
Entah sudah berapa lama ia terbaring di atas ranjang, Kinara tidak mau menghitungnya lagi. Setiap hari terasa berjalan dan sangat lambat. Ia hanya bisa melihat matahari muncul lalu perlahan kembali terbenam dari balik jendela rumah sakit. Untungnya Alex selalu menemaninya sehingga semuanya tidak terlalu membosankan. Selain itu, bisa dikatakan suaminya memindahkan hampir separuh isi rumah mereka ke ruangan ini. Mulai dari tempat tidur, lemari pakaian, set meja dan kursi, juga beberapa pajangan dan jam dinding.
Oh, jangan tanyakan bagaimana caranya karena ketika ia membuka mata untuk yang kedua kalinya, seluruh isi ruang perawatannya telah berubah drastis. Ketika ia bertanya mengenai make over itu, Alex mengatakan bahwa dia melakukan hal itu agar Kinara merasa lebih nyaman dan bisa lekas pulih. Kinara hanya bisa menghela napas dan membiarkan suaminya melakukan apa pun yang bisa membuatnya merasa senang. Lagipula, siapa yang bisa menghalangi pria itu, bukan?
“Morning, Baby,” gumam Alex dengan suara serak. Ia berguling dari atas tempat tidurnya dan bergeser ke arah istrinya. Pria itu memang sengaja menempatkan ranjangnya di samping milik Kinara agar mereka dapat tidur bersisian.
Kinara mengulurkan tangannya yang tidak digips untuk mengusap pipi suaminya.
“Morning, Sayang. Tidurmu pulas?”
Alex mengangguk. Ia meraih tangan Kinara dan menciumnya dengan penuh rasa cinta.
“Sudah bangun dari tadi?” tanyanya.
“Hum, lumayan.”
Alex menoleh sekilas pada jam dinding yang menempel di dekat jendela. Baru pukul lima. Cepat-cepat ia turun dari ranjang dan berdiri di samping Kinara. Ia memerhatikan seluruh tubuh istrinya dengan tatapan serius dan was-was.
“Ini masih terlalu pagi, kenapa sudah bangun? Ada yang sakit? Mana yang tidak nyaman? Kenapa tidak membangunkanku?” cecarnya seraya menyentuh kening istrinya dengan punggung tangannya.
Melihat Alex merasa cemas dan gugup membuat Kinara menyeringai lebar. Pria itu menjadi 10 kali lebih over protektif dibanding sebelumnya. Hal itu membuat Kinara tidak tahu harus merasa tersanjung atau tertekan.
“Tenanglah. Aku baik-baik saja. Hanya tidak bisa tidur lagi setelah perawat datang memeriksaku tadi.”
“Kamu menakutiku, Baby,” ujar Alex sambil menyugar rambutnya lalu menarik napas penuh kelegaan.
Seringai di wajah Kinara berubah menjadi tawa pelan. Ia member isyarat pada Alex agar mendekat.
“Tolong tanyakan pada dokter, apakah aku sudah bisa duduk di kursi roda? Aku benar-benar sangat bosan terus berbaring di sini. Bisakah kita menghirup udara segar di luar sebentar?”
Alex tampak berpikir sejenak sebelum berkata, “Aku tidak bisa memutuskannya, Baby. Kita harus konsultasi dengan dokter lebih dulu. Kamu tahu itu. Aku akan membicarakannya dengan dokter Ana ketika dia berkunjung nanti. Oke?”
“Baiklah,” jawab Kinara sembari mengerjapkan matanya dengan cepat sebagai pertanda bahwa ia merasa sangat antusias. Ia belum berani menggerakkan kepalanya untuk melakukan gerakan seperti mengangguk.
"Aku akan mandi dulu sebentar," ujar Alex seraya mengecup kening istrinya.
“Oke,” balas Kinara dengan patuh sambil menatap wajah Alex yang tetap tampan meski baru saja bangun tidur.
Sangat aneh. Mengapa ia baru menyadari hal ini sekarang? Padahal sudah ratusan hari mereka tidur dan bangun di atas ranjang yang sama. Dan, mengapa ia tiba-tiba sangat ingin ... oh, ya Tuhan. Pemikiran yang tiba-tiba itu membuat wajah Kinara bersemu.
__ADS_1
“Hey, kenapa wajahmu memerah?” Alex menangkup pipi Kinara dan melihatnya dengan penuh rasa ingin tahu. “Apa yang sedang kamu pikirkan?”
Hidup bersama selama hampir sembilan bulan membuatnya sedikit banyak mulai mengenali karakter istrinya. Wanita itu selalu bersemu ketika ada sesuatu yang sedang dipikirkannya, hal-hal yang berkaitan dengan ... em, urusan ranjang.
"Tidak ada!" seru Kinara cepat, "Aku hanya sedang ingin makan ramen."
Sebenarnya, makanan itu memang terus terbayang di kepalanya sejak membuka mata tadi. Semuanya karena siaran kuliner di televisi yang ia tonton semalam sebelum tidur. Isi kepalanya menjadi seperti dihipnotis oleh kuah kental dan panas yang mengepul dari permukaan mie kenyal beserta irisan daging panggang yang lembut dan juicy. Oh, astaga ... tiba-tiba ia menjadi sangat lapar!
"Ramen?" ulang Alex dengan kening mengernyit.
"Ramen dengan kuah miso," jawab Kinara mantap. Air liurnya hampir benar-benar hampir menetes. Aneh kuadrat. Mengapa isi pikiran dan keinginannya bisa berubah secepat ini? Apakah karena pengaruh hormon kehamilan?
"Kamu sangat ingin memakannya?" tanya Alex lagi, seakan ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
Seumur hidup, ia belum pernah mencicipi rasa makanan itu. Kinara pun tidak terlihat pernah memakannya selama mereka bersama, atau mencoba memasaknya sendiri. Jadi, ia menatap wajah dan perut istrinya bergantian dengan sorot menyelidik. Apakah hal ini yang disebut mengidam?
"Hum, ingin sekali." Kinara menggenggam jemari Alex dengan ekspresi serius. "Bisakah kamu mencarikannya untukku?"
Sepagi ini, mungkin para penjual ramen juga belum ke pasar untuk membeli bahan-bahannya. Apa yang harus aku lakukan?
Alex tiba-tiba merasa sangat panik dan gugup. Bagaimana kalau ia tidak bisa memenuhi keinginan istrinya? Apakah wanita itu akan marah dan mendiamkannya seharian? Benar-benar cobaan yang berat ....
"Oke. Tidak masalah. Aku bisa menunggu."
Kriuuuk ....
Kruuuk ....
Kinara menatap perutnya yang tidak mau bekerja sama dan tidak tahu harus melakukan apa.
Ia mendongak dan berkata, "Jangan khawatir, aku--"
"Aku pergi sekarang," sela Alex seraya berlari menuju kamar mandi.
Ia mencuci muka dengan cepat, menggosok gigi ala kadarnya, lalu kembali melesat keluar dan mengambil mantelnya yang tersampir di sandaran kursi. Persetan dengan mandi. Ia bisa melakukan hal itu setelah kembali nanti.
"Lex, pelan sedikit. Jangan terlalu buru-buru," ujar Kinara ketika melihat suaminya bergerak dengan sangat cepat ke sana ke mari.
Alex menghampiri istrinya, menunduk dan menciumi bibir wanita itu sekilas, lalu mengecup permukaan perutnya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, oke? Makanan kalian segera datang."
"Terima kasih, Sayang," ucap Kinara sambil menyunggingkan senyuman terbaik di wajahnya.
"Jangan ke mana-mana, aku akan meminta Lorie naik untuk menemanimu," ujar Alex sembari menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya. Setelah melayangkan satu ciuman singkat lagi di kening Kinara, ia melesat dan menghilang di balik pintu.
Kinara memutar bola matanya. Memangnya ia bisa ke mana dengan semua peralatan medis yang masih menempel di tubuhnya? Belum lagi gips di tangan dan kaki. Ia pasti terlihat seperti mumi dari Mesir.
Ia menekan tombol di sisi ranjang sehingga benda itu bergerak naik. Setelah posisinya dirasa cukup nyaman, Kinara melepaskan tangannya dan membetulkan posisi bantalnya agar menyangga punggungnya dengan baik.
"Hey, boleh aku masuk?" tanya Lorie sambil mengintip dari balik daun pintu.
"Duduklah di sini," jawab Kinara sambil menunjuk kursi di sebelah tempat tidurnya.
Lorie berjalan masuk dengan penampilan acak-acakan, meski begitu ekspresi wajahnya tidak menunjukkan rasa keberatan sama sekali.
"Alex membangunkanmu?" tanya Kinara ketika melihat Lorie menguap.
"Yeah. Um ... bisa dibilang tuan hampir mendobrak pintu kamarku," jawab Lorie sambil terkekeh pelan.
"Oh, ya ampun. Pria itu benar-benar ... maafkan aku, Lorie."
"Tidak apa-apa. Jangan dipikirkan." Lorie mengempaskan bokongnya di atas kursi. "Ngomong-ngomong, kenapa tuan terburu-buru seperti itu?"
"Itu ... aku ingin makan ramen," jawab Kinara sambil tersenyum kikuk.
"Ramen?"
"Hum."
"Memangnya ada yang sudah buka sepagi ini?"
Pertanyaan Lorie membuat Kinara terpaku. Mengapa ia tidak memikirkan hal itu sebelumnya? Alex pasti kebingungan.
Lorie cepat-cepat menutup mulutnya setelah mengucapkan perkataan barusan. Ia tidak ingin membuat Kinara merasa tidak enak atau bersalah. Namun, sepertinya sudah terlambat. Raut muka Kinara yang tadinya ceria kini berubah drastis.
"Tolong hubungi suamiku, minta dia kembali ke sini saja. Aku bisa menunggu sampai agak siang."
Mati aku. Tuan pasti akan menendangku sampai ke luar angkasa ....
__ADS_1
***