar tetap berbaring dengan tenang dan tidak menoleh sama sekali. Pikirannya sedang disibukkan oleh hal yang lain. Alex Smith baru saja memberitahunya bahwa orang yang menabraknya dibayar oleh Alice. Wanita tua itu terdesak dan melakukan hal gila itu demi putranya yang terjerat kasus obat-obatan terlarang. Kasus seperti itu akan menghabiskan uang berapa banyak, Lorie tahu dengan jelas. Oleh karena itu, ia juga tidak heran lagi.

__ADS_1


Di sebelahnya, Raymond yang melihat kondisi Lorie sudah lebih stabil dan tenang dibandingkan tadi akhirnya mengembuskan napasnya perlahan. Semua kemarahannya sudah menyusut setengahnya.


Tidak. Sepertinya semua kemarahannya sudah habis sama sekali. Ia hanya berdiri di sana dan menatap Lorie dengan sorot yang lembut, juga ada secercah kesedihan dalam pantulan cahaya di matanya. Semua pertanyaan yang sudah ia siapkan untuk ditanyakan mendadak lenyap. Ia merasa sedikit tersedak dan kehilangan kata-kata.


Pada akhirnya, Raymond hanya bisa membuka mulut dan bertanya dengan lirih, “Apa kamu membenciku?”


Lorie terus melamun, seolah tidak tidak mendengar pertanyaan yang ditujukan kepadanya itu. Ia seperti sedang tenggelam dalam pikirannya. Matanya menatap lurus ke langit-langit, sementara bibirnya bergerak-gerak tanpa suara. Dari raut wajahnya, terlihat seperti sedang menghitung sesuatu.


Raymond menelan ludahnya yang terasa seperti sebuah bongkahan batu. Ia hendak melangkah maju agar bisa lebih dekat dengan Lorie, tapi Dokter Ana yang berjaga di sisinya langsung menatap dengan tajam.


Rahang Raymond mengeras. Emosinya kembali tersulut melihat tingkah orang-orang di sekitar Lorie yang seakan sedang melindungi, tapi sebenarnya mereka justru sedang menjerumuskan Lorie. Bagaimana masalah ini bisa selesai kalau mereka tidak membantunya membetulkan kesalahpahaman di antara dirinya dan wanita itu?


“Apa lagi yang perlu dibicarakan?” sindir Dokte Ana. “Dia tidak ingin bertemu denganmu.”


“Ingin atau tidak, biar dia sendiri yang mengatakannya.” Raymond bersikeras dan tetap berdiri di sana. “Kesalahpahaman ini sudah berlarut-larut. Bisa dikatakan, karena kalian terus menghalangi aku untuk bertemu dengannya, maka bisa sampai pada tahap seperti ini.”

__ADS_1


“Kamu!” Billy melompat ke samping Raymond.


“Masih berani menyalahkan kami?!” tudingnya dengan penuh emosi.


Raymond mencibir.


“Kalau tidak?” balasnya. “Awalnya adalah kesalahanku. Aku ingin memperbaikinya tapi kalian bertingkah seperti induk ayam yang tidak masuk akal, melindunginya seolah aku akan memakannya hidup-hidup.”


Meski merasa ucapan itu ada benarnya, Billy tetap bersikap keras kepala dan membalas, “Kalau sejak awal kamu bisa menahan benda tidak berguna di sela pahamu itu, apa Lorie akan terluka seperti sekarang?”


“Itu juga anakku! Kamu pikir aku tidak terluka?” Raymond mengamuk. “Coba katakan, apa yang akan kau lakukan jika aku menyembunyikan istrimu tanpa kamu tahu kalau dia sedang hamil, lalu tiba-tiba aku mencarimu dan memberitahumu ‘Oh, maaf, anakmu sudah tidak ada. Tadinya istrimu hamil, tapi sekarang sudah tidak lagi. Dia keguguran. Ini salahmu!’. Kamu sialan!”


Raymond menghela napas panjang dan kembali berseru, “Kamu bahkan tidak sempat menyentuh anakmu yang berada dalam perut istrimu, tidak sempat berbicara dengannya, tidak sempat mendengar detak jantungnya. Apa kamu akan rela?! Apa kamu tidak akan menyalahkan aku?!”


Hening.

__ADS_1


Keheningan yang panjang ....


***


__ADS_2