
“Tuan Smith?” panggil Raymond lagi dengan sedikit ragu-ragu. Meski hanya dari ponsel, ia bisa merasakan bahwa Alex sedang menimbang sesuatu. Apakah pria itu tahu di mana Lorie?
“Apakah kamu masih di Venice?”
“Ya. Aku masih menunggu kabar dari pihak kepolisian, tapi sampai beberapa jam yang lalu masih belum ada kepastian. Aku benar-benar mencemaskannya. Apakah Anda bisa membantu menemukan di mana dia?”
“*Kamu sungguh ingin bertemu dengannya*?”
“Ya,” sahut Raymond tanpa berpikir dua kali. Ia sangat ingin bertemu dengan Lorie.
“*Kenapa*?”
Kenapa?
Kali ini Raymond yang terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu harus memberikan alasan apa kepada Alex Smith. Haruskah ia memberitahu perihal “kecelakaan” yang terjadi antara dirinya dan Lorie lima hari lalu?
“*Raymond*?”
“Ya, Tuan ... aku hanya cemas. Kami berjanji untuk makan siang bersama, tapi dia tidak pernah muncul. Lalu saat mengetahui bahwa dia diculik, aku sungguh sangat khawatir. Bisakah Anda membantu melacak lokasinya?”
“*Berangkatlah dengan penerbangan paling cepat ke Broocklyn*.”
“Huh?”
“*Aku bilang ambil penerbangan paling cepat ke Broocklyn*.”
__ADS_1
“Dia ... ada di sana?”
“*Datanglah kalau kamu ingin tahu. Aku tutup dulu, anak-anak mencariku*.”
“Tapi—“
Tuuut ....
Raymond menatap ponselnya dengan ekspresi berubah-ubah, antara ragu dan sedikit berharap, pria itu tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Alex Smith menyuruhnya pergi ke Broocklyn, apakah itu artinya dia sudah menemukan Lorie dan membawanya pulang?
Seketika jantung Raymond berpacu lebih cepat. Ia menyetop taksi yang lewat dan meminta sopir untuk membawanya kembali ke hotel.
Dengan tangan sedikit gemetar ia memeriksa jadwal penerbangan paling awal menuju Broocklyn. Itu sekitar pukul dua dini hari. Tanpa ragu ia segera memesan tiket pesawat yang akan berangkat tiga jam lagi.
Secercah harapan menembus hati dan pikirannya, memberi pasokan tenaga dan semangat baru. Jantungnya berdebar-debar tak karuan. Jika Alex berhasil menemukan Lorie, apakah dia baik-baik saja?
Semoga saja begitu ....
Setelah meminta sopir taksi untuk menunggu di lobi, Raymond benar-benar berlari menuju lift, menunggu dengan tidak sabar ketika benda itu membawanya ke lantai 12. Pintu lift bahkan belum terbuka sempurna ketika ia menerobos keluar dan berlari lagi menuju kamarnya.
Pria itu mencuci muka beberapa kali untuk menghilangkan efek pengar, kemudian bergegas berganti pakaian. Ia membereskan barang bawaannya dengan cepat dan memasukkannya ke dalam koper dengan asal-asalan, lalu menyeret kotak berwarna abu-abu itu keluar kamar. Seluruh proses itu hingga *check out* dari hotel tidak sampai memakan waktu 15 menit.
“Ke bandara, Pak,” pintanya setelah duduk di kursi penumpang.
__ADS_1
“Baik, Tuan.” Sopir segera menyalakan mobil dan mengendara keluar dari pelataran hotel.
Raymond bersandar di kursi dan mengusap wajahnya beberapa kali. Ia lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Alice.
**Aku sedang menuju bandara untuk pergi ke Broocklyn. Setelah dari sana, aku akan langsung menyusulmu. Kirimi aku lokasi terbarumu**.
Setelah mengirim pesan itu, Raymond mengalihkan pandangannya ke luar. Efek mabuk masih sedikit terasa, tapi otaknya sudah lebih jernih.
Untung saja nomor Kinara masih aktif ... lebih beruntung lagi Alex tidak mengabaikannya. Pria itu bisa saja mengatakan bahwa dia tidak tahu menahu perilah Lorie sama sekali, tapi dia justru memintanya untuk datang ke Broocklyn.
Raymond sangat yakin Lorie ada di sana. Antusiasme memenuhi pembuluh darahnya, membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
Akan tetapi, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Ketika Raymond memikirkan apa yang harus dikatakannya kepada Lorie, ia tiba-tiba menjadi lesu. Wanita itu langsung pergi pagi-pagi buta ke apotik ... apakah dia ingin membeli pil kontrasepsi? Apakah dia sudah sempat meminumnya sebelum diculik?
Karena terlalu mengkhawatirkan menghilangnya Lorie, Raymond bahkan tidak sempat memikirkan mengapa wanita itu berada di depan apotik pagi buta. Kini ia baru menyadarinya dan tidak tahu harus bersikap bagaimana saat mereka bertemu nanti.
Apakah dia akan marah? Apakah dia akan meneriaki dan memakinya? Apakah dia akan menjaga jarak dan bersikap seperti orang asing? Atau ... mungkin dia bahkan tidak ingin bertemu sama sekali ....
Rasa cemas dan bimbang kembali melanda pria itu. Bagaimana kalau Lorie benar-benar tidak ingin bertemu? Haruskah ia menceritakan peristiwa itu kepada Alex dan memintanya menjadi penengah?
“Astaga ....”
Raymond mengeluh dan memijit pelipisnya yang berdenyut. Seandainya ia tidak mabuk malam itu, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi. Seandainya ia tidak mengungkit masalah agar Alice berhenti dari dunia modeling setelah *road show*-nya berakhir, mungkin sekarang mereka sedang menikmati waktu yang indah dan romantis di Kota Boston.
__ADS_1
Namun, kenyataannya berbanding terbalik dengan semua pengandaian yang terus berputar dalam kepalanya. Kenyataannya ... ia telah merusak seorang gadis, sementara hubungannya dengan Alice memburuk ... jelas sangat buruk karena Alice tak kunjung membalas pesannya.
***