
Alex Smith dan Billy tiba setengah jam kemudian setelah dikabari oleh Raymond. Alex hanya memakai kaus oblong hitam polos dan celana satin yang entah bagaimana tetap membuatnya terlihat agung dan berwibawa. Sedangkan Billy memakai setelan piyama bergambar buah stoberi, tapi Raymond sungguh tidak punya minat untuk tertawa.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Alex dan Billy hampir bersamaan.
“Dia ... seperti tidak mengenaliku tadi,” jawab Raymond pelan. Ia menatap dua orang pria yang tampak khawatir di hadapannya itu dan menambahkan, “Dokter Ana masih di dalam. Mungkin—“
Ceklek.
Suara pintu yang terbuka otomatis menghentikan kalimat Raymond. Ketiga pria itu menoleh serentak ke arah Dokter Ana yang muncul dari balik pintu.
“Oh, bagus sekali kalian sudah berkumpul di sini,” ucap wanita itu seraya menggosok-gosokkan kedua tangannya.
Dari penampilan itu, Raymond sudah bisa menebak bahwa akan ada kabar buruk. Ia yang lebih dulu melangkah maju dan bertanya kepada dokter wanita itu.
“Bagaimana keadaannya? Apakah ada kemungkinan amnesia?”
“Ah ... ya ... aku hampir lupa bahwa Anda adalah seorang dokter, Tuan Dawson.” Ana menatap pria yang tampak lusuh itu dengan ekspresi yang tidak terlalu bagus.
“Itu memang amnesia disosiatif,” imbuhnya sebelum mengembuskan napas dengan tak tak berdaya.
__ADS_1
“Amnesia apa?” tanya Billy.
“Amnesia disosiatif. Kondisi ini merujuk pada suatu kehilangan ingatan akan suatu peristiwa atau kejadian tertentu yang tidak bisa dijelaskan dengan kondisi kehilangan memori biasa seperti lupa di mana meletakkan kunci mobil atau kacamata. Hal ini dapat terjadi saat alam bawah sadar seseorang ingin memblokir informasi tertentu, biasanya kejadian yang berhubungan dengan trauma atau stres, atau karena cedera kepala berat. Dalam kasus Lorie, ini adalah perpaduan keduanya,” jelas Dokter Ana dengan bahasa sesederhana mungkin.
“Apakah itu bisa disembuhkan?” tanya Alex.
“Dengan beberapa terapi, seharusnya bisa.”
“Lalu bagaimana dengan kondisi fisiknya?” timpal Raymond.
“Cukup bagus, tidak ada kendala yang cukup berarti. Mungkin hanya akan tersisa efek samping dari gegar otak seperti mual dan muntah, lebih sensitif terhadap cahaya dan bising, juga gangguan tidur dan depresi.”
“Itu terdengar buruk,” gerutu Billy. “Apanya yang cukup bagus?”
“Oh, itu merujuk kepada kepadatan tulang dan tingkat pemulihan cedera organ dalam, Tuan Billy. Proses penyembuhannya cukup bagus.”
“Apa kami bisa menemuinya sekarang?” tanya Alex dan Raymond hampir bersamaan.
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertemu dengannya,” ujar Billy seraya merangsek masuk. Alex dan Raymond menyusul di belakangnya.
“Lorie, apa kamu mengenaliku?” tanya Billy penuh harap.
Meski Alex tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi tampak jelas dari wajahnya kalau ia juga merasa ingin tahu akan respon Lorie. Sementara itu, Raymond tidak bersuara sama sekali. Ia tahu bisa menebak bahwa wanita yang setengah berbaring di atas ranjang itu tidak mengenalinya tadi.
Setelah mengamati wajah Alex dan Billy bergantian, kening Lorie mengernyit dalam, membuat guratan-guratan halus di keningnya terlihat seperti lipatan tanggul di lereng bukit.
Wanita itu menggeleng pelan sambil menjawab, “Tidak.”
Billy terkesiap. Sedangkan Alex, meski tetap berdiri dengan tenang, tapi ada sedikit keterkejutan dalam sorot matanya.
“Kalian adalah?” Lorie balik bertanya.
“Aku Billy, dia Alex, kami adalah keluargamu. Dan yang satu itu adalah Raymond Dawson, temanmu.”
__ADS_1
Batas yang jelas yang diciptakan oleh Billy membuat Raymond ingin membantah, tapi sekejap kemudian ia sadar bahwa pernyataan pria itu sepenuhnya benar. Dia hanyalah teman Lorie, tidak lebih. Akan tampak canggung dan aneh kalau ia membantah ucapan itu sekarang. Oleh karena itu, ia hanya bisa memasang senyum kaku ketika Lorie menatap ke arahnya.
“Aku tidak kenal.”
Tiga suku kata itu terdengar dingin dan kejam. Tiba-tiba Raymond benar-benar ingin mengatakan bahwa mereka bukan sekadar teman biasa. Mereka sudah pernah tidur bersama, meski hanya satu kali, dan ia sudah menjaga wanita itu selama 15 hari. Itu bukan waktu yang singkat untuk ....
Ah, lupakan.
Pada akhirnya Raymond hanya bisa menghela napas dan membalas, “Tidak apa-apa kalau tidak ingat. Ini sudah larut. Istirahatlah. Mungkin ingatanmu akan lebih baik besok.”
“Itu benar! Cepat tidur. Aku dan Alex akan kembali besok.” Billy mengamini perkataan Raymond.
Ia mengulurkan tangan dengan hati-hati untuk memeluk Lorie, kemudian berjalan keluar dari ruangan itu. Alex menyusul tak lama kemudian, menyisakan Raymond seorang diri yang masih mematung di tempatnya.
Sesungguhnya, hanya Tuhan yang berapa banyak kalimat yang ingin ia ucapkan. Namun, pada akhirnya ia tidak sanggup mengatakannya sama sekali.
“Lorie ... aku akan kembali besok,” ucap pria itu sebelum berbalik dan pergi.
Dokter Ana membantu Lorie berbaring dan menyuntikkan obat pereda nyeri, lalu menarik selimut hingga ke pinggang wanita itu. Tatapan mereka bertemu di udara dan saling mengunci selama beberapa detik.
Lorie lebih dulu mengerjap dan mengalihkan pandangannya sambil bergumam, “Terima kasih, Dokter.”
“Istirhatlah,” pesan Dokter Anda sambil mematikan lampu utama.
Ia memberi isyarat kepada tiga orang perawatnya untuk keluar bersamanya, sedangkan satu orang tetap tinggal untuk berjaga.
Setelah semua orang pergi, hanya tersisa keheningan yang panjang di dalam kamar. Lorie menarik napas pelan dan mencoba untuk menutup mata.
Semua akan baik-baik saja ....
***
Sumber:
https://www.sehatq.com/artikel/amnesia-disosiatif-gejala-penyebab-dan-perawatannya
__ADS_1
https://www.alodokter.com/kondisi-yang-dialami-saat-gegar-otak