
Entah sudah berapa lama Raymond terpekur dan larut dalam pikirannya. Waktu yang bergulir begitu cepat bahkan tidak terasa olehnya. Ia memejamkan mata sesaat untuk beristirahat, tapi rupanya tanpa sadar justru jatuh tertidur. Sudah cukup lama ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Mungkin karena pengaruh alkohol, ia langsung terlelap begitu memejamkan mata.
Untuk pertama kali dalam tiga bulan terakhir, ia tidak memimpikan apa pun dan tidak merasakan kegelisahan. Semua beban dan rasa tidak nyaman dalam hatinya seolah terangkat begitu saja.
Sayangnya, itu tidak bertahan lama. Seorang pelayan mengguncang pundak Raymond dengan hati-hati, takut akan mengejutkannya.
Meski begitu, Raymond tetap terlonjak dan menatap ke sekeliling dengan linglung. Seluruh aliran darah dalam tubuhnya seolah berputar dan menghantam kepalanya dengan keras. Ia sudah hampir muntah.
“Tuan, apa kami perlu memanggil seseorang untuk mengantar Anda pulang?”
Raymond mencari asal suara dan menyadari ada dua orang pria yang berdiri di sisi kirinya. Satunya adalah pelayan, sedangkan pria yang satu lagi sepertinya adalah manajer. Sepertinya orang yang baru saja bertanya adalah sang manajer. Sekilas Raymond bisa melihat bahwa kedua orang itu mencoba untuk tersenyum dengan sopan kepadanya, tapi ia tidak memiliki minat untuk berbasa-basi.
Ia bangun dan berkata, “Tidak perlu.”
Tubuhnya yang sempoyongan keluar dari tempat itu, terlihat kesepian dan sedikit menyedihkan. Manajer dan pelayan club akhirnya bisa bernapas lega. Tadinya mereka sudah sedikit ketakutan. Jangan sampai ada orang yang mati di tempat mereka karena terlalu banyak meminum alkohol. Itu tidak akan bagus untuk bisnis.
Saat tiba di luar club, Raymond baru menyadari rupanya hari sudah menjelang pagi. Hanya tersisa beberapa kendaraaan di tempat parkir. Pantas saja ia diusir dari dalam. Keningnya mengernyit dalam. Berapa lama ia tertidur?
Raymond membiarkan embun dan udara dingin menerpa wajahnya sejenak, memberi kesejukan dan mengembalikan kesadarannya secara penuh. Rasa pusing akibat alkohol sudah berkurang banyak, hanya saja isi kepalanya kembali ke keadaan semula: persis seperti benang kusut.
Setelah menghela napas panjang, Raymond masuk ke mobil dan berkendara pulang. Karena kondisi jalanan yang masih lengang, tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di rumahnya.
Saat memasuki pekarangan dan lampu sorott mobil mengarah ke depan pintu, wajah Raymond berubah beku. Tiba-tiba ia merasa menyesal telah pulang terlalu awal. Seharusnya tadi ia pergi dan menginap di hotel saja.
__ADS_1
Rahang Raymond mengatup erat ketika ia turun dari mobil. Dengan ekspresi datar dan muram ia berjalan menuju pintu, bersikap seolah ia tidak melihat siapa pun saat itu.
“Ray, kamu dari mana? Aku menunggumu semalaman.”
Raymond tidak melirik sama sekali saat mendengar suara yang serak dan lemah itu. Ia hanya ingin segera masuk ke rumah dan mengunci pintu.
“Ray!”
Alice melompat maju dan hendak meraih tangan Raymond, tapi pria itu menepis tangannya dengan cepat.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” Raymond menggeram dan melemparkan tatapan penuh permusuhan kepada mantan tunangannya itu.
Alice langsung berlutut. Tidak peduli bahwa cuaca sedang sangat dingin dan lantai marmer yang mengenai kakinya terasa lebih dingin lagi, wanita itu terus berlutut sambil berlinangan air mata.
“Sayang, tidak bisakah kamu memberi aku satu kesempatan lagi? Aku mohon ... aku ... aku akan melakukan apa pun yang kamu katakan. Tolong, beri aku kesempatan,” rintih Alice dengan suara yang sangat pilu.
“Kamu tidur dengan Lorie, aku tidak akan mempermasalahkannya. Anggap saja kita impas, oke? Mari memulai dari awal,” bujuknya seraya merangkak maju dan menyentuh kaki Raymond.
Raymond memberi tatapan jijik ke arah Alice dan menarik kakinya dengan cepat. Wanita itu selain tidak merasa bersalah, masih ingin menggunakan Lorie untuk tawar-menawar. Benar-benar bernyali besar.
Karena pria di hadapannya hanya mematung dan menatapnya dengan sorot yang penuh permusuhan dan keengganan, Alice membuka mulutnya lagi untuk membujuk, “Kalau tidak, di masa depan ketika kamu bermain serong di belakangku, aku juga akan berpura-pura tidak melihatnya. Oke? Kumohon, Ray, kembali kepadaku.”
Rasa mual yang bergejolak di dalam perutnya membuat Raymond sudah hampir muntah. Bagaimana bisa ia tidak menyadari wajah asli Alice selama ini?
__ADS_1
“Kamu membuatku muak, Alice. Sudah aku katakan, aku tidur dengan Lorie adalah sebuah ketidaksengajaan. Kami tidak dengan sengaja berselingkuh di belakangmu. Semetara kau tidur dengan tua bangka itu untuk mendapatkan kompensasi atas kemauanmu sendiri. Aku tersiksa karena merasa bersalah kepada hati nuraniku, sedangkan kamu menikmatinya dan mendapatkan keuntungan dari perselingkuhan itu. Jelas adalah dua hal yang berbeda, tapi kamu berani menyandingkan dan membandingkannya seperti itu. Apakah kamu benar-benar tidak tahu rasa malu?”
Mendapat teguran dan amarah seperti itu membuat Alice benar-benar merasa teraniaya. Ia bangkit dan meraung dengan sangat kencang.
“Raymond, kamu berubah sejak bertemu wanita itu! Kamu mencarinya seperti orang gila! Kamu bahkan mengacuhkan aku! Katakan, apa kamu menyukainya? Kamu menyukainya, kan?!” tuduh Alice dengan mata sembab dan suara yang serak.
“Ya! Aku memang menyukainya? Lalu kenapa?!” balas Raymond dengan sengit.
Seluruh tubuh Alice gemetar hebat. Ia terlihat seperti seekor ikan yang terdampar di daratan, sekarat dan sudah hampir mati.
“Kamu akan menyesalinya!” desis Alice dengan penuh kebencian. Dengan langkah tersaruk, ia berbalik dan pergi. Dendam dan kebencian memenuhi hatinya. Amarah menggelegak dan membuat wajahnya merah padam. Ia sudah begitu merendahkan diri, tapi Raymond malah merendahkannya. Liat bagaimana ia membalas pria itu nanti!
Raymond menggertakkan gigi dan membanting pintu dengan keras. Kepalanya terasa hampir meledak. Bagaimana bisa ia jatuh cinta kepada wanita berhati picik seperti itu?
Benar-benar mengerikan!
***
yang mau pesan, boleh banget 😁
isinya ada 18 cerpen.
jamin kalian ga bakal kecewa.
__ADS_1
paling vaper dan mewek aja😆