
Raymond berdiri di depan pintu kamar 120 sejak pukul enam pagi, mengabaikan tatapan curiga dari orang-orang yang melintas, juga menjelaskan berulang kali kepada satpam yang bertanya bahwa ia tinggal di kamar 121 dan sedang menunggu temannya di kamar 120.
Ia ingin menghadang Lorie sebelum wanita itu keluar dan pergi entah ke mana. Panggilannya tidak diangkat, pesannya pun tidak dibalas. Sekarang justru hanya suara operator yang terdengar setiap kali ia menghubungi nomor telepon wanita itu, mengatakan bahwa nomor yang dituju sedang berada di luar jangkauan. Hal itu membuat Raymond semakin frustasi.
Lorie seolah menghilang dari bumi ... atau mungkin karena ingin menghindarinya, atau ... jangan-jangan dia sudah check out dari hotel?
Pemikiran itu membuat Raymond tersentak. Ia meluruskan postur tubuhnya yang tadinya bersandar ke dinding, kemudian berlari ke arah lift dan turun ke bagian resepsionis. Seorang gadis yang sedang bertugas di balik meja bahkan hampir melompat karena terkejut karena tiba-tiba seorang pria tampan meluncur ke arahnya dengan kecepatan maksimal.
“Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya seraya mengangkat tangan untuk menekan dadanya yang berdetak kencang. Kehadiran pria itu benar-benar mengejutkannya.
“Apakah tamu di kamar nomor 120 sudah check out?” tanya Raymond.
“Maaf, Anda adalah ...?”
“Saya Raymond Dawson, teman dari Nona Lorie, tamu di kamar nomor 120. Saya menginap di kamar 121.”
“Baik, Tuan Raymond. Saya akan memeriksanya sebentar.” Gadis itu menggerakkan mouse dan membuka laporan check out tamu hotel. Tidak sampai satu menit, hasilnya sudah tertera di layar komputer.
“Nona Lorie belum check out, Tuan.”
Alis Raymond bertaut. Belum check out? Lalu ke mana perginya dia? Dia tidak terlihat sejak kemarin. Apa wanita itu benar-benar bersembunyi di dalam kamarnya sepanjang waktu?
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap pria itu sebelum melesat menuju lift dan kembali ke kamar Lorie.
Ia menggedor pintu kamar itu dengan cukup keras sambil memanggil nama Lorie. Akan tetapi, meski ia sudah mengetuk dan memanggil hingga lebih dari setengah jam, tetap tidak terdengar suara apa pun dari dalam kamar. Di saat ia benar-benar sudah hampir putus asa, seseorang menepuk pundaknya dari belakang, membuatnya berjengit dan menoleh dengan penuh harap. Namun, saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya, ekspresi yang bersemangat itu perlahan menjadi layu.
“Ada apa, Raymond? Kenapa berdiri di situ?” tanya Alice. Di sisi tubuhnya ada sebuah koper silver besar.
Raymond mengulas senyum yang tampak kaku dan tidak alami. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengusap wajahnya dengan tangan. Bagaimana ia sampai lupa kalau Alice akan datang hari ini. Mereka sudah membicarakannya kemarin. Wanita itu sudah selesai melakukan fashion show di Kota Venice, hari ini dia akan berangkat ke Boston. Dan Raymond sudah berjanji untuk menemaninya pergi ke sana. Akan tetapi, dengan situasi seperti sekarang ini ... tidak mungkin ia meninggalkan Lorie begitu saja tanpa memberikan penjelasan apa pun.
“Apa terjadi sesuatu kepada Lorie?” tanya Alice lagi saat melihan Raymond hanya menyugar rambut dan mengusap wajahnya berulang kali.
“Bisa dibilang begitu,” jawab Raymond sambil melirik sekilas ke pintu kamar di sampingnya yang masih bergeming.
“Ada apa?””
Raymond membuka pintu kamarnya dan membantu Alice membawakan kopernya. Ia meletakkan benda itu di tengah ruangan dan meminta Alice untuk duduk di sofa.
“Jam berapa kamu berangkat?” tanya pria itu.
Wajah Alice mengerut. Bukankah mereka sudah membicarakannya semalam? Jangan bilang kalau tunangannya itu mendadak berubah pikiran. Apakah ada kaitannya dengan Lorie?
Meski benaknya dipenuhi spekulasi dan rasa tidak nyaman, wanita itu tetap menjawab, “Pukul empat sore. Kita sudah membahasnya kemarin, Sayang. Kamu lupa?”
__ADS_1
“Tidak ... bukan begitu ... tidak bisakah ditunda? Maksudku, bagaimana kalau kamu berangkat besok pagi? Masih ada yang harus aku—“
“Apa ini ada hubungannya dengan Lorie?”
“Um ... bisa dibilang begitu ....”
“Sebenarnya, apa hubunganmu dengannya? Benarkah hanya teman?” cecar Alice yang mulai curiga. Tingkah Raymond benar-benar berubah sejak kemunculan Lorie.
“Kami hanya teman lama, Alice. Tapi aku merasa bertanggung jawab untuk keselamatannya... dia menghilang sejak kemarin. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Kalau dia belum muncul sampai nanti malam, aku akan menghubungi polisi dan—“
“Kamu pergi denganku hari ini atau kita tidak akan pernah bertemu lagi,” ucap Alice dengan sungguh-sungguh. Kini ia sepenuhnya sadar bahwa perempuan bernama Lorie itu adalah sebuah ancaman. Ancaman yang sangat berbahaya sehingga ia harus memisahkan Raymond sejauh mungkin dari wanita itu!
***
Haii..
terima kasih untuk kalian yang udah mampir (lagi) di sini, peluk cium untuk kalian semua😘😘😘
jangan lupa like,komen,vote yaa
makasihh
__ADS_1
love
~B