
Gadis kecil bermata bulat itu diam-diam mencuri pandang pada bocah laki-laki dengan wajah sinis yang seolah tidak peduli pada lingkungan di sekitarnya. Bocah laki-laki itu hanya mengernyit dan menaikkan salah satu alisnya ketika anak-anak lain yang sebaya dengannya berusaha untuk mendekat atau mengajaknya berbicara.
Berdebar ....
Berdebar ....
Berdebar ....
Kinara memegangi dadanya dan merasa bingung. Ia tidak tahu perasaan apa yang membuatnya bersemangat sekaligus tidak nyaman itu. Setiap kali ia melihat ke arah Tuan Muda Smith yang rupawan itu, jantungnya seolah ingin melompat keluar.
Rambut Tuan Muda yang hitam selalu disisir rapi. Dia tetap terlihat sangat tampan meskipun hanya memakai kaos berkerah dan celana santai. Di antara kerumunan anak-anak lainnya, dia terlihat sangat kontras. Auranya yang dominan membuat teman sebayanya terlihat jauh lebih muda darinya.
Oh, ke mana dia pergi?
Diam-diam Kinara menyusup di antara orang dewasa yang sedang sibuk berbincang satu sama lain, perlahan mengikuti Tuan Muda yang melangkah ke arah danau.
Bocah laki-laki itu memelototi beberapa anak perempuan yang mencoba mengekorinya, lalu menyelinap cepat di balik pepohonan. Ia terlihat benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapa pun.
Jantung Kinara berdentam-dentam ketika berlari kecil agar dapat mengikuti langkah kaki bocah laki-laki di depannya. Ia merasa seperti seekor pencuri ... um, lebih tepatnya seekor anak anjing yang membututi majikannya.
Krrrak!
Alex dan Kinara sama-sama berhenti ketika suara ranting kering yang terinjak bergema nyaring. Kinara segera menunduk di balik semak-semak dan menutupi mulutnya. Ia menarik dan mengembuskan napas dengan sangat perlahan, takut sang Tuan Muda akan mengusirnya juga seperti perlakuannya pada anak-anak yang lain.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kinara menghitung dalam hati, kemudian dengan sangat hati-hati mengintip dari celah kecil di depan matanya.
“Fyuuuh ....”
Ia mengembuskan napas pelan ketika melihat Alex sudah kembali berjalan. Perlahan, ia kembali bangun dan membuntutinya. Gadis itu tahu tingkahnya tidak benar, tapi ia tidak dapat menahan dorongan dalam hatinya untuk selalu berada dekat dengan Tuan Muda yang rupawan itu.
Ketika mereka pertama kali berpapasan di dekat istal kuda, ia seperti terhipnotis dan tidak bisa melupakan wajah yang terlihat seperti malaikat yang kesepian itu. Membuat Kinara ingin menggenggam tangannya dan menemaninya ....
“Oh! Awas, hati-hati!” pekik Kinara ketika melihat Alex langsung melompat di antara bebatuan yang berlumut.
Terlambat. Alex kehilangan keseimbangan ketika kaki kanannya berputar dan menginjak tepian yang licin. Tangannya melambai-lambai di udara untuk mencari pegangan, tapi hanya udara kosong yang tergapai.
“Akh!” pekiknya ketika kepalanya menghantam batu dengan keras. Rasa sakit yang sangat membuat kepalanya seakan meledak, kemudian pandangannya seketika menjadi gelap.
“Tuan Muda!”
Suara teriakan Kinara menyerupai cicitan yang melengking tinggi ketika melihat tubuh Alex terguling masuk ke dalam danau. Permukaan air yang tenang dan jernih dengan cepat berubah menjadi merah. Gelombang-gelombang kecil menghantam pinggir bebatuan, mengantarkan aroma anyir yang membuat mual.
Kinara gemetaran, tapi memaksa kaki-kaki mungilnya berlari secepat mungkin ke danau. Tanpa berpikir panjang gadis itu segera melompat turun, menendang ke sana ke mari, berusaha mati-matian mengingat gerakan renang yang diajarkan oleh ayahnya. Gerakan itu membuat lumpur naik ke permukaan, membuat air yang semula jernih menjadi keruh.
“Uhuk!”
Kinara tersedak dan mati-matian berusaha menahan rasa mual ketika air danau yang bercampur lumpur dan darah memasuki tenggorokannya. Meski begitu, ia tetap berjuang sekuat tenaga hingga akhirnya bisa menarik kerah baju Alex dan memutar wajah bocah laki-laki itu agar menghadap ke atas.
Air mata mulai menetes di pipinya ketika menyadari Alex tidak bergerak sama sekali. Ia kembali menendang-nendang dan menggerakkan kaki dengan kuat, berusaha menahan agar tubuh mereka berdua tidak terseret semakin ke tengah danau, atau terhisap ke dalam lumpur.
Jarak tepian danau yang hanya tersisa sekitar dua meter terasa seperti ribuan mil yang sangat menguras tenaga. Terlebih lagi, tubuh Alex jauh lebih besar dan tinggi dibanding Kinara.
Hingga akhirnya ketika gadis kecil itu berhasil menjejak tanah berlumpur di bawah kakinya, ia segera berdiri dan menarik tubuh Alex dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Ia tidak peduli pada sepatunya yang tertanam dalam lumpur dan tertinggal di bawah sana, hanya terus menarik tubuh Alex hingga akhirnya berhasil mendarat di atas daun-daun kering yang berserakan di tepian.
Tanpa memedulikan paru-parunya yang terasa sakit karena kehabisan oksigen, Kinara segera melepas kaos kakinya, membilasnya di danau, lalu menempelkannya pada bagian belakang kepala Alex yang tidak berhenti berdarah.
“T-tuan Muda ...,” panggilnya dengan suara bergetar. Ia berkedip dengan gugup dan linglung, tidak tahu harus melakukan apa.
“Tunggu di sini, Tuan. Saya akan segera kembali,” ujar Kinara sambil mencoba untuk bangun, kemudian berlari sekencang mungkin menuju tanah lapang tempat orang dewasa berkumpul tadi.
Gadis itu berlari seperti kesetanan, mengabaikan duri dan ranting kering yang menusuk telapak kakinya. Di otaknya terus terbayang wajah Alex yang terbaring tak berdaya dengan mata terpejam, darah yang begitu banyak dan tak mau berhenti ....
Apakah dia akan mati, Tuhan? Apakah Tua Muda akan mati? Jangan biarkan dia mati, kumohon ....
Air mata kembali membanjiri wajah Kinara hingga pandangannya mengabur. Ia mengangkat tangan untuk menyusut air mata, kemudian menghentikan langkahnya secara tiba-tiba ketika melihat seorang anak perempuan berambut pirang muncul dari balik pepohonan.
“Hey!” teriaknya sambil melambaikan tangan.
Dengan cepat ia menghampiri gadis yang terlihat seumuran dengannya itu dan berkata, “Pergilah ke tepi danau! Tolong temani Tuan Muda sebentar, aku akan mencari bantuan!”
“Apa yang terjadi?” tanya gadis itu dengan kening berkerut.
“Tuan Muda terluka, cepatlah! Temani dia!” balas Kinara kemudian kembali berlari menjauh.
Dadanya terasa panas dan pedih. Ulu hatinya pun berdenyut nyeri, tapi ia mengacuhkannya dan terus berlari. Semua pakaianya basah kuyup, lumpur mulai mengering di betisnya, sementara telapak kakinya perih dan lecet. Namun, satu-satunya konsentrasinya saat ini adalah agar bisa tiba di perkemahan secepat mungkin.
“Dad! Daddy!” teriaknya dengan suara melengking ketika melihat ayahnya sedang menenteng tas berisi peralatan memancing dan berjalan ke arah danau.
“Ada apa, Sweetie? Apa yang terjadi padamu?” tanya Christoper Lee ketika melihat penampilan putrinya yang berantakan. I
a segera meletakkan bawaannya ke atas rumput dan hendak memeriksa tubuh putrinya.
Kinara menepis tangan ayahnya dan berkata, “Cepat! Kita harus menolong Tuan Muda! Dia terjatuh ke danau!”
Christopher terkesiap. Buru-buru ia bangun dan menarik tangan Kinara.
“Masih di sana. Aku tidak bisa membawanya sendiri,” jawab Kinara seraya mulai berlari kecil.
Lagi-lagi pelupuk matanya memanas. Ia menoleh pada ayahnya dan bertanya, “Apakah dia akan mati, Dad?”
“Tidak. Dia akan baik-baik saja. Jangan cemas,” jawab Christopher, mencoba menenangkan putrinya.
“Tapi ....” Langkah Kinara mendadak terhenti. “Dad ...?” panggilnya dengan sedikit ragu.
Di depan sana, gadis berambut pirang yang tadi ia temui di tengah jalan sedang berjalan di samping dua orang bodyguard yang membopong tubuh Alex. Mereka berjalan melewati Kinara dan Christopher Lee begitu saja, seakan dua orang itu tak kasat mata.
“Hey!” panggil Kinara setelah pulih dari rasa terkejutnya. Ia berjalan cepat, menyusul di gadis pirang yang terus mengoceh pada dua orang bodyguard di sampingnya.
“Hey, kamu—“
“Shhht ....”
Christhoper menahan lengan putrinya yang terulur ke depan, hendak menjangkau pundak si gadis berambut pirang. Ia menggeleng pelan dan merengkuh Kinara dalam dekapan. Ia tahu betul siapa ayah dari gadis itu, dan ia tidak mau mengambil resiko jika putrinya membuat keributan dengan mereka.
“Mari kita pulang dan obati lukamu,” ajak Christhoper pelan.
Akan tetapi, gadis kecil dalam pelukannya hanya terpaku dan menatap lurus ke depan, pada kerumunan orang yang semakin banyak dan mendekat ke arah bodyguard yang menggendong Alex.
“Dia akan baik-baik saja, ‘kan?” bisik Kinara tanpa berkedip.
“Ya. Dia pasti baik-baik saja,” jawab Christopher, “Ayo, cari mommy dan obati lukamu ....”
__ADS_1
Kinara tidak menyahut, tapi ia membiarkan ayahnya menggendongnya dan berjalan menuju villa. Suara Tuan dan Nyonya Smith yang histeris terdengar jelas di udara terbuka. Juga penjelasan si gadis berambut merah yang dengan lihai memutarbalikkan semuanya. Tubuh Kinara menegang dalam pelukan ayahnya.
“Untung aku menolongnya tepat waktu,” ujar si gadis berambut merah sambil menatap sendu pada Alex.
Kinara terkesiap dan ingin membuka mulutnya, tapi lagi-lagi gelengan kepala ayahnya membuatnya mengurungkan niat itu.
“Dia tergelincir. Oh, aku menariknya ke tepian. Untunglah saat itu dua orang bodyguard-ku pun cepat menolong, kalau tidak ....”
Suara yang menjengkelkan itu terus bergema di telinga Kinara. ia merasa sangat marah, putus asa, dan juga tidak rela ... semuanya terasa sangat tidak adil untuknya ....
“Sweetheart?” panggil Christopher ketika merasakan kepala Kinara terkulai ke pundaknya.
Ia menepuk-nepuk punggung putrinya, tapi gadis itu tidak memberikan respon. Dengan panik ia meraih kepala Kinara, kemudian mendapati mata gadis kecilnya terpejam erat.
***
Bau obat yang menyengat membuat Kinara merasa mual. Ia ingin menggerakkan kepalanya, tapi semuanya terasa sangat sakit dan berat.
"Sayang?"
Suara ibunya yang lembut dan terdengar khawatir membuat Kinara memaksa membuka matanya.
"Mom? Dad?" panggilnya pelan ketika melihat kedua orang tuanya berdiri di sampingnya.
"Oh, Tuhan ... syukurlah ... kamu membuatku sangat takut, Sweetie," ujar Rebecca sambil menggenggam jemari putrinya.
"Aku baik-baik saja, Mom. Hanya sedikit pusing," jawab Kinara. Ia melihat infus yang menusuk nadinya dan menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Tadi kamu pingsan, ayahmu sangat cemas sehingga langsung membawamu ke rumah sakit," jelas Rebecca ketika melihat putrinya sedikit heran.
"Oh ...," gumam Kinara, "Um ... bagaimana Tuan Muda? Apakah dia selamat?"
Christopher mengangguk pelan. "Dia selamat ... berkatmu ...."
Kinara tersenyum kecut.
"Yeah ... tapi orang-orang akan mengira gadis pirang itu yang menolongnya," ujarnya seraya membuang muka, menatap jendela rumah sakit yang terlihat suram.
Rebecca mengambil kursi dan duduk di samping putrinya. Ia meraih wajah Kinara dan menatapnya dengan lembut.
"Sayang, apakah kamu menyukainya?"
"S-siapa?"
"Tuan Muda Alex. Apakah kamu menyukainya?"
"Mmm ... itu ... itu ...."
"It's ok, Sweetie, tidak salah untuk menyukainya. Itu adalah sebuah perasaan yang murni dan alami untuk menyukai seseorang. Hanya saja ...."
Rebecca menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Kamu akan segera melupakannya ketika beranjak dewasa nanti, jadi jangan terlalu memikirkannya. Kamu pasti mengerti apa maksud mommy, Sayang ...."
Wanita itu menunduk dan mencium kening putrinya.
"Istirahatlah. Kami akan menjagamu."
Kinara mengangguk dan menutup matanya lagi meski tidak mengantuk sama sekali. Ia hanya ingin menghilangkan rasa tidak nyaman yang membuat tenggorokannya terasa tercekat
***
__ADS_1
sambil nunggu S2, aku kasih bonus buat kalian 😘