
“Apa kamu tidak merasa panas?” tanya Raymond saat melihat Lorie terus membungkus dirinya seperti kepompong. Melihatnya saja sudah membuatnya berkeringat.
Lorie masih tidak bersuara dan tidak bergerak. Sepertinya wanita itu benar-benar sudah bertekad untuk mengabaikannya. Sudut bibir Raymond menekuk. Sorot matanya dipenuhi kehangatan dan kelembutan. Wanita keras kepala ini ....
Akhirnya ia hanya bisa menghela napas dan berkata, “Aku pergi mencari makan malam, ada yang ingin kamu makan?”
Raymond berdiri sebentar dan menunggu jawaban, tapi sepertinya Lorie sama sekali tidak akan merespon. Satu menit berlalu dan ia menyerah, berbalik dan berjalan keluar. Akan tetapi, tepat saat tangannya hendak memutar gagang pintu, terdengar suara yang tidak terlalu keras dari balik tubuhnya.
“Aku mau iga bakar asam manis dan roti kukus isi labu madu dari Restoran Jack’s and Angel yang ada di jalan 1st Avenue.”
Raymond membalikkan tubuhnya dan menatap kepompong yang masih terbungkus rapat itu. Ia tersenyum tak berdaya dan menjawab, “Baik. Kamu tunggu sebentar. Aku akan meminta perawat datang untuk menemanimu.”
“Tidak perlu,” balas Lorie seraya bergulat dengan selimut dan berusaha keluar dari buntalan kain itu. Namun, saat ia berhasil keluar, Raymond sudah lama pergi.
Lorie sedang menggulung selimut ketika terdengar suara ketukan di pintu. Ia pikir itu adalah perawat yang dipanggil oleh Raymond, jadi ia mempersilakannya untuk masuk.
“Ke mana perginya perawat? Kenapa kamu membereskan barang-barang itu sendiri?”
Lorie berjengit karena terkejut mendengar suara bariton dari arah pintu. Ia menoleh dengan cepat dan sedikit terpana ketika melihat Daniel melangkah masuk dengan langkah panjang-panjang.
“Sini, biar aku yang bereskan,” ucap pria itu seraya menarik selimut dari tangan Lorie dan melipatnya dengan cepat.
Gerakan yang terampil itu membuat Lorie hampir berdecak kagum. Pria ini adalah paket komplit. Mulai dari pekerjaan sampai hal yang remeh temeh pun dia bisa. Tidak banyak jenis pria seperti ini yang tersisa sekarang.
__ADS_1
“Kenapa? Menyesal karena tidak mau menjadi kekasihku? Aku bisa menjadi suami yang baik, kamu tahu?” goda Daniel seraya mengedipkan mata.
“Kamu ... bukannya bilang akan kembali ke Dubai sore ini?” Lorie balik bertanya setelah pulih dari keterkejutannya.
Daniel mendengkus. Ternyata fokus wanita di hadapannya itu berbeda jauh dari apa yang ia harapkan.
“Sangat tidak senang melihatku datang?” tanyanya dengan mata memicing.
“T-tidak, kamu tahu bukan itu maksudku,” jawab Lorie sedikit canggung. “Aku hanya terkejut karena kamu tiba-tiba muncul. Apa yang membuatmu tidak jadi pergi?”
Mendengar pertanyaan itu membuat Daniel tersenyum lebar. Ia mendekat dan melingkarkan tangannya di pundak Lorie, persis seperti sikap seorang sahabat yang ingin menceritakan rahasianya.
“Aku berubah pikiran. Aku ingin membangun kantor cabang di sini dan menjalin kerja sama dengan Jotuns Corps lagi. Apakah kamu bisa memberi masukan, bidang apa yang memiliki aspek bagus untuk dikembangkan?”
Lorie semakin tercengang. Angin apa yang membuat pria aneh ini mengubah haluan?
“Ternyata kamu sangat mata duitan,” gumam Lorie sambil menyingkirkan tangan Daniel. Ia melangkah ke sofa dan duduk di dekat jendela.
“Kamu tidak berbaring?” tanya Daniel.
“Kalau kamu lupa, aku hanya keguguran, bukannya cacat,” jawab Lorie seraya memutar bola matanya. Rasanya cukup menjengkelkan karena semua orang terlalu mengkhawatirkan kondisi tubuhnya.
Daniel tertawa dan duduk di seberang Lorie.
__ADS_1
“Maaf, aku hanya takut kamu kelelahan,” ucapnya.
Pria itu menoleh ke seluruh ruangan dan menyadari bahwa hanya ada mereka berdua di sana.
“Ke mana perginya yang lain?” tanyanya lagi.
“Alex dan Billy sedang menemani anak-anak mereka, Raymond sedang pergi membeli makan malam. Ana ... dia belum memberi kabar.”
“Oh.”
“Jelaskan kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran? Jangan katakan sudah kamu rencanakan sejak lama karena aku tahu ini tidak ada dalam agenda kerjamu sebelumnya.”
“Mm ... itu ... aku baru saja menyadari prospek di tempat ini tidak kalah bagus dibandingkan Dubai. Lagi pula EON’s Company belum membuka cabang di luar negri. Aku rasa ini bisa dijadikan percobaan yang bagus. Bagaimana menurutmu?”
“Benarkah? Tidak ada tujuan tersembunyi?” tanya Lorie seraya menatap lawan bicaranya lekat-lekat.
Daniel tidak berani membalas tatapan itu. Ia memalingkan wajahnya dan menggosok-gosokkan tangannya untuk menutupi rasa gugupnya.
Tujuan tersembunyi ... hehe ... tentu saja ada, tapi ia tidak mungkin memberitahukannya kepada Lorie, kan? Bisa-bisa wanita itu mematahkan lehernya lebih dulu kalau tahu ia memiliki niat tertentu.
“Daniel, katakan ... siapa yang kamu incar kali ini?”
“Uhuk!” Daniel tersedak dan batuk. “A-apa ... uhuk! Apa maksudmu?”
__ADS_1
Sial. Wanita ini memiliki intuisi yang sangat tajam. Atau memang isi hatiku yang terbaca dengan sangat jelas?
***