
Jacob dan Bryan masuk dengan membawa dua buah koper silver. Mereka meletakkan benda itu di atas meja. Bryan mengatur ranjang operasi agar posisi Billy menjadi setengah berbaring. Sedangkan Jacob memasang infus dan alat monitor.
Dokter Ana menarik kursi hingga posisinya berhadapan dengan Billy. Ia mengambil salah satu tas dan mengeluarkan sebuah alat menyerupai tabung dari bahan metalik. Dengan sangat berhati-hati, ia memindai bagian belakang kepala Billy.
"Kosong tiga sudah memeriksa ketika dalam perjalanan tadi, tidak ada alat pelacak terdeteksi," terang Lorie ketika melihat benda di tangan dokter Ana berkedip merah, "Sepertinya chip itu hanya akan berfungsi ketika tuan Billy sadar."
"Benar. Chip ini hanya berfungsi ketika pemiliknya dalam keadaan sadar. Mungkin untuk memaksimalkan agar memori yang dianggap penting saja yang terekam dengan baik."
Dokter Ana menyimpan kembali detektornya, kemudian memakai sarung tangan.
"Mau tidak mau, kita harus membiusnya," ujar wanita itu seraya mengeluarkan jarum suntik, "Jacob, tolong ambilkan serum m-15!"
Jacob membuka koper silver yang lebih kecil dan mengeluarkan satu ampul berisi cairan berwarna merah. Ia menyerahkan benda itu pada dokter Ana.
Wanita itu menancapkan ujung jarum dalam wadah obat, lalu menarik pangkalnya hingga semua cairan berwarna merah berpindah dalam tabung plastik. Ia mengetes jarum dengan sedikit menekan pangkal tabung hingga beberapa tetes obat jatuh di atas lantai.
"Apa itu?" tanya Lorie penuh rasa ingin tahu.
"Semacam obat untuk hipnoterapi, tetapi aku memodifikasinya sedikit," jelas dokter Ana sembari menunduk dan menyuntikkan cairan merah itu ke dalam selang infus.
Tak lama kemudian, tubuh Billy mulai memberikan reaksi. Pria itu menggeliat pelan, tetapi Jacob dan Bryan menahan tangannya dengan sigap.
"Billy?" panggil dokter Ana. Ia melambaikan tangan di depan wajah pria itu.
Billy tidak merespon. Pupilnya bergerak liar, seakan sedang mencari sesuatu dalam jarak pandang yang tak terjangkau oleh retinanya.
Dokter Ana menjentikkan jari di depan wajah Billy. Sekejap kemudian, tubuh pria itu menjadi tenang. Tatapan matanya fokus pada satu titik kasat mata yang sangat jauh.
"Billy, dengarkan aku. Semua yang akan terjadi nanti hanyalah mimpi. Kau tidak akan mengingatnya sama sekali. Mengerti?" kata dokter Ana.
Billy mengangguk pelan.
"Siapa yang menanam chip di dalam kepalamu?"
Dokter Ana mulai bertanya. Lorie segera menyalakan alat perekam dan berjalan mendekat. Ia tidak ingin kehilangan informasi sekecil apa pun. Jangan sampai ada yang terlewat. Kesempatan seperti ini tidak mungkin datang dua kali. Kalau saja ia bisa mendapatkan petunjuk yang cukup berharga dalam interogasi ini, maka tuan Alex sudah pasti bisa diselamatkan.
"Billy? Apa kamu tahu siapa yang menanam chip dalam kepalamu?" ulang dokter Ana ketika Billy tidak menjawab pertanyaannya.
"Aku tidak tahu."
"Di mana lokasi orang ini?"
"Tidak tahu."
"Siapa namanya?"
"Tidak tahu."
"Bagaimana wajahnya?"
__ADS_1
"Tidak tahu."
Dokter Ana mendesah, hampir putus asa. Tidak ada yang bisa ia lakukan jika Billy benar-benar tidak tahu informasi apa pun. Tampaknya penjahat ini sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan sangat matang.
"Dokter, bolehkah aku mencobanya?" tanya Lorie seraya memberi isyarat bahwa ia ingin mengajukan pertanyaan pada Billy.
"Silakan," kata dokter Ana seraya menyingkir dan membiarkan Lorie mengambil alih tempat duduknya.
"Billy, apa mereka menahan seseorang untuk memaksamu melakukan hal ini?"
"Ya. Lizie."
"Lizie?"
Lorie cukup terkejut. Menurut berkas yang ia dapat dari tuan Alex, Lizie adalah tunangan Billy yang menghilang. Sekarang semuanya terlihat cukup masuk akal, mengapa Billy tetap bertahan dalam keadaan ini. Di satu sisi dia ingin menyelematkan tunangannya, di sisi lain dia tidak ingin mengkhianati Alex.
"Bagaimana caramu berkomunikasi dengan orang ini?"
"Dia selalu mengirim orang untuk menjemputku."
"Bagaimana penampilan mereka?"
"Bertopeng. Serba hitam."
"Berapa lama waktu yang ditempuh untuk pergi dari rumahmu sampai ke markas mereka?"
"Kurang lebih dua jam."
"Delapan sampai sembilan puluh."
"Kamu tidak pernah melihat wajah orang ini?"
"Tidak. Aku tidak boleh menatap wajahnya."
"Anggota tubuh yang lain?"
"Kaki. Ia memakai sepatu lars berwarna hitam. Kadang-kadang cokelat."
"Ada ciri atau merk tertentu dari sepatu itu, atau mungkin celana dan kakinya? Bisa kau ingat?"
Billy terdiam sesaat. Tatapan matanya kembali tidak fokus. Bulir keringat mulai muncul dari pori-pori, berkumpul dan membentuk bulatan-bulatan kecil.
"Jacob. Obat penenang!" seru dokter Ana.
Wanita itu mengeluarkan jarum suntik yang baru, kemudian menerima ampul bening dari Jacob. Tidak sampai tiga detik, cairan itu telah berpindah ke dalam saluran infus.
Billy kembali tenang, sorot matanya meredup dan relaks. "Kakinya. Kaki kirinya kemungkin palsu. Ketika dia berjongkok di depanku, ujung celananya sedikit tersingkap."
"Bagaimana dengan lokasi markas mereka? Ciri khusus? Berapa luas?"
__ADS_1
"Putih. Hitam. Hitam. Anonim."
"Nona, aku rasa sudah cukup," sela dokter Ana ketika melihat lagi-lagi tubuh Billy mulai berkeringat. Sepertinya pria itu sedang berusaha keras menggali memorinya sendiri tetapi tidak berhasil.
"Takutnya akan mempengaruhi jaringan syarafnya kalau dipaksakan," imbuh dokter Ana ketika melihat Lorie memasang raut wajah tidak rela.
"Aku mengerti," ujar Lorie seraya bangun dari tempat duduknya.
"Ambilkan anti-serum m-15," pinta dokter Ana pada Jacob.
Pria itu segera mengeluarkan sebuah ampul berwarna kuning dan memberikannya pada dokter Ana.
"Tidak! Tunggu! Dia tidak boleh sadar di sini!" cegah Lorie.
Dokter Ana mengurungkan niatnya. Ia mengembalikan ampul itu pada Jacob, kemudian menatap Lorie dengan pandangan penuh tanda tanya.
Lorie menyerahkan alat perekam pada salah satu pengawal bayangan yang berada dalam ruangan itu. "Serahkan ini pada kosong tiga," pesannya.
Gadis itu mengeluarkan stun gun dari saku jaket, kemudian memberikan alat itu pada rekannya. "Kamu tahu apa yang harus dilakukan. Beri aku luka yang sama seperti tuan Billy," ujarnya lagi.
"Aku mengerti."
Pengawal itu menerima stun gun, lalu menekan tombol on dan menempelkannya ke pinggang Lorie.
Drrrt.
Tubuh gadis itu bergetar ketika rasa sakit menggigit seluruh sistem syarafnya. Kesadarannya menghilang seiring pandangan yang menggelap.
***
Kinara berlarian di sepanjang lorong rumah sakit. Ia sangat cemas. Kabar bahwa Billy dan Lorie diserang orang-orang tak dikenal membuatnya panik setengah mati. Gadis itu mengabaikan tatapan heran orang-orang yang ditujukan padanya. Bagaimana tidak, hampir setengah lusin pria bersetelan serba hitam ikut berlarian di belakangnya.
"Di mana pasien bernama Lorie dirawat? Dia baru saja masuk setengah lalu," tanya Kinara pada perawat di ruang informasi, "Saya kerabatnya."
"Tunggu sebentar," jawab perawat sambil memeriksa data pasien di layar komputer, "Lantai empat, kamar 102."
"Terima kasih."
Lorie bergegas menuju lift dan menekan tombol nomor empat. Ia mengibaskan tangan di depan wajah seraya mengatur deru napas yang tak beraturan.
Ting.
Pintu lift berdenting dan terbuka. Kinara segera menghambur keluar diiringi para pengawalnya yang tampak kewalahan menghadapi tingkah majikan mereka.
"Lorie?! Kamu baik-baik saja?" seru Kinara seraya menghambur ke dalam kamar 102.
Lorie meringis, sudah menduga hal ini akan terjadi. "Tidak apa-apa, Nara. Aku baik-baik saja."
"Apanya yang baik?" Kinara melotot dan menunjuk luka di pelipis pengawalnya itu. "Bagaimana sampai bisa begini?"
__ADS_1
"Tuan Billy mengundangku ke rumahnya. Sialnya rumah itu sedang disatroni pencuri. Kami berdua dihajar habis-habisan."
Raut wajah Lorie terlihat sangat jelek. Ia sangat payah dalam berbohong, tapi demi keselamatan semua orang, ia akan berusaha keras ....