
"Apa yang terjadi?" tanya Alex dengan suara tenang, meski ia telah melihat gambar istrinya yang tampak seakan sedang berpelukan dengan Benji.
"Perempuan murah*n yang kamu pilih ini menjadi istrimu ini, dia sudah mempermalukan keluarga Smith!" seru granny, jari telunjuknya mengarah ke wajah Kinara, membuat gadis itu menunduk ketakutan.
"Ak-aku tidak ... aku tidak sedang membela diri, tapi kejadian itu benar-benar tidak disengaja. Kami bertabrakan di kampus, dan dia menolong--"
"Tutup mulutmu kotormu itu!" bentak granny, "Bukti di depan mata tapi kau masih ingin mengelak? Kau pikir siapa yang akan percaya?!"
Jemari Kinara memilin-milin bajunya. Sesekali ia melirik ke arah Alex, ingin mengetahui reaksi pria itu. Untungnya suaminya tidak terlihat seperti akan mengamuk. Ia bisa sedikit menarik napas lega. Dengan sangat pelan, gadis itu beringsut mendekati Alex dan berdiri di sampingnya.
"Ceraikan istrimu sekarang juga!" perintah granny.
"Ibu!" seru Beatrice dan Jotathan bersamaan.
Biar bagaimana pun, Kinara-lah yang menolong Alex melewati semua titik terendah dalam hidupnya. Lagipula, belum tentu apa yang terlihat di foto itu memang seperti kenyataannya. Namun Brenda Smith tidak mau peduli. Di matanya, Kinara hanyalah seekor parasit yang mengincar harta keluarga Smith.
"Kalian berdua diam, tidak perlu ikut campur," tukas Brenda, "Akulah yang akan memberi pelajaran pada gadis licik ini."
"Granny, cukup," tegur Alex, "Aku percaya pada istriku."
"Kamu?!"
Wanita tua itu bangun dan menggebrak meja dengan kasar. Wajahnya memerah karena amarah. Tidak pernah sekalipun cucunya itu melawan perkataannya. Tidak pernah, meski hanya satu kata pun. Perlawanan Akex ini membuatnya semakin muntab.
"Kamu sekarang berani melawanku? Hanya demi pelayan rendahan ini?!" teriak Brenda Smith.
Wanita berdarah bangsawan itu merasa harga dirinya sedang diinjak-injak oleh Kinara. Walaupun sebenarnya gadis itu tidak melakukan satu hal pun yang merugikannya. Semua kemarahan Brenda Smith bersumber pada rasa tidak rela karena Alex menikahi seorang wanita dari kasta yang rendah. Ia mengizinkan perempuan itu ikut datang ke The Spring Mountains karena sangat merindukan Alex. Siapa sangka pertemuan ini malah menjadi sumber petaka.
"Dia istriku, Granny. Bukan pelayan, atau gadis murahan, atau jal*ng. Berhenti menyalahkannya," kata Alex dengan tenang. Ia menyentuh punggung tangan istrinya yang berada di atas kursi roda, lalu melanjutkan, "Aku datang ke sini, itu karena dia yang memintanya. Dia tidak pernah mempengaruhiku untuk membenci kalian."
"Kau benar-benar sudah dibutakan oleh wanita ini," geram Brenda Smith, "Aku sangat menyesal telah menerima kedatangan kalian hari ini."
"Kalau begitu, kami akan pulang," kata Alex seraya mengetatkan genggaman tangannya pada jari Kinara.
Kinara melihat perseteruan itu dengan serba salah. Sebenarnya, ini adalah murni kesalahannya. Ia sudah bersiap-siap jika granny akan menghajarnya, atau bahkan mungkin jika Alex ikut memarahinya. Namun yang tak disangka-sangka adalah pria berhati batu itu justru membelanya seperti ini. Hatinya terasa hangat ....
"Kenapa diam saja? Bawa aku keluar," perintah Alex ketika menyadari istrinya hanya membeku seperti orang linglung.
__ADS_1
"Ap-apa? Keluar? Ta-tapi ... tapi ...."
"Cepatlah," desak Alex tidak sabar.
Ada hal lain yang perlu diselidikinya setelah insiden ini. Kotak hadiah itu bisa ditukar, itu artinya ada orang bayaran yang menyusup dalam pasukannya. Jeda waktu antara mengambil kotak hadiah sampai di tangan granny tidak sampai satu jam, tetapi orang suruhan itu bisa melakukannya dengan sangat rapi. Siapa pun musuhnya ini, dia memiliki orang-orang suruhan yang cukup kompeten.
Bedeb*h ini sangat ingin memisahkanku dengan Kinara. Kenapa? Apa yang diincarnya? maki Alex dalam hati.
"Mom, Dad, maaf ... aku sungguh tidak melakukan apa-apa," kata Kinara dengan raut wajah memelas.
Gadis itu merasa sangat tidak enak pada kedua mertuanya. Hal terbesar yang ia takutkan adalah jika mereka ikut terpengaruh saat melihat foto-foto tadi dan mengira ia benar-benar telah berselingkuh dari Alex.
Beatrice bangun dan menghampiri Kinara. "Pulanglah dengan Alex. Kita bicarakan lagi di lain waktu. Aku akan menghubungimu," sarannya.
Keadaan saat ini tidak memungkinkan untuk membicarakan apa pun. Granny yang pada dasarnya tidak menyukai Kinara, akan menyangkal semua pembelaan yang disampaikan, semasuk penjelasan semasuk akal apa pun itu. Jadi keputusan yang terbaik saat ini adalah memisahkan mereka.
"Iya, Mom," cetus Kinara. Ia memang tidak punya pilihan yang lebih baik. Selain itu, ia harus menjelaskannya pada Alex agar pria itu tidak salah paham. Melihatnya memasang badan untuk membelanya saja sudah membuatnya sangat terharu dan ingin memeluk pria itu.
"Kami pamit, Mom, Dad ...." Kinara menoleh sekilas pada Brenda Smith dan mengangguk. Ia tidak berani menyebut nama wanita tua itu.
Para pengawal yang berjaga di depan membantu Alex masuk ke mobil. Kinara ikut masuk dan duduk di tempat biasa. Ia menatap suaminya dengan ekor mata, menanti pria itu membuka mulut untuk menceramahinya. Namun nyatanya, hingga mobil yang mereka tumpangi sudah menempuh seperempat perjalanan, pria itu masih membisu.
"Alex, maafkan aku ...," cicit Kinara, merasa tertekan dengan suasana beku di dalam mobil.
"Kamu tahu salahmu?" tanya Alex.
"Ya."
"Apa?"
"Aku sangat ceroboh sehingga memberi kesempatan pada pria lain untuk berdekatan denganku. Selain itu, aku juga tidak memeriksa ulang kotak hadiah sehingga granny melihat foto-foto itu," terang Kinara.
Alex mendengkus. "Dasar bodoh!" sergahnya.
Kinara menunduk semakin dalam. "Aku memang bodoh," akunya dengan raut wajah sudah hampir menangis.
Kekehan pelan lolos dari mulut Alex. Ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala istrinya. "Kenapa tidak langsung memberitahuku kalau kamu bertemu Benji?"
__ADS_1
"Aku takut kamu marah," ungkap Kinara. Ia tidak berani mengangkat wajahnya.
"Lalu sekarang, pikirmu aku tidak marah?"
Kinara menggeleng pelan, lalu buru-buru menjawab, "Marah."
"Aku marah karena kamu tidak jujur padaku. Lain kali, katakan semua yang terjadi tanpa ada yang ditutup-tutupi. Mengerti?"
"Mengerti." Kinara mengangguk dengan patuh, lalu menyimpannya dalam hati. Setelah ini, apa pun yang terjadi, ia akan mengatakannya pada Alex.
***
"Bagaimana? Rencanamu berhasil?"
Jericho memainkan pulpen di tangannya. Ia memegang bagian tengah benda itu dan memutar-mutarnya di udara.
"Hampir berhasil, tapi ...."
"Ck! Enyah dari hadapanku!" usir JerichoJericho, "Aku yang akan mengurusnya. Kau tidak perlu datang lagi kemari."
"Aku bisa mengatasinya. Aku hanya perlu lebih banyak waktu," paksa pemuda berwajah oriental yang duduk di hadapan Jericho. Entah mengapa, pekerjaan kali ini membuatnya menjadi terobsesi. Ia ingin bisa menaklukkan hati gadis manis yang ponselnya masih ia pegang.
"Aku bilang enyah!" hardik Jericho.
Dua orang bodyguard yang berjaga di sisinya langsung menghampiri pemuda itu dan menyeretnya keluar.
"Aku bisa mengatasinya!" pekiknya dari balik pintu, "Aku akan membuatnya meninggalkan sepupumu! Beri aku waktu!"
Bum.
Pintu tertutup dengan keras. Dua orang bodyguard berdiri tegak dengan sikap mengancam. Mau tak mau, pemuda itu mengalah.
"Aku akan kembali," ujar pemuda itu seraya mengedipkan mata pada dua pria bertubuh kekar di depannya sebelum berjalan menjauh.
Di dalam, Jericho memberi perintah pada pelayan wanitanya.
"Pesankan buket bunga yang termahal. Aku ingin mengunjungi seseorang."
__ADS_1