Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Extra Part 4


__ADS_3

Kota Brooklyn kembali memasuki musim gugur. Daun-daun berwarna jingga, senada dengan semburat cahaya di ufut barat. Alex bersandar di dekat jendela Jotuns Corps, mengamati manusia yang lalu-lalang di bawah sana. Manusia-manusia yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, terjebak dalam hiruk-pikuk di jalanan yang penuh debu dan polusi. Pasti sangat melelahkan.


Alex menghela napas panjang dan melonggarkan simpul dasi yang terasa mencekik lehernya. Entah mengapa ia pun merasa lelah. Amat sangat lelah. Semua urusan pekerjaan mulai membuatnya muak. Segala pencapaiannya terasa hampa. Sepertinya ia sudah berada di titik jenuh. Kalau bukan karena triplets yang selalu memberinya asupan energi ekstra, mungkin ia sudah menyerah sejak lama.


Suara ketukan di pintu membuat Alex menoleh dan berjalan kembali ke kursinya. Satu-satunya alasan ia tetap bertahan dan berusaha untuk bekerja sekuat tenaga adalah agar ia bisa mewariskan perusahaan ini pada anak-anaknya kelak. Setidaknya, mereka tidak akan kesulitan jika seandainya … seandainya sudah waktunya ia bertemu lagi dengan Kinara ….


“Sir?” panggil Carissa dari balik pintu. Ia mulai cemas karena tuannya tidak merespon panggilan telepon sejak tadi. Lalu sekarang, ia sudah mengetuk selama hampir lima menit.


“Masuk,” sahut Alex setelah merapikan kemejanya yang terlihat sedikit lusuh.


Carissa mendorong pintu dan melangkah masuk dengan hati-hati. Ia memerhatikan Alex dengan teliti dan bertanya, “Anda baik-baik saja, Sir?”


“Ya. Ada apa?”


“Saya sudah mencoba menghubungi Anda melalui extension tapi—“


“Aku baik-baik saja. Ada apa?” ulang Alex dengan sedikit tidak sabar.


“Maaf, bukan bermaksud tidak sopan … tapi tuan Billy sudah berpesan agar saya mengurusi semua keperluan Anda dengan baik,” jawab Carissa sambil menyodorkan papper bag di tangannya, “Ini makan siang Anda, silakan.”


“Bawa keluar. Aku tidak sedang ingin makan.”


“Anda belum makan sejak dari rumah, Sir. Lorie menghubungi saya dan—“


Alex menghela napas keras dan menggertakkan giginya. Mengapa dua orang itu selalu ikut campur dengan urusannya. Sekarang ditambah lagi dengan Carissa, ia merasa benar-benar tidak bisa hidup dengan tenang. Seharusnya ia menolak ketika Billy merekomendasikan gadis di hadapannya itu sebagai sekretaris. Gadis bermata hijau zamrud itu lebih cerewet dan dua kali lebih keras kepala dibanding Kinara.


Lihat ….


Lagi-lagi segala sesuatu membuatnya teringat akan istri mungilnya.


Kinara Lee ….


“Letakkan di atas meja dan keluarlah. Aku akan memakannya nanti,” ujar Alex sambil memejamkan mata, pertanda ia tidak akan menerima bantahan atau segala bentuk omong kosong yang lain.


“Baik,” jawab Carissa dengan patuh. Ia mengangguk dengan patuh lalu berjalan menuju pintu.


Setelah mendengar suara daun pintu menutup, Alex membuka matanya perlahan dan mengintip ke dalam papper bag. Sejujurnya, aromanya cukup enak. Ia mengeluarkan kotak makan dan membuka tutupnya. Kuah cumi asam manis yang merah dan mengepulkan uap panas terlihat sangat menggoda. Tiba-tiba perut Alex bergejolak, menimbulkan bunyi yang bergema nyaring dalam ruangan. Ia kelaparan.


Alex baru saja mengambil sendok dan hendak mencicipi kuah seafood ketika tiba-tiba Carissa kembali menerobos masuk dengan napas tersengal.


“Sir!” seru gadis itu, “Kepala Sekolah Tuan dan Nona Kecil baru saja menelepon. Anda diminta untuk segera ke sana. Mereka berkelahi dengan seorang anak laki-laki.”

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Alex bangun dari kursinya dengan cepat hingga ia nyaris terjungkal. Rasa lapar yang tadi mendera mendadak hilang begitu saja. Makanan di atas meja ditinggalkan seperti keadaan semula tanpa sempat disantap.


Carissa berjalan cepat, nyaris seperti berlari di sisi Alex. Meski begitu, deru napasnya masih tetap teratur.


“Saya sudah meminta supir menunggu Anda di lobby utama, Sir,” ujar gadis itu setelah menekan tombol lift.


“Apa yang terjadi? Apa mereka terluka?” tanya Alex. Pikirannya sedikit tidak fokus, membayangkan kemungkinan salah satu dari anak-anaknya terluka membuatnya cukup gelisah.


“Um … maaf, Sir. Kepala Sekolah hanya menyampaikan garis besarnya saja. Saya juga tidak sempat bertanya karena langsung berlari ke ruangan Anda.”


Alex pun tidak bertanya lagi. Ia hanya ingin bisa segera sampai ke sekolah anak-anaknya dan memeriksa keadaan mereka. Jadi, ketika pintu lift berdenting dan terbuka, pria itu langsung melesat menuju mobil, mengabaikan Carissa yang berderap mengikuti dari sampingnya. Alex meminta supir untuk bergegas menuju Saint Ann’s School yang berjarak sekitar dua kilometer dari Jotuns Corps.


Ia memang sengaja memilih sekolah yang dekat dengan kantor agar dapat lebih mudah mengantar dan menjemput mereka. Untunglah jalanan siang ini cukup sepi sehingga mobil yang ditumpanginya sampai hanya dalam waktu sekitar tiga menit.


“Sir!” teriak Carissa ketika Alex langsung membuka pintu dan melompat keluar meski mobil belum sepenuhnya berhenti.


Alex mengacuhkan teriakan Carissa dan berlari menuju anak tangga, tidak peduli pada tatapan heran beberapa orang tua murid yang berpapasan dengannya di lorong. Ia tahu di mana ruang Kepala Sekolah karena pernah ke sana sebelumnya, saat mendaftarkan anak-anaknya tahun lalu.


Sementara itu, Carissa hanya bisa membuntuti Alex dengan langkah panjang-panjang sambil meminta maaf pada beberapa orang yang hampir ditabrak oleh tuannya itu. Tidak mungkin ia ikut berlari seperti sedang kesetanan di antara kerumunan ini, ‘kan?


Alex berhenti di depan pintu yang dicat warna cokelat muda dan mengetuknya pelan. Ia mendorong helaian kayu itu dan melangkah masuk.


“Daddy!” seru Aslan, Aaron, dan Amber bersamaan.


Ia berusaha berjalan mendekati meja Kepala sekolah dan memberi salam, “Selamat siang, Mr. George.”


“Siang, Mr. Smith.” Kepala Sekolah George berdeham pelan sebelum melanjutkan, “Saya harap tidak mengganggu waktu kerja Anda, tapi … ini masalah serius ….”


“Apa yang terjadi, Sir?” tanya Alex sambil membalas tatapan Kepala Sekolah.


“Begini … um, Aslan dan Aaron memukul salah seorang teman mereka hidungnya berdarah. Kami langsung membawanya ke rumah sakit karena darahnya tidak mau berhenti dan anak itu terus menangis. Rupanya tulang hidungnya retak.”


Alex memicing dan menatap kedua putranya bergantian. Ia ketakutan setengah mati dan berlari seperti orang gila ke sini karena khawatir terjadi sesuatu pada anak-anaknya, tapi nyatanya ….


“Benar seperti itu?” tanya Alex dengan suara rendah.


Meski terlihat tenang, Aslan dan Aaron tahu ayah mereka sedang marah.


“Iya, Daddy,” jawab dua bocah itu bersamaan sambil mengangguk pelan. Mereka tidak membela diri sama sekali, membuat Alex semakin kesal. Ia merasa telah gagal mengajari kedua anaknya dengan baik.


“Sebenarnya, ini bukan murni kesalahan anak Anda, Mr. Smith. Mereka berdua hanya membela Amber yang digoda oleh Keith, tapi dengan cara yang salah. Saya pun akan memanggil kedua orang tua anak itu. Saya harap Anda ada waktu untuk berbincang bersama mereka. Semoga hal ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” ujar Mr. George sambil tersenyum pada Aslan dan Aaron, “Kalian tahu tindakan kalian itu salah, bukan?”

__ADS_1


“Yes, Mr. George. Maaf,” jawab dua bocah yang memiliki wajah serupa itu dengan suara pelan.


“Kalian bisa meminta maaf pada Keith ketika dia sembuh nanti. Tentunya dia juga harus meminta maaf pada kalian,” balas Mr. George dengan sedikit lega. Ia tahu siapa Alex dan sungguh tidak ingin berurusan dengan pria itu. Namun, sepertinya ia sudah salah menilai. Pria itu bersikap sangat tenang dan bijaksana.


“Ada apa, Sweetie,” kata Alex pada Amber yang sedang menariki ujung bajunya dengan raut wajah seolah ingin mengatakan sesuatu.


“Keith menertawai kami karena tidak punya ibu. Dia tetap melakukan hal itu meskipun aku sudah memberi tahunya kalau mommy sudah ada di surga. Kata Keith, pasti mommy meninggalkan kami karena kami terlalu nakal,” jawab Amber sambil menggigit bibirnya. Kedua tangannya kini terkepal kuat hingga tubuhnya ikut berguncang.


Lidah Alex mendadak kelu. Jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa saat. Seperti ada sebuah batu besar yang menyumbat kerongkongannya sehingga terasa sesak dan perih. Ia merentangkan kedua tangan dan memeluk tiga anaknya erat-erat. Sebagai orang dewasa saja hatinya hancur mendengar perkataan semacam itu, apalagi anak-anaknya ….


Namun, tetap saja … mereka telah mencelakai orang lain. Kinara pasti akan marah kalau mengetahui hal ini. Mungkin dia akan mengomel sepanjang hari dan mengatakan bahwa Alex tidak bisa mendidik anak-anak mereka dengan baik.


Oleh karena itu, Alex menatap lurus pada ketika anaknya dan berkata, “Kalian harus meminta maaf padanya. Oke? Perbuatannya itu salah, tapi tidak berarti kalian boleh membalasnya dengan cara yang salah pula. Mommy pasti akan sangat sedih kalau mengetahui hal ini”


Aslan dan Aaron mulai berkaca-kaca, sedangkan Amber sudah mulai menangis.


Alex menciumi mereka satu per satu, lalu melanjutkan, “Setelah Keith sembuh nanti, ajak dia main ke rumah dan berkunjung ke makam mommy. Mommy pasti senang kalau kalian memiliki teman. Bagaimana? Kalian ingin mommy bahagia, bukan?”


Ketiga bocah itu mengangguk cepat dan memeluk ayah mereka.


“Sorry, Daddy,” bisik Aslan dan Aaron dengan suara serak.


“Jangan ulangi lagi,” balas Alex sambil menepuk pelan punggung mereka berdua.


Mr. George yang menyaksikan itu semua pelan-pelan mengambil tisu di atas meja dan menyusut sudut-sudut matanya. Pemandangan di hadapannya terlalu mengharukan.


“Apakah jam pelajaran sudah selesai, Mr. George? Saya akan mengajak mereka menemui Keith,” kata Alex sambil menoleh pada Kepala Sekolah yang buru-buru menyingkirkan tisu dari tangannya.


“Silakan, Tuan. Jam pelajaran sudah selesai.”


“Baik. Terima kasih. Maaf sudah merepotkan Anda.”


Kepala Sekolah melambaikan tangannya dan berkata, “Sudah menjadi tugas saya. Baiklah, sampai jumpa besok, Jagoan. Ingat kata ayah kalian, jangan mengulanginya lagi.”


Aslan dan Aaron mengangguk dengan patuh lalu berjalan bersisian dengan ayah mereka menuju tangga. Amber tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari ayahnya. Hatinya terasa lebih lega. Senyum yang lembut dan indah menghiasi wajah mungilnya.


Angin musim gugur menerbangkan dedaunan. Langkah kaki Alex terlihat lebih ringan meski ia tahu perjalannya masih sangat panjang.


***


Terima kasih untuk kalian yang masih setia membaca sampai di sini 🥰😍😍

__ADS_1


Silakan ikuti season 2: Remember me, Baby.


Dijamin nggak kalah seru dan pastinya happy ending 😁


__ADS_2