
“Alex ....”
Kinara menahan dada suaminya hanya berjarak satu jengkal. Matanya yang sayu menatap Alex dengan tidak fokus, memerhatikan lekuk dan garis wajah yang sudah sangat lama dikenalnya. Jemari Kinara bergerak menyusuri tulang rahang dan berhenti di bibir pria itu, mengusapnya dengan sangat lembut dan hati-hati. Kemudian tanpa ia sadari, bulir bening dan hangat bergulir turun dari sudut-sudut matanya.
“Ada apa, Baby?” tanya Alex ketika melihat tingkah aneh istrinya.
Ia menyusut air mata Kinara, menciumi wajahnya dengan penuh cinta lalu berkata, “Maaf kalau aku menyakiti hatimu, aku tidak bermaksud untuk–“
Kinara menggeleng. “Tidak ... aku hanya ... aku ....”
Kinara sendiri tidak mengerti mengapa tiba-tiba ia merasa sangat sentimentil. Mungkinkah karena pengaruh alkohol yang ia minum? Atau karena kehadiran Jessica memicu memori yang tersimpan rapat dalam kotak pandora di kepalanya ... um, mungkin juga karena sikap Alex yang sangat lembut dan manis. Entahlah, mungkin karena perpaduan semuanya. Ia tidak bisa memutuskan yang mana yang lebih besar pengaruhnya.
“Katakan, apa yang kamu pikirkan,” ujar Alex seraya berguling dan berbaring di sisi istrinya.
Melihat Kinara tersedu seperti itu membuat hasratnya menguap begitu saja. Ia menarik tubuh Kinara dan mendekapnya dengan erat. Rasa nyaman mengalir dalam darahnya ketika embusan napas istrinya yang hangat menerpa dada dan lehernya.
“Alex ...,” panggil Kinara lagi, “kenapa kamu menyukai Jessica?” tanyanya.
Meski sudah bisa menebak apa alasan Alex, Kinara tetap ingin mendengar suaminya sendiri yang mengatakannya. Kesalahpahaman belasan tahun lalu, apakah Alex akan mempercayainya? Ia tidak punya kesempatan sama sekali waktu itu. Jessica dan granny menghalanginya, persis seperti sekarang.
Alex terdiam sejenak. Ia menimbang-nimbang dan memikirkan cara penyampaian yang tepat agar tidak membuat Kinara bersedih.
Pria itu berdeham pelan sebelum berkata, “Awalnya aku hanya mengenalnya sebagai putri salah satu rekan bisnis ayahku. Kemudian suatu hari, dia menarikku keluar danau di Minnesota. Waktu itu ayah mengadakan libur musim panas bersama seluruh koleganya. Masing-masing dari mereka membawa keluarga, Jessica salah satu di antaranya.”
Alex terdiam sesaat, seakan sedang menggali memori yang mulai mengabur dalam ingatannya. Kalau tidak salah, ia baru berusia sepuluh tahun waktu itu.
Kinara diam dan mendengarkan cerita Alex dengan sabar. Ia tidak menyela sama sekali meski kilasan memori ketika mereka berdua hampir mati kehabisan napas kembali terkuak ke permukaan. Rasa dan aroma lumpur yang melewati tenggorokannya masih teringat dengan jelas. Betapa panik dan takutnya ia hingga hampir gila ketika mereka berhasil mencapai daratan tetapi Alex masih belum juga membuka mata. Satu-satunya perasaan yang bisa mengimbangi kecemasannya kala itu adalah ketika ia melihat mobil Alex terjun ke dalam jurang beberapa bulan lalu. Mengenang semua itu, air matanya mengalir semakin deras.
Bukankah alam semesta menyatukan mereka dengan cara yang aneh?
“Lanjutkan,” pinta Kinara dengan suara serak. Ia mendongak untuk menatap wajah suaminya. Wajah yang tidak pernah tergantikan oleh siapa pun selama hidupnya.
“Itu masa lalu, aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman mendengarnya,” kata Alex.
“Tidak. Lanjutkan.” Kinara bersikeras. “Aku ingin mendengarnya.”
“Aku tidak menyukai keramaian, jadi ... kau tahu, waktu itu aku menjauh dan mencari udara segar, menyelinap dan mencari danau yang akan digunakan untuk memancing bersama. Aku ingin melihatnya sebelum terlau ramai. Sialnya aku terpeleset ketika menginjak batu berlumut di tepian. Hal terkahir yang aku ingat adalah rasa sakit yang menyengat di bagian belakang kepala."
"Lalu?"
__ADS_1
"Ketika sadar, semua orang sudah mengerumuniku. Kedua orang tuaku sedang menangis dan berterima kasih pada Jessica. Dia terus menempel padaku setelah itu. Hingga akhirnya kami berkencan ... tapi percayalah, sekarang aku hanya mencintaimu saja,” ujar Alex dan mencium puncak kepala Kinara dengan penuh rasa sayang.
Tanpa sadar Kinara mencengkeram lengan suaminya kuat-kuat. Bayangan ketika ia berlari tanpa alas kaki menerobos pepohonan dan semak-semak, mengabaikan rasa sakit di permukaan kulitnya yang terkelupas hanya untuk mencari pertolongan bagi Alex. Waktu itu Ia berpapasan dengan Jessica di tengah jalan, meminta gadis itu untuk menemani Alex karena ia akan pergi memberitahu ayahnya.
Namun, ketika ia kembali, Jessica sudah menjadi pahlawan yang dielu-elukan. Kala itu rupanya Jessica membawa dua bodyguard bersamanya untuk berjalan-jalan. Mereka agak tertinggal di belakang sehingga Kinara tidak melihatnya. Tentu saja hal itu membuat Jessica bisa mengatur semuanya dengan sangat mudah, berakting seolah-olah dialah yang telah menyelamatkan Alex.
Lalu, ketika ia ingin mendekati Alex yang telah siuman, ayahnya menarik tangannya seraya menggeleng pelan. Saat itu, tidak ada satu orang pun yang menyadari bajunya yang basah kuyup, atau telapak kakinya yang berdarah, juga air mata yang mengering di pipinya.
“Alex ... kalau aku mengatakan bahwa waktu itu ... aku yang menarikmu keluar dari dalam danau, apa kamu akan mempercayaiku?” tanya Kinara dengan suara menyerupai desau angin di musim gugur,
Tubuh Alex menegang mendengar pengakuan Kinara.
“Benarkah?” bisiknya lirih, sungguh tidak tahu harus merespon seperti apa.
Kinara tersenyum dan mengangguk.
“Ketika ayah mengajakku untuk ikut ke Minnesota, aku sangat senang hingga tidak bisa tidur semalaman. Aku tahu kamu akan ada di sana juga, dan itu membuatku sangat bersemangat. Aku mengikutimu diam-diam seperti seorang pencuri, bersembunyi di balik pepohonan ... mengikutimu dari belakang seperti seekor anak anjing yang tersesat... lalu ketika kamu jatuh, aku berlari dan terjun begitu saja."
Kinara mendongak untuk melihat respon Alex. Ia meraih wajah suaminya dan mencium bibirnya sekilas karena menyadari ekspresi yang tidak terbaca di wajah pria itu.
"Kemudian? Apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Alex setelah pulih dari rasa terkejutnya.
Tangan Kinara bergerak pelan, menyusuri leher Ales dan berhenti di bagian belakang kepala. Jemarinya menyibak rambut suaminya, mencari bekas luka yang mungkin sekarang sudah tidak ada lagi.
“Dulu kepalamu berdarah di sini, sangat banyak sampai-sampai air danau di sekitarmu ikut memerah. Darahnya tidak mau berhenti meski aku sudah menutupnya dengan kaos kakiku yang basah.” Kinara tergelak pelan.
“Aku benar-benar bodoh waktu itu. Kepanikan membuatku menjadi idiot,” gumamnya lagi dengan sorot mata menerawang jauh.
Rasa pusing dan mualnya sudah sedikit berkurang, tapi ia merasa lega ... setidaknya minuman beralkohol itu memberinya sedikit keberanian untuk menceritakan semuanya. Masalah Alex akan percaya padanya atau tidak, biarlah pria itu yang memutuskan.
Alex hanya terdiam tanpa mampu mengatakan apa pun. Semua informasi ini terlalu mendadak. Ia perlu waktu untuk mencerna semuanya dengan baik. Lagipula, dalam ingatannya tidak pernah ada sosok Kinara kecil. Ia tidak pernah melihat versi muda dari istrinya di rumahnya atau tempat lain. Mereka tidak pernah berpapasan di mana pun.
“Kita hanya pernah berpapasan satu kali,” ujar Kinara seakan bisa membaca pikiran Alex, “Itu ketika ayah baru saja menjemputku dari sekolah, lalu tuan besar memintanya ke The Spring Mountains untuk mengantarnya ke kantor. Ayah memintaku menunggu di bagian belakang, tempat para pelayan, tapi aku diam-diam berkeliaran sampai di dekat istal kuda.Waktu itu, kamu juga masih memakai seragam sekolah. Kita bertemu di dekat gerbang selatan.”
Gambaran ketika pertama kali ia bertemu Alex dan tergila-gila pada pemuda itu setelahnya membuat Kinara menyeringai seperti orang bodoh. Sejak pertemuan mereka itu, ia berubah menjadi bayangan Alex, mengikutinya dalam diam ke mana pun bocah laki-laki itu berkeliaran, baik di rumah atau di setiap kesempatan ketika mereka kebetulan berada di tempat yang sama. Namun, semuanya berubah sejak kejadian di Minnesota. Ia tidak pernah menginjakkan kakinya di kediaman keluarga Smith lagi, hingga akhirnya harus bekerja di sana sebagai salah seorang pelayan.
“Kamu tidak ingat?” tanya Kinara ketika melihat raut wajah suaminya yang terlihat seperti sedang berusaha keras mengingat sesuatu.
“Maaf ...,” jawab Alex. Ia merasa gamang, meski sudah berusaha sekuat tenaga, ia tetap tidak dapat mengingat semua pengakuan istrinya barusan. Bahkan pertemuan mereka di gerbang selatan rumahnya pun ia tidak ingat. Justru rasa sakit yang sangat menghantam kepalanya.
__ADS_1
“Alex?”
Kinara mendongak ketika mendengar suaminya mengerang pelan.
”Jangan memaksakan diri untuk mengingatnya,” ujarnya lagi ketika menyadari apa yang sedang terjadi pada suaminya.
“Kenapa kamu tidak mencoba memberi tahu kedua orang tuaku?” tanya Alex, “Atau ayahmu ... kenapa tidak berusaha menjelaskannya?”
“Kamu pikir, orang tuamu akan mempercayai anak seorang supir atau putri rekan bisnis mereka?”
Kinara tersenyum pahit dan melanjutkan, “Lagipula aku pernah ingin menjengukmu setelah kembali ke Spring Mountains. Waktu itu granny yang sedang menjagamu. Kamu pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya. Itulah sebabnya aku menghilang, karena aku sadar ... kamu adalah pangeran dari langit sedangkan aku hanya lumpur yang akan mengotori alas kakimu.”
Alex terdiam mendengar perkataan istrinya. Jika itu semua memang benar ... hatinya terasa sangat sakit untuk gadis kecil yang dulu mati-matian menyelamatkan nyawanya, tapi terlupakan begitu saja.
Kinara bergelung semakin dalam dekapan suaminya dan berkata, “Seperti ini saja sudah lebih dari cukup. Aku hanya ingin memberitahumu saja. Jangan merasa bersalah kalau kamu tidak bisa mengingatnya.”
“Maafkan aku,” ujar Alex pelan, “Aku benar-benar tidak ingat.”
“Tidak masalah, Sayang. Lihatlah seluruh alam semesta bekerja sama untuk menyatukan kita kembali,” gumam Kinara sambil tersenyum lebar, “Kamu hanya perlu menjauh dari wanita licik itu. Jangan beri kesempatan padanya untuk mendekatimu lagi. Kamu tidak tahu seberapa manipulatifnya dia. Aku tidak ingin berpisah untuk kedua kalinya denganmu karena dia,” sambungnya lagi, lalu menguap. Matanya terasa berat.
“Aku akan berhati-hati,” janji Alex seraya menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya, “Tidurlah kalau mengantuk.”
“Hm,” gumam Kinara. Ia memang ingin tidur sebentar. Ia benar-benar merasa lega sekarang. Tubuhnya terasa nyaman dan relaks. Dalam sekejap, ia sudah terlelap dalam pelukan suaminya.
Alex pening, kepalanya seperti dihantam godam. Selama ini ingatannya dipenuhi oleh cerita versi Jessica. Wanita itu menjejali otaknya dengan semua kisah tentang dirinya yang mengagumi Alex secara diam-diam dan mengikutinya ke mana pun. Tentang semua rasa takut dan khawatirnya ketika melihat Alex hampir tenggelam. Jessica menceritakan semuanya berulang-ulang, setiap kali ada kesempatan.
Alex tumbuh besar bersama Jessica, mendengar kisahnya hampir setiap hari, dan semua itu berubah menjadi sebuah kebiasaan. Jessica bersikap sangat manis dan penurut, melakukan apa pun untuk menyenangkan hati Alex sehingga ia merasa mencintai dan melindungi Jessica adalah sebuah keharusan.
Perasaan itu terus berkembang hingga akhirnya Alex merasa memiliki sebuah ikatan dan rasa ketergantungan yang sangat besar sebelum akhirnya Jessica menghilang. Kini, saat wanita itu kembali, satu-satunya alasan ia masih bersikap lunak adalah karena kisah masa lalu itu.
Namun sekarang, istrinya menyampaikan hal yang selama ini diyakininya sebagai sebuah kebenaran. Terus terang, meskipun hati kecilnya memberi alarm untuk mempercayai Kinara, ia masih tetap belum yakin harus mempercayai cerita Jessica atau pengakuan istrinya barusan.
Selain karena ia tidak bisa mengingat pernah bertemu Kinara ketika mereka masih anak-anak, lokasi di mana kepalanya berdarah bisa diketahui oleh siapa pun yang waktu itu ada di sana, bukan?
Ini tidak berarti ia meragukan istrinya, hanya saja ... entahlah ....
Alex menarik napas panjang. Kepalanya kembali berdenyut nyeri ketika ia mencoba mengingat dan berpikir. Akhirnya ia menyerah dan bergelung dalam selimut bersama istrinya, berharap bisa berpikir lebih jernih ketika bangun nanti.
***
__ADS_1