
Di dalam pesawat Tara terlihat beberapa kali menguap, sehingga membuat Gio menepuk-nepuk pundaknya beberapa kali.
"Apa mau tidur di sini?" tanya Gio pada sang istri.
Tara menatap Gio. "Jangan tinggalkan aku, apa kamu mau berjanji untuk hal itu?" Tara bukannya menjawab sang suami, wanita itu malah menanyakan suatu hal yang lain pada laki-laki itu "Gio, jawab aku."
Gio tersenyum sambil membawa kepala sang istri ke bahunya. "Meski puluhan kali kamu bertanya seperti itu, aku akan tetap menjawab kalau aku ini tidak akan pernah meninggalkan kamu Tara, dalam keadaan apapun itu, karena cintaku ini tulus dari hati dan aku juga mencintaimu apa adanya, bukan ada apanya," jawab Gio yang memang tulus dari hati. "Sekarang, lebih baik kamu tidur saja karena perjalanan kita masih panjang," sambung Gio.
"Lalu foto itu bisa kamu jelaskan sekali lagi kepadaku?"
"Sayang, Sera baru sembuh, dan aku juga tidak tahu kalau anak itu akan mencariku sampai ke sana. Aku juga tidak tahu kalau Sera akan men ci um, pipiku waktu itu." Gio menjawab dengan jujur tanpa ada ada kata dusta di dalamnya. "Mulai sekarang, kamu harus mendengarkan aku bukan mendengarkan orang lain." Gio mengusap-usap kepala sang istri sambil mengucapkan kata-kata manis dan sebagainya untuk membujuk Tara, supaya wanita itu tidak membuat emosi Gio meledak-ledak seperti kemarin. Gio juga mengatakan pada istrinya itu kalau Tara jangan pernah egois.
"Ingatan aku jika aku lupa," ucap Tara yang mendongak sambil memegang rahang sang suami. "Tolong ingatkan aku, Gio," lanjut Tara sekali lagi.
"Kita harus saling mengingatkan Tara," timpal Gio. "Biar sama-sama seimbang, seperti kata Daddy yang memberitahuku jika salah satu menjadi api maka satunya lagi harus berperan menjadi air, biar rumah tangga kita menjadi kekal abadi sampai kakek-nenek." Gio lalu memunduk dan lagi-lagi laki-laki itu telihat men ci um pucuk kepala sang istri. "Tidur ya, nanti kalau kita sampai baru aku akan membangunkanmu, karena tadi malam juga tidurmu hanya tiga jam saja," ujar Gio yang sampai menghitung berapa jam istrinya itu tidur tadi malam.
"Jadi, kamu sampai menghitung berapa jam aku tidur tadi malam?"
__ADS_1
"Jangankan jam tidurmu, Sayang, beberapa jam kita tadi malam ... ehem juga aku sampai menghitungnya," jawab Gio sambil mengulum senyum simpul.
Tara yang merasa sangat malu mendengar itu semua, langsung saja mencubit pinggang sang suami. "Ish, kita di dalam pesawat, lihatlah orang-orang menatap kita," ucap Tara yang menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Gio. "Jangan bahas itu lagi," sambung Tara.
Gio menuduk lagi dan meniup kuping sang istri. "Kalau kita sudah sampai di Spanyol apa aku boleh membicarakan itu?"
"Sudah Gio, aku benar-benar sangat malu." Tara terlihat memejamkan mata saat ia menjawab sang suami mengatakan itu.
"Oke, aku akan menutup mulut ini sayang," kata Gio sambil terkekeh-kekeh.
***
"Nona Sera, kenapa dia ada di sini juga?" Gavin bertanya pada dirinya sendiri. Sebab lak-laki itu benar-benar heran, karena tadi sewaktu dia, Gio dan Tara masuk ke dalam pesawat gadis itu tidak kelihatan batang hidungnya. Tapi sekarang Gavin malah melihat Sera duduk manis di sebuah kursi yang berjarak dengan Gio cuma tiga kursi saja. "Tuan muda Gio harus tahu, kalau Nona Sera ternyata ada di dalam pesawat ini juga, dan jangan sampai hubungan Tuan muda dan Nona muda Tara menjadi kacau serta berantakan lagi. Pokoknya jangan sampai terjadi, karena jika itu semua sampai terjadi maka aku juga bisa dalam masah," gumam Gavin pelan sambil kembali memperbaiki masker serta kacamata yang laki-laki itu kenakan saat ini.
Gavin terus saja melihat ke arah Sera, dimana gadis 17 tahun itu terlihat sedang membaca novel yang berjudul Noda di Seragam SMA Author Ayuza, sehingga membuat Gavin yang tadi sempat was-was kini laki-laki itu terlihat tersenyum simpul. Karena novel yang dibaca oleh Sera itu sangat bagus dan juga bisa membawa para pembaca untuk ikut masuk ke dalamnya.
"Semoga saja, setelah Nona Sera membaca novel itu, dia akan sadar dan tidak ingin merebut lagi Tuan muda Gio dari Nona muda Tara, sebab isi novel itu benar-benar mengandung emosi, dan bawang. Mengingat di dalam novel itu berisikan tentang perjuangan seorang gadis yang telah lama hidup menderita," ucap Gavin sambil terus saja mengawasi gerak gerik Sera. Karena laki-laki itu hanya ingin berwaspada kalau sampai Sera mau membuat drama di dalam pesawat itu.
__ADS_1
"Semoga saja, Nona Sera tidak macam-macam lagi. Karena sudah cukup ujian dalam rumah tangga mereka itu adalah seorang anak saja, dan jangan ditambah lagi dengan kehadiran orang ketiga ataupun orang-orang yang sengaja ingin memisahkan Tuan muda Gio dan Nona muda Tara," lanjut Gavin berbicara panjang lebar pada dirinya sendiri. Sambil memikirkan bagaimana dia akan memberitahu Gio tanpa diketahui oleh Tara. Mengingat Tara dan Gio baru saja baikan tadi malam dan jangan sampai hanya karena Sera, hubungan pasangan suami istri itu akan kembali renggang lagi.
Gavin sangat peduli dengan Gio, sebab dulu jika tidak ada Gio mungkin saja sekarang laki-laki itu hanya tinggal namanya saja. Membuat Gavin berjanji kalau Gio belum bahagia dengan pasangannya maka ia tidak akan menikah dulu. Sebelum ia benar-benar memastikan kalau kehidupan tuan mudanya itu bahagia tidak seperti saat ini. Inilah bentuk kesetian Gavin kepada Giorgio Ravarendra.
***
"Sayang, aku mau ke toilet dulu sebentar," bisik Gio di telinga istrinya. Sehingga membuat Tara yang dari tadi sudah terlelap membuka mata. "Sebentar saja, kamu tunggu aku ya," ucap laki-laki itu lagi.
Tara mengangguk dengan mata yang masih merah karena rupanya wanita itu benar-benar tertidur pulas di bahu sang suami. "Tapi jangan lama-lama," kata Tara sebelum Gio benar-benar pergi ke toilet. "Gio, jangan lama-lama," rengek Tara karena mode manja wanita itu sudah mulai on.
"Sayang, sebentar saja, apa jangan-jangan kamu mau ikut, buat nemenin aku?"
Tara mendesis, "Ish, nyawaku ini belum sepenuhnya terkumpul." Mimik wajah Tara terlihat cemberut. "Malah nyuruh aku ikut ke toilet, dasar laki-laki me sum!" gerutu Tara.
Gio tersenyum. "Aku cuma menyuruhmu untuk ikut denganku Sayang, bukan melakukan hal yang macam-macam," timpal Gio sambil mencubit pelan hidung Tara. "Ketahuan 'kan, kalau isi otak kamu itu yang me–"
"Nggak ada, otakku yang me sum, justru kamu itu, Gio," potong Tara cepat sebelum kalimat sang suami selesai.
__ADS_1