
Kalender meja di hadapan Kinara dipenuhi bulatan-bulatan merah. Raut wajah gadis itu kusut dan muram. Bibirnya berkomat-kamit pelan ketika jarinya menunjuk dari satu lingkaran ke lingkaran berikutnya. Alex sudah pergi selama sepuluh hari tanpa kabar sama sekali.
"Membosankan sekali," gumamnya pelan.
Kinara sudah mandi dan bersiap untuk berangkat ke kampus sejak tadi. Namun, rasa enggan tiba-tiba menyergap. Gadis itu menurukan suhu ruangan, kemudian berguling ke atas kasur. Ia menarik selimut dan berbaring telentang. Ia tidak ingin melakukan apa pun hari ini, termasuk pergi ke kampus. Sepertinya bergelung dalam selimut seharian akan sangat menyenangkan.
Samar-samar, suara derap langkah kaki yang mendekat tertangkap oleh telinga Kinara. Gadis itu membuka mata dan menajamkam pendengarannya. Benar saja, tak lama kemudian suara ketukan pintu yang cukup keras bergema dalam kamar.
"Nyonya, Anda harus segera berangkat ke kampus."
Suara Lorie membuat Kinara memutar bola matanya. Pengawalnya itu semakin cerewet saja sejak keluar dari rumah sakit. Kinara menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu semakin keras, membuat Kinara menekan telinganya semakin kuat.
"Nyonya! Anda harus ke kampus hari ini, kalau tidak Tuan akan memarahi saya ketika dia pulang nanti!"
Kinara menghela napas dan menyingkirkan selimutnya.
"Cerewet sekali," gerutunya seraya turun dari tempat tidur.
"Nyonya--"
"Tunggu sebentar!" teriak Kinara seraya berjalan lemari pakaian. Ia meraih kemeja putih dan celana denim biru dongker. Setelah berganti baju dan memakai pelembab bibir, Kinara meraih tas dan modulnya di atas meja.
Gadis itu berjalan cepat menuju pintu. Ia melotot sekilas pada Lorie yang sedang memasang wajah innocent di depannya, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya keluar.
Lorie terkekeh pelan dan menyusul Kinara. Ia mendahului dan membukakan pintu mobil. Setelah majikannya itu duduk dengan aman, ia berjalan ke depan dan duduk di balik kemudi.
"Pasang sabuk pengaman Anda, Nyonya ... um, maksudku Nara."
Kinara mendengkus dan mengalihkan pandangan keluar kaca jendela. Ia tahu Lorie senang menggodanya. Pengawalnya itu akan semakin senang kalau ia menanggapi.
"Aap Alex mengabarimu kapan dia akan pulang?" tanya Kinara. Pandangannya masih tetap terpaku pada jajaran pepohonan dan bangunan yang seakan sedang mengejarnya dari luar mobil.
"Um ... tidak," jawab Lorie tanpa berani menatap ke arah Kinara. Ia takut akan merasa iba pada majikannya itu kemudian membocorkan informasi tanpa disadarinya. Saat ini, semakin sedikit yang diketahui oleh Kinara semakin baik untuknya.
"Apa menurutmu aku harus memarahinya ketika dia pulang nanti? Membuatku cemas dan menunggu. Aku sangat kesal."
Bibir Kinara mengerucut. Alisnya bertaut. Menghitung empat hari lagi terasa sangat lama. Ia sudah sangat bosan tidur sendirian di kamar. Setiap hari terbiasa dengan gurauan dan tingkah mesum suaminya membuat Kinara benar-benar merasa kehilangan.
"Anda merindukan tuan?" goda Lorie.
Ia tahu Alex pun merindukan Kinara. Setiap hari pria itu selalu menanyakan kabar Kinara, juga meminta dikirimi foto-foto istrinya secara diam-diam ke ponselnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Kinara memelototi Lorie. "Tidak! Siapa yang merindukan pria menyebalkan seperti itu?" sangkalnya dengan cepat.
Lorie terbahak ketika melihat dari kaca dan mendapati wajah Kinara bersemu merah. "Kalau sangat merindukannya, tidak perlu memarahinya ketika tuan pulang nanti. Peluk dan cium--"
"Diam!" sela Kinara. Kini wajahnya benar-benar memerah hingga ke leher.
"Aku diam," ujar Lorie seraya mengangkat kedua tangannya dari atas kemudi.
Sesaat kemudian, Lorie kembali fokus pada jalanan di depannya. Sesungguhnya, ia benar-benar tahu kapan waktu yang tepat untuk menutup mulut. Ia tidak ingin Kinara kesal dan melaporkannya pada Alex. Sekujur tubuhnya meremang ketika membayangkan hal itu.
"Turunkan aku di sini," pinta Kinara ketik mobil masih berjarak sekitar dua puluh meter dari gerbang kampus.
"Kenapa?" tanya Lorie tak mengerti. Ia tidak ingin Kinara berada di luar jarak pandangnya meski hanya satu detik.
"Mobil ini terlalu mencolok. Semua orang memperhatikanku ketika keluar dari mobil ini," terang Kinara seraya bersiap untuk membuka pintu.
Kali ini giliran Lorie yang memutar bola matanya. "Kenapa Anda tidak bilang saat masih di rumah? Kita bisa memakai mobil yang satunya."
"Aku lupa. Itu karena kamu yang membuatku terburu-buru." Kinara membela diri. "Cepat menepi."
"Nara, ini bisa berbahaya untukmu," tegur Lorie dengan wajah serius.
"Tenanglah. Di sini sangat ramai. Para mahasiswa selalu hilir mudik. Jalanan tidak pernah sepi. Kau lihat?" Kinara menunjuk ke luar, menatap jalanan yang ramai dan Lorie bergantian.
Akhirnya Lorie mengalah. Ia menepikan mobil dan membiarkan Kinara turun.
"Baik," jawab Lorie setengah hati. Ia menjalankan kembali mobil sport merah itu dan mencari tempat parkir.
.
Ketika mobil yang dikendarainya telah sedikit menjauh dari Kinara, Lorie mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat.
02 tolong lindungi nyonya. Aku segera kembali.
Kinara segera berbaur dengan keramaian begitu menginjakkan kakinya di atas trotoar. Ia melompat dan berjalan cepat di belakang gerombolan mahasiswa yang sedang membahas tentang parlemen dan dasar negara. Kinara mengangkat satu alisnya, kemudian menggeleng pelan. Ia sama sekali tidak ada bakat dan minat pada pembahasan itu.
"Excuse me," ujarnya seraya mendahului sekumpulan pemuda itu.
Langkah kaki Kinara lebar dan panjang, menandakan semangat untuk segera sampai ke gedung kedokteran. Namun tiba-tiba, entah dari mana datangnya, sebuah mobil box melaju dengan kecepatan tinggi ke arah kerumunan mahasiswa itu.
Semua orang memekik kaget dan berhamburan tak tentu arah. Tubuh Kinara terjepit, terdesak dan terdorong mengikuti tekanan dari orang-orang di sekelilingnya. Gadis itu mendongak dan membeku di tempat ketika melihat mobil box kini hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Ia tidak tahu harus melompat ke kanan atau kiri. Mobil itu terlalu cepat.
"Hey! Menyingkir!"
"Awas! Berbahaya!"
__ADS_1
Telinga Kinara berdengung. Teriakan orang-orang terdengar seperti suara sekumpulan lebah yang berisik. Napasnya menjadi sesak. Ia seakan sedang dicekik tangan tak kasat mata.
Panick attack.
Gadis itu menutupi kedua telinganya kuat-kuat. Teriakan-teriakan di sekitarnya semakin menjadi-jadi, tetapi kaki Kinara seakan menempel dengan trotoar.
"Gadis Bodoh! Kau ingin mati, ya?!"
Ckiitt! Boom!
Sebuah bentakan keras bersamaan dengan suara mobil yang terguling membuat Kinara tersentak. Ia merasakan tubuhnya melayang sebentar sebelum jatuh menghantam tanah dan rerumputan. Gadis itu tetap berbaring diam. Otaknya belum sepenuhnya mencerna apa yang baru saja terjadi. Mendadak ia teringat Lorie yang berusaha mencegahnya turun dari mobil tadi.
Kinara bangun dan menatap sekitar. "Lorie?" panggilnya dengan linglung.
"Kau baik-baik saja?"
Kinara mencari sumber suara itu. Suara yang membentaknya tadi sebelum tubuhnya melayang dan selamat dari tubrukan mobil box.
"Kau yang menyelamatkanku?" tanga Kinara seraya menatap seorang pria bermata biru di dekatnya.
"Aku pikir kau ingin mati," ujar pria itu seraya berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Kinara.
"Aku hanya terkejut," jawab Kinara. Ia menerima uluran tangan pemuda itu dan bangun. "Terima kasih telah menyelamatkanku."
"Tidak masalah," balas pemuda itu, "Cukup beri tahu aku siapa namamu."
"Kinara."
"Raymond."
"Terima kasih, Raymond."
"Kau bisa membayarnya dengan secangkir--"
"Nara!"
Kinara menoleh dan mendapati Lorie sedang berlari ke arahnya dengan wajah pias. "Kau baik-baik saja?" tanya gadis itu.
Kinara mengangguk. "Raymond menyelamatkanku. Maaf membuatmu terkejut."
"Lain kali aku akan mengikat tanganmu dengan tanganku," gerutu Lorie. Ia menatap Raymond dengan tajam, lalu tiba-tiba teringat pada Benji.
"Ayo pergi," ajak Lorie seraya menarik tangan Kinara. Ia tidak melepaskan cekalannya meski Kinara protes dan meronta.
Lorie melirik sekilas pada pria berjas hitam di ujung jalan, kemudian memberi isyarat dengan ekor matanya agar pria itu mengurus supir mobil box yang telah diamankan di trotoar. Pria itu mengangkat topinya dan berjalan mendekat, tetapi tidak mengatakan apa pun ketika berpapasan dengan Lorie, seakan mereka tidak pernah saling mengenal. Bahkan Kinara pun tidak menyadari interaksi antara kedua orang itu.
__ADS_1
"Kita pulangnya. Sekarang," ujar Lorie penuh penekanan, menyiratkan bahwa ia tidak menerima penolakan sama sekali.
Kinara mendesah pasrah. Ia bahkan tidak sempat memunguti modulnya yang berserakan di pinggir jalan.