Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
49


__ADS_3

"Atas nama Mommy aku sebagai anaknya meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu, Tara," kata Gio saat ia dan Tara sudah ada di dalam mobil.


Tara yang dulu terkenal sebagai wanita yang egois dan keras kepala kini sangat berbanding balik dengan sifat wanita itu. Dimana Tara sekarang lebih memilih untuk selalu saja mengalah di saat keluarga Gio terus-terusan menuntutnya untuk segera memiliki anak. Tara juga sekarang lebih bisa berpikir dengan dewasa sehingga wanita itu bisa mengendalikan emosinya dalam berbagai situasi.


"Gio, tidak ada yang bersalah dalam hal ini, karena bagiku ini hanya tentang waktu," timpal Tara yang menatap keluar jendela karena tiba-tiba saja cuaca sore hari yang begitu cerah kini malah menjadi mendung.


"Menurutmu apa kita beli rumah atau tinggal di penthouse yang aku beli beberapa tahun yang lalu?" tanya Gio yang memilih untuk mengalihkan pembicaraan, karena ia tahu pasti sang istri saat ini tidak ingin membahas hal yang tadi sudah terjadi di rumah kedua orang tuanya itu.


Tara yang di tanya hanya mengangkat bahunya saja sebagai responnya pada sang suami, sebab wanita itu tidak tahu harus memilih beli rumah atau penthouse seperti pertanyaan sang suami tadi. Karena saat ini yang ada di dalam pikiran Tara adalah bagaimana caranya ia bisa cepat hamil supaya bisa memberikan Gio seorang anak. Membuat Tara diam saja dari tadi tapi siapa sangka di dalam otak wanita itu sangatlah berisik. Disebabkan oleh suara-suara Lydia yang terus saja menyuruh Gio untuk menceraikan dirinya.


"Tara jawab aku supaya aku bisa menghubungi Gavin, untuk mencarikan kita rumah atau menyuruhnya membersihkan penthouse itu." Gio tidak mau mengambil keputusan sendiri, sebab ia merasa kenyamanan Tara lebih penting. Maka dari itu, Gio akan terus menanyakan masalah beli rumah atau tinggal di panthousenya. Meskipun ia tahu saat ini Tara pasti sedang melamun.

__ADS_1


"Kamu sehat, aku juga sehat lalu kenapa kita tidak kunjung dikaruniai seorang anak?" tanya Tara yang memilih untuk membahas masalah anak lagi. "Apa kamu bisa menjawab pertanyaanku yang tadi, Gio?" Meskipun mulut Tara terus saja bertanya pada sang suami. Tapi tatapan mata wanita itu tetap mengarah ke luar jendela. Karena ia tidak mau kalau sampai sang suami melihatnya sedang menangis saat ini, hanya karena pertanyaannya sendiri.


Gio memegang tangan sang istri dengan tangan yang satunya lagi. "Tara, jangan bahas itu lagi, intinya kita serahkan saja semuanya pada Sang pemilik alam semesta ini, karena cuma dia yang berhak mengatur semuanya tugas kita cuma dua yaitu berusaha dan terus berdoa," jawab Gio yang pada ujung-ujungnya menyerahkan semuanya kepada Tuhan. "Karena entah kapan doa kita akan didengar, dan doa yang mana akan dikabulkan," lanjut Gio.


"Aku mau kita harus mengecek kesehatan lagi Gio, karena aku ingin memastikan kalau aku ini benar-benar sehat atau malah ...." Tara tidak berani melanjutkan kalimatnya. Karena di saat ia mengingat kata-kata mandul hati wanita itu menjadi terasa sangat sesak. "Apa kamu tidak keberatan Gio?" tanya Tara pada sang suami, yang saat ini masih saja fokus menyetir.


"Berapa banyak bukti lagi yang ingin kamu cari Tara? Apa kamu masih ragu dan belum yakin kalau kita berdua ini sehat? Serta tidak memiliki penyakit apapun yang dapat menghambat proses kita untuk memiliki momongan."


"Aku hanya ingin tahu saja Gio tidak lebih."


"Apa tidak bisa sekarang?" Sepertinya Tara ingin cepat-cepat memeriksa kesehatannya sendiri.

__ADS_1


"Tidak bisa sekarang Tara, karena pekerjaanku di kantor sangat banyak sekali, ditambah Daddy terus-terusan menyuruhku dan Gavin untuk mengurus jadwal keberangkatan kami ke luar Negeri dengan segera," jawab Gio jujur.


Tara terdengar menghela nafas dan mengeluarkannya dengan kasar. "Kalau begitu terserah kamu saja Gio!" balas Tara dengan ketus yang moodnya sangat mudah sekali berubah-ubah dalam hitungan detik. "Sekarang antarkan aku pulang saja ke rumahku, karena aku malam ini mau menginap di sana."


Mendengar itu Gio langsung saja dalam mode waspada karena ia takut kalau sang istri akan menceritakan semuanya pada Yana dan Arzan. "Nanti saja ya kita ke rumah papa dan mama, untuk saat ini kita pergi melihat panthose itu dulu," kata Gio yang benar-benar dalam mode waspada dengan sang istri.


"Tenang saja Gio, mulut ini tidak akan ember menceritakan semuanya pada Mama dan Papaku. Jadi, kamu tidak usah khawatir dan kamu juga tidak usah mencemaskan masalah itu. Karena ini semua adalah rahasia kita berdua." Tara mengatakan itu karena sepertinya wanita itu tahu kalau saat ini pasti itu yang sedang dicemaskan oleh sang suami. "Kamu juga boleh ikut menginap di sana, besok pagi-pagi sekali kita pergi ke penthouse seperti yang kamu katakan tadi."


Gio terdiam karena laki-laki itu saat ini sedang berpikir, kalau ia harus ikut menginap atau pergi sendirian ke penthouse itu tanpa sang istri.


"Kalau kamu tidak mau menginap tidak masalah, karena aku tidak ingin memaksamu," kata Tara yang melihat Gio hanya diam saja.

__ADS_1


"Aku akan ikut menginap denganmu," timpal Gio, yang pada akhirnya memutuskan untuk ikut menginap di rumah mertuanya dengan sang istri. Karena sejujurnya Gio sangat tidak bisa pisah ranjang dengan Tara.


"Kalau begitu belok kanan di pertigaan itu, supaya kita bisa cepat sampai di rumah Mama," ujar Tara memberitahu sang suami. Karena ia juga ingin cepat-cepat sampai di rumah kedua orang tuanya.


__ADS_2