
Sudah satu minggu berlalu sejak Tara dan Gio pergi makan malam ke rumah Arzan sejak itu pula Tara tidak pernah pergi ke rumah kedua orang tuanya itu. Sehingga pagi yang cerah ini tiba-tiba saja Tara mendepat telepon dari sang ibu yang memintanya untuk datang karena tepat hari ini di rumah kedua orang tua gadis itu akan melakukan persiapan karena lusa acara pernikahan Tika akan di selenggarakan.
Namun, itu membuat hati Tara menjadi bimbang antara datang atau tidak, sebab jika ia datang maka Tika akan selalu saja menghina serta merendahkan sang suami, dan jika ia tidak datang maka sang ibu pasti akan merasa sangat sedih. Membuat Tara harus menyiapkan mental baja yang kuat untuk ia menerima kalimat-kalimat menyakitkan Tika, yang akan di lontarkan oleh sang kakaknya itu jika nanti ia berada di sana.
"Tara, apa kamu mendengrkan Mama?" tanya Yana dari seberang telepon, karena wanita itu tidak mendengar respon dari sang putri, ketika ia meminta Tara untuk datang.
Sedangkan Tara yang di tanya menatap Gio, sebab saat ini Tara sedang berada di kantor sang suami, dan rupanya Tara sedang libur, oleh karena itu gadis itu malah menyampatkan waktu untuk ikut ke perusahaan sang suami, meskipun ia di sana hanya bisa membuat tensi Gio naik beberapa kali lipat.
"Katakan saja nanti kamu akan datang, jangan pakai acara melihatku begitu seperti tatapan elang," ucap Gio. Yang mengerti arti tatapan sang istri. "Gavin, akan mengantarmu sekarang, dan kamu tinggal menjawab iya saja, begitu saja kok repot," lanjut Gio sambil kembali menatap layar monitor di depannya, sebab dua hari yang lalu ada percurian sebeda motor di kantornya itu. Sehingga membuat laki-laki itu terus saja secara teliti melihat rekaman cctv dari layar persegi empat yang ada di depannya saat ini.
"Tara anak Mama, apa kamu masih di sana?" tanya Yana yang mengira Tara malah mengabikan pertanyaannya yang tadi.
"Jawab tante Yana dengan iya, Tara," ujar Gio yang mendengar pertanyaan Yana sebab Tara rupanya membesarkan volume penselnya. "Tara," panggil Gio.
__ADS_1
"Hm, i-iya Ma, nanti aku akan datang kesana. Mama tunggu saja ya, untuk saat ini aku masih kuliah, dan hanya bisa datang ke tika nanti aku sudah pulang," kata Tara berbohong. "Sudah dulu ya, Ma, karena dosenku sudah datang. Aku akan memutuskan panggilan ini dan nanti aku akan mengubungi Mama kalau aku akan kesana," sambung Tara.
"Iya, sudah, kamu belajar yang rajin, supaya suami kamu bangga," ucap Yana menimpali sang putri. "Mama titip salam buat Gio nanti kamu ajak suami kamu itu juga untuk datang ke sini."
"Pasti Ma, nanti aku datang sama Gio, udah dulu ya Ma, dadah Mama sayang." Tara langsung saja mematikan sambungan telepon itu.
"Tidak sopan!" desis Gio karena ia tidak pernah seperti Tara yang mematikan panggilan telepon ibunya secara sepihak.
"Kepala kau yang tidak sopan Gio!" sahut Tara ketus. Karena ia tidak suka Gio mengatakan kalau ia tidak sopan. "Kau lebih baik bekerja saja, jangan malah ikut-ikutan!" gerutu Tara.
Tara menghampiri Gio dan dengan gerakan cepat gadis itu malah duduk di pangkuan sang suami. "Jadi, kau yang mengambil semua bajuku di dalam lemari?" tanya Tara sambil memengang dagu Gio. Dan tanpa gadis itu tahu sekarang adik kecil Gio di bawah sana sedang meronta-ronta karena merasa sesak nafas sebab bo kong Tara mendudukinya. "Dan kau malah menanuruhnya semua ke sini, begitu?"
Gio menggeleng sambil berusaha menyingkirkan Tara dari pangkuannya tapi sayang, semakin ia mencoba menyingkirkan Tara, adik kecilnya malah semakin merasa ingin keluar dari dalam sarangnya. "Tara, turun. Jangan begini nanti aku bisa saja memper kosamu di sini. Karena kelakuan kamu ini membuat adik kecilku bangun!" desis Gio sambil menahan sesuatu, dapat di lihat dari raut wajah laki-laki itu yang saat ini memerah. "Tara, turun dari pangkuanku!"
__ADS_1
"Kau g*y, Gio. Mana bisa tongkatmu berdiri saat aku begini," kata Tara yang melepaskan tangannya dari dagu Gio. "Kau hanya setengah laki-laki, dan kau lemah!"
Gio yang tidak terima kali ini Tara mengirangya g*y dengan cepat bangun dari duduknya dan segera mengendong Tara. Laki-laki itu juga langsung menekan tombol kunci pintu, agar tidak akan ada yang menganggu kegiatan panasnya ini dengan sang istri di pagi ini.
"Hei, apa yang akan kau lakukan?!" tanya Tara memekik, tapi untung saja ruangan itu kedap suara jadi tidak akan ada yang bisa mendengar suara cempreng gadis itu, meskipun Tara berteriak sekeras-kerasnya. "Gio apa yang akan kau lakukan padaku?" Tara bertanya sekali lagi sambil me mu kul dada bidang sang suami. "Turunkan aku Gio!"
Gio malah menarik sudut bibirnya. "Kita akan melakukan isi perjanjian surat itu, dimana kamu akan memberikan aku anak. Dan jika aku hanya diam saja, mana mungkin kamu bisa hamil, oleh sebab itu hari ini aku akan mulai bercocok tanam denganmu," bisik Gio di telinga Tara sambil menggigit daun telinga sang istri. "Apa kamu sudah siap?"
"Hei! Dasar kau me sum!" pekik Tara yang semakin kasar me mu kul dada Gio. "Jangan aneh-aneh! Aku belum siap!"
"Siap atau tidak, aku tidak peduli," kata Gio yang kemudian membawa Tara masuk ke dalam kamar rahasinya itu. "Kamu tinggal me nik matinya saja," lanjut Gio sambil menutup pintu kamar itu. "Laki-laki g*y ini akan membuatmu men de sah," ujar Gio yang sudah membaringkan Tara di atas kasur.
"Kau ...!" Tara menunjuk wajah Gio, yang saat ini terlihat sedang membuka jas. "Jangan macam-macam!" seru Tara.
__ADS_1
"Aku berhak atas dirimu, karena aku suamimu. Jadi, siapa yang berani melarangku?" tanya Gio yang sekarang malah lanjut membuka kancing bajunya satu-persatu setelah tadi berhasil membuka jasnnya. "Berbaring dan nikma tilah, aku janji tidak akan bermain kasar."
"Moncongmu, Gio! Dasar me sum!" Tara memekik.