
Matahari sudah menerobos dari sela jendela ketika akhirnya Alex kembali ke rumah sakit. Ia mengangkat tangan kanannya yang memegang kotak makanan. Wajahnya terlihat kusut dan berminyak, tapi ia menyeringai lebar seolah baru saja memenangkan pertempuran besar. Pria itu melangkah dengan cepat menuju ranjang istrinya.
"Lihat, apa yang daddy bawa untuk kalian. Apakah kalian suka?" tanyanya sambil menggoyangkan bungkusan di tangannya di depan perut Kinara.
Kinara ikut tersenyum lebar menyaksikan suaminya sangat antusias. Tadinya ia sudah ingin menceramahi pria itu karena menolak panggilan telepon darinya. Namun, sekarang ketika melihat Alex berhasil membawa apa yang sangat ia inginkan, tiba-tiba ia merasa sangat terharu.
"Terima kasih, Sayang," ucap Kinara dengan tulus.
Alex menunduk dan mengecup kening istrinya dengan penuh rasa sayang.
"Jagoan-jagoanku masih tenang, bukan? Mereka tidak mengamuk karena kelaparan?" godanya seraya berjalan menuju meja dan mulai membuka bungkusan yang ia bawa.
"Hum, mereka menunggu dengan tenang," jawab Kinara sambil tersenyum lembut.
Lorie yang melihat tingkah tuannya segera bangun dan menyingkir. Pria itu bahkan seolah tidak menyadari kehadirannya yang sedang duduk di sofa. Seluruh perhatian pria itu hanya terpusat pada istrinya. Sebenarnya, ia sudah menghubungi Alex dan menyampaikan pesan Kinara agar segera pulang. Tentu saja tuannya itu menolak dengan keras. Ia memutuskan sambungan telepon sebelum Lorie sempat menyelesaikan kalimatnya. Meski begitu, sekarang ia ikut merasa senang karena tuannya berhasil menyelesaikan misinya dengan baik.
Kinara ikut bersemangat mencium aroma masakan yang menguar di udara. Sepertinya benar-benar sangat lezat. Ia menunggu dengan sabar hingga Alex membawa mangkuk berisi ramen ke hadapannya. Kuahnya yang kental mengepulkan uap yang sangat menggoda.
Alex duduk di dekat istrinya dan mulai meniup kuah ramen yang masih panas.
"Buka mulut," pintanya seraya menyodorkan sendok ke mulut Kinara.
Kinara membuka mulutnya dengan patuh. Ketika kuah yang lezat itu menyentuh lidahnya, secara alami ia menutup mata dan mendesah pelan. Potongan mie terasa sangat lembut dan kenyal. Aroma dan rasa kuahnya kaya akan rempah. Ia mencecap dan mengunyah makanan itu dengan perlahan, menikmati perpaduan rasa dan tekstur yang sempurna.
"Enak? Kamu suka?" tanya Alex ketika melihat istrinya tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Hum," gumam Kinara lalu membuka mulutnya, "Mau lagi," pintanya.
Alex menyeringai puas. Ia kembali menyendok ramen, meniupnya dan menyuapkannya ke mulut Kinara.
"Ngomong-ngomong, dari mana kamu mendapatkan ramen sepagi ini?" tanya Kinara tiba-tiba ketika ramen dalam mangkuk sudah tersisa separuhnya saja.
"Mulai sekarang, apa pun yang kamu ingin makan, akan segera tersedia ... tidak peduli pagi, siang, atau tengah malam sekalipun," jawab Alex sambil menjejali mulut istrinya dengan potongan daging panggang, "Biarkan aku saja yang memikirkan bagaimana cara mendapatkannya. Tugasmu adalah beristirahat dan makan yang banyak. Ada tiga calon bayi kecil yang sedang bertumbuh di dalam sana. Oke?"
Sekarang Kinara benar-benar merasa terharu. Ia ingin mengangkat kedua tangannya dan memeluk Alex, tapi hal itu tidak mungkin. Jadi akhirnya ia hanya mengangkat satu tangannya yang bebas dan mengusap wajah suaminya.
Sambil mengunyah daging panggang yang wangi dan terasa sangat enak dalam mulutnya, air mata menetes di wajah Kinara.
"Hey, kenapa menangis? Ibu hamil tidak boleh menangis, itu akan mempengaruhi janin dalam kandungan. Kamu harus selalu bahagia dan tersenyum," ujar Alex sambil mengusap pipi Kinara.
Kinara mengayunkan tangannya dan memukul bahu Alex pelan.
"Omong kosong. Aku menangis karena bahagia, bukan karena sedih. Mereka pasti bisa membedakannya," gerutunya.
Matanya menyipit dan menatap Alex dengan penuh rasa curiga dan bertanya, "Tunggu. Dari mana kamu mengetahui semua itu?"
"Um ... aku membacanya dari internet ...," bisik Alex dengan wajah memerah.
Ia mengusap bagian belakang kepalanya dengan kikuk ketika menyadari Kinara menatap ke arahnya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanyanya dengan ekspresi sedikit salah tingkah.
"Kamu akan menjadi ayah yang sangat luar biasa," jawab Kinara sambil tersenyum lebar, sedangkan air mata yang mengalir di pipinya semakin deras. Ia merasa sangat beruntung.
"Benarkah?" gumam Alex sambil menunduk dan mencium bibir istrinya dengan hati-hati.
Rasa ramen yang gurih masih tertinggal di bibirnya. Ia ingin ******* habis bibir Kinara, tapi takut hal itu akan melukai istrinya. Jadi, pada akhirnya Alex hanya menyesap pelan bibir Kinara, lalu melepaskannya.
"Ya. Kamu adalah suami dan ayah yang sempurna," jawab Kinara setelah Alex menjauhkan wajahnya.
"Aku tidak sesempurna itu," balas Alex seraya mengusap bahu Kinara yang dibalut perban, "Aku tidak bisa menjaga kalian dengan baik, berkali-kali membuatmu hampir celaka ... aku--"
"Kamu tidak bisa mengetahui sesuatu yang belum terjadi, Sayang ... tidak ada yang bisa meramal masa depan, jadi ... jangan menyalahkan dirimu lagi," sela Kinara sambil menggenggam jemari Alex erat-erat, "Kamu yang terbaik. Pria paling baik yang pernah kutemui."
Alex tertegun mendengar perkataan istrinya. Ia tahu Kinara bersungguh-sungguh dalam ucapannya. Hal itu terpancar jelas dari sorot matanya yang teduh dan penuh kehangatan.
Cahaya matahari yang terpantul di kaca jendela membias di wajah Kinara. Garis lengkung pelangi yang indah berpendar di atas kulit wajahnya yang putih bersih, membuat wanita itu terlihat seperti putri tidur yang sedang menunggu sang pangeran untuk menciumnya.
Alex menunduk lagi. Bibir istrinya benar-benar menggoda. Ia sungguh tidak bisa menahan diri dari godaan itu. Dadanya berdebar kencang ketika Kinara membalas ciumannya. Gumamam dan erangan tertahan itu membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Kalau saja saat ini Kinara tidak sedang sakit ... ia pasti sudah ....
Kinara mendorong bahu Alex dengan cukup keras ketika mendengar suara pintu dibuka. Alex pun tak kalah terkejut. Ia terlonjak hingga mangkuk di tangannya hampir jatuh ke lantai.
"Hey ... oh, ya ampun."
Billy yang baru saja masuk berjalan dengan santai menuju sofa dan duduk di sana.
"Lanjutkan saja. Anggap aku tidak ada di sini," ujarnya lagi seraya meletakkan bawaannya di atas meja. Ia menyilangkan kaki dan memainkan ponselnya tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Apa yang kau lakukan sepagi ini di sini?" geramnya sambil melotot ke arah Billy.
"Well, aku membawakan sarapan karena kupikir kalian berdua paling bosan dengan makanan rumah sakit. Tapi rupanya aku keliru," jawab Billy sambil mendongak dan menatap Alex, "Oh, ngomong-ngomong, kenapa selasar rumah sakit dipenuhi peralatan memasak dan orang-orang yang berseragam koki? Apakah Master Chef akan syuting di--"
"Selasar rumah sakit dipenuhi peralatan memasak?" tanya Kinara dengan kening mengernyit. Sekarang ia sudah bisa menebak apa yang sudah dilakukan oleh suaminya. Ia memicingkan mata dan menatap Alex dengan sorot meminta penjelasan.
Alex menatap tajam ke arah Billy dan menggeram, "Aku lihat luka di perutmu sudah cukup sembuh. Apakah kamu menginginkan luka yang baru?"
Suara Alex terdengar tenang tapi menusuk. Billy terdiam ketika menyadari tatapan yang menghujam ke arahnya. Ia bahkan bisa melihat awan gelap bergelantungan di atas kepala sahabatnya itu. Tiba-tiba ia tersadar, ia baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan. Dengan sangat perlahan, Billy bangun dari tempat duduknya dan mulai berjalan ke arah pintu.
"Aku lupa ada janji dengan Lizie untuk pergi mencoba gaun. Jangan khawatir, kalian mendapat undangan VIP Class. Bangku nomor satu," ujar Billy seraya mengangkat kedua tangannya, "Tenang, resepsi akan diadakan setelah Kinara sudah sembuh. Kalian--"
"Keluar."
"... bisa--"
"Sekarang."
"Baik. Aku pergi sekarang. Sampai jumpa."
Billy melesat dengan cepat dan menarik napas lega setelah daun pintu tertutup di belakang punggungnya. Ia membalas tatapan Lorie yang sedang melihat ke arahnya dengan sorot bertanya, kemudian memberi isyarat dengan gerakan jari telunjuk yang bergerak melintang di depan lehernya.
__ADS_1
Tawa Lorie hampir meledak, tapi cepat-cepat ditutupnya mulutnya dengan kedua tangan. Ia sudah memperingatkan Billy tadi, tapi pria keras kepala itu tidak mau mendengarkannya. Rasakan!
Alex tidak berani menatap Kinara setelah Billy menghilang di balik pintu. Ia tahu istrinya itu tidak suka jika ia bertindak berlebihan, tapi ... ia benar-benar tidak bisa menahan diri. Ia hanya tidak ingin mengecewakan istrinya.
"Kamu membawa koki ke rumah sakit?" tanya Kinara dengan suara tenang.
"Ya ... aku ...."
"Lex ... kemarilah," panggil Kinara. Ia memberi isyarat agar suaminya mendekat.
"Aku ...."
Alex terlihat sedikit gugup.
"Terima kasih," ucap Kinara seraya menarik lengan Alex. Ia mendaratkan kecupan di pipi suaminya ketika wajah pria itu sudah cukup dekat.
"Kamu tidak marah?" tanya Alex sedikit heran.
"Kenapa harus marah?" balas Kinara.
"Kamu ... bukankah kamu tidak suka kalau aku melakukan sesuatu yang berlebihan?"
"Ya. Kalau hal berlebihan yang kamu lakukan itu sama sekali tidak penting. Tapi kalau untuk hal ini ... aku sangat menghargainya. Terima kasih, Sayang."
Alex menarik napas lega dan mencium kening istrinya. "Aku mencintaimu, Baby," bisiknya.
"Aku tahu," jawab Kinara, "Aku mencintaimu ...."
"Aku tahu ...."
Alex mendekat hingga keningnya menempel dengan kening Kinara. Rasa bahagia yang ia rasakan sekarang, tidak bisa digantikan oleh apa pun.
** *
Haii...
maafkan baru bisa update, lagi ada job di duta.
maklumi pejuang receh ini yaa...😘😘😘
btw,kalian tau gak?
seperti kalian yang gak sabar nunggu author update, author jg selalu deg2an nunggu jempol dan baca komentar2 manis dr kalian loh😍😍😍
kalau yg maniss parah bisa sampai gagal move on juga authornya, dan langsung di SS buat kenang2an... xixixi...
🥰🥰🥰
makasihh yaa...
__ADS_1
oh iya, kali ini aku mau kasih special thanks utk kk Ernha,love youu😍