Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 42


__ADS_3

Rafael berhenti merangkak ketika melihat Lorie berjalan menghampirinya, selangkah demi selangkah ... wanita itu terlihat seperti dewi kematian yang sedang menjemput. Tidak ada belas kasihan dari sorot matanya, ekspresi yang begitu kejam dan dingin ... Rafael benar-benar memilih untuk mati saat itu juga. Ia menundukkan kepala dan mencoba untuk menggigit lidahnya sendiri, tapi seorang pengawal dengan sigap menendang wajahnya hingga lehernya terasa seperti akan patah. Ia mengaduh kesakitan ketika darah mengucur dari hidungnya yang bengkok.


Rafael bukannya tidak pernah mencoba untuk bunuh diri sebelumnya, tapi pengawal Alex selalu berada di sekelilingnya, menjaga agar ia tetap hidup sekaligus menginginkan kematian di waktu yang bersamaan. Orang-orang itu selalu menyuntikkan obat—entah apa—yang membuat kesadarannya tetap terjaga, yang membuat detak jantungnya kembali ke ritme semula, meski berkali-kali pula ia berada di ambang kematian.


Lorie berjongkok di depan pria itu dan menatapnya lekat-lekat.


“Sangat ingin mati?” tanyanya.


Rafael menggeleng cepat. Ia bukannya benar-benar ingin mati, hanya sudah tidak bisa menahan siksaan lagi. Rasa sakitnya terlalu menyiksa. Setiap kali ia bergerak, tempurung lututnya berdenyut hebat seolah tungkainya akan terlepas kapan saja. Belum lagi luka di pangkal pahanya yang bernanah. Bahkan ia sendiri tidak berani memeriksa sudah separah apa infeksinya.


“Ma-maafkan aku ... a-aku mo-hon b-belas ka-kasih-an, No-na Lorie ....” Pria itu tergagap-gagap sambil menangis. Air mata mengalir di pipinya yang tirus dan kusam. Tak lama kemudian, bau busuk bercampur pesing menguar di udara.


Lorie melirik ke pangkal paha Rafael dan mencibir saat melihat genangan air yang melebar di sana. Rupanya pria itu sangat ketakutan sampai terkencing di celana. Pria yang dulu begitu jemawa kini terlihat seperti gelandangan di pinggir jalan. Kedua tangannya menggapai ke depan, hendak memegang kaki Lorie, tapi dua orang pengawal menyeretnya menjauh hingga ia kembali meraung karena rasa sakit yang sangat mendera setiap inchi tubuhnya.


“Saat kamu menyiksaku waktu itu, pernahkah terpikirkan olehmu bahwa saat seperti ini akan tiba?” tanya Lorie dengan ekspresi sangat serius.



“Tentu saja tidak,” jawab Dokter Ana yang tiba-tiba ikut berjongkok di samping Lorie. “Bajingan seperti ini, tidak akan berhenti sebelum mati. Kalau kamu mengampuni dan melepaskannya sekarang, dia hanya akan berbalik untuk menyerangmu lagi.”

__ADS_1



Wanita itu menyentil ujung jarum yang dipegangnya, kemudian menyeringai lebar sambil menatap wajah Rafael. Tanpa aba-aba ia menancapkan jarum itu di bahu Rafael dan menekan dengan kuat hingga seluruh cairan dalam tabung berpindah ke dalam aliran darah pria itu.



“A-apa ...?”


Rafael melotot. Lidahnya mendadak terasa kebas. Ia tidak bisa meneruskan perkataannya. Ia mencoba bergerak, tapi seluruh ototnya seperti di-shut down, tidak bisa digerakkan sama sekali. Pria itu semakin panik. Apa yang baru saja disuntikkan ke tubuhnya?


“Aku sudah memperbaiki formula obat bius yang kamu berikan kepada sahabatku. Bagaimana rasanya? Apa kamu menyukainya?” tanya Dokter Ana seraya tersenyum puas. “Semua obat milik perusahaanmu telah dipatenkan atas nama Jotuns Corps. Tentu saja dengan peningkatan fungsi dan formula. Drun Industry ... nama itu tidak akan pernah muncul lagi selamanya. Sudah rata dengan tanah. Apakah kamu tahu itu?”


Wanita itu pergi mengambil sebuah belati bergerigi dari kotak kaca, kemudian memberikan benda itu kepada Lorie. Ia tahu Lorie ingin membalas pria itu dengan tangannya sendiri.


“Terima kasih, Ana,” gumam Lorie seraya memainkan belati di tangannya. Meski kepalanya terasa berat dan tungkainya sudah mulai gemetar, tapi ia merasa jauh lebih bersemangat.



“Aku ingin tangannya,” ucapnya kepada salah seorang pengawal yang berdiri paling dekat dengannya.

__ADS_1



Dengan sigap pria itu menyeret kedua tangan Rafael ke depan Lorie. Sementara itu, Rafael yang ingin meronta sama sekali tidak bisa melakukan apa pun meski ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya. Air mata kembali mengalir di pipinya. Ia menatap Lorie dengan sorot penuh permohonan, tapi tentu saja hal itu tidak berpengaruh apa pun.


Dengan santai Lorie mengangkat belati dan mengayunkannya ke jari-jari Rafael. Suara besi yang menghantam daging dan tulang membuat telinga ngilu, apa lagi saat pisau tergelincir dan menggesek lantai, membawa serta kulit yang terkelupas dan sepotong daging.


“Oh, sial. Aku meleset,” gumam Lorie seraya membetulkan letak tangan Rafael dengan ujung belati.


“Tangan keparat ini ... Rafael, bukankah aku sudah mengatakan akan mencincang tubuhmu dan memberi makan anjing liar?” Lorie mengernyit dan menatap Rafael. Ekspresi wajahnya seolah menunjukkan bahwa ia sedang berpikir keras.


“Aku lupa, apakah aku mengatakannya atau tidak?” tanyanya lagi seraya mengangkat tangan dan kembali mengayunkan belati ke jari-jari Rafael.


Air mata, darah, urine, semuanya berkumpul menjadi satu. Urat-urat di pelipis Rafael berdenyut setiap kali Lories mengayunkan belati di tangannya dengan asal-asalan. Pria itu hanya tidak bisa bergerak dan tidak bisa bersuara. Selain kedua hal itu, ia bisa merasakan semuanya dengan sangat jelas, terutama rasa sakit yang membuatnya hampir gila.


Sialnya, setiap kali ia merasa sudah hampir pingsan, wanita di samping Lorie selalu menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya sehingga ia kembali terjaga. Terjaga dan tersiksa setiap kali tulangnya berderak patah, atau daging dan ototnya dikerat dari tubuhnya.


Sungguh, itu adalah neraka. Neraka yang tidak pernah disangkanya.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote yaaa, Kesayangan ❤


__ADS_2