
Setelah membujuk Amber, Lorie menyatakan keinginannya itu kepada Alex dan Billy saat sore. Tentu saja kedua orang itu sedikit terkejut, tapi tidak ada yang melarang keputusan Lorie. Selama wanita itu bisa bahagia maka mereka akan mendukung apa pun yang diinginkannya.
“Kalau keputusanmu sudah bulat, maka aku tidak akan mengatakan apa pun lagi,” ucap Alex.
Ia lalu menoleh ke arah Billy dan mengimbuhkan, “Atur pesawat jet untuknya.”
“Baik.”
“Tidak perlu, aku akan naik pesawat biasa saja,” sanggah Lorie.
Billy terlihat tidak suka. Ia membalas sambil cemberut, “Bukankah itu merepotkan? Ingat kandunganmu. Sangat berbahaya jika tidak ada yang mendampingi.”
Lorie terdiam sejenak. Perkataan Billy ada benarnya. Ia menunduk dan mengusap perutnya perlahan. Ia tidak ingin mengambil risiko apa pun untuk jabang bayi dalam perutnya.
“Baiklah. Maaf merepotkanmu untuk mengaturnya,” ucap Lorie pada akhirnya.
Billy mendengkus. “Omong kosong apa? Kamu berkata seperti itu apakah tidak menganggap hubungan di antara kita? Tidak ada yang merepotkan,” balasnya.
“Kapan kamu ingin pergi?” tanya Alex.
“Tiga hari lagi. Aku masih ingin menemani Amber sebentar. Dia sedikit sedih,” jawab Lorie dengan ekspresi murung. Mau bagaimana lagi, ia juga memerlukan ruang untuk menenangkan diri. Jika terus di sini, hati nuraninya tidak akan bisa tenang jika Raymond terus datang.
“Tidak usah khawatir. Aku akan membujuknya nanti,” kata Alex.
“Terima kasih, Tuan.”
__ADS_1
“Tidak perlu sungkan. Kamu adalah bagian dari keluarga.”
Lorie benar-benar tersentuh mendengar ucapan itu. Ia tahu Tuan Alex dan Billy benar-benar menganggapnya sebagai keluarga, juga Dokte Ana. Mereka selalu berada di baris paling depan untuk melindunginya, dan itu membuatnya merasa sangat beruntung.
“Maaf, Tuan, Nona.” Seorang pelayan datang dan memberi salam. “Ada tamu yang mencari Nona Lorie.”
“Tamu? Siapa?” tanya Lorie. Ia sedikit panik ketika memikirkan kemungkinan bahwa Raymond yang datang dan mencarinya.
“Tuan Daniel. Katanya dia sudah menghubungi Anda tetapi Anda tidak mengangkat panggilannya, Nona.”
“Oh. Ponselku ada di kamar.”
“Apa yang harus saya sampaikan kepadanya?” tanya sang pelayan.
Billy yang mengerti situai langsung bangun dan mengikuti Alex tanpa banyak tanya. Setelah kepergian kedua orang itu, hanya tersisa Lorie di ruang tamu. Sebenarnya saat ini ia tidak sedang ingin bertemu dengan siapa pun, tapi mengingat Daniel yang sudah menempuh perjalanan begitu jauh hanya untuk bertemu dengannya, ia tidak tega menolaknya. Lagi pula ... ada beberapa hal yang harus ia bicarakan dengan pria itu.
“Suruh dia ke taman belakang. Aku akan menunggunya di sana,” pinta Lorie kepada pelayan.
“Baik, Nona.”
“Terima kasih.”
Lorie bangun dan pergi ke lorong di sisi barat yang menghubungkan ruang tamu dan taman bunga di halaman belakang. Tempat itu cukup tertutup dan terpisah dari bagian bangunan lainnya sehingga lebih leluasa kalau ingin berbicara di sana.
Ia menuju sebuah bangku kayu yang berada di bawah pohok oak dan duduk di sana. Sapuan angin membuat rambutnya meriap. Lorie sedikit menggigil karena ternyata cuaca sedikit dingin. Saat ia sudah hampir bersin, sebuah jas dengan aroma maskulin tersampir di bahunya.
__ADS_1
“Kenapa keluar tanpa memakai sweater? Kamu sedang hamil, harus menjaga kesehatanmu baik-baik.”
Lori menoleh dengan cepat ke samping. Cahaya matahari sore menerpa sebuah tubuh yang tinggi dan kokoh, memberi ilusi bahwa tubuh pria itu memancarkan cahaya keemasan yang menambah pesonanya.
“Aku tidak apa-apa,” ucap Lorie sambil mengangkat tangannya untuk melepaskan jas, tapi sebuah tekanan lembut di bahu membuatnya menghentikan niat itu.
“Hanya jas saja, jangan terlalu perhitungan denganku. Oke?” ucap Daniel sambil tersenyum lembut.
Pria itu lalu duduk di sebelah Lorie dan menatapnya dengan sorot penuh kerinduan. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu karena ia sibuk dengan pekerjaannya. Sementara Lorie sangat jarang membalas pesan atau mengangkat teleponnya. Sejujurnya hal itu membuatnya sangat menderita, tapi ia tidak bisa melakukan apa pun. Salahkan dirinya yang tertarik kepada wanita keras kepala ini.
Lorie berdeham karena merasa tidak nyaman terus ditatap seperti itu. Namun, ada hal penting yang harus ia selesaikan sekarang.
“Daniel,” panggilnya.
“Hm.”
“Ini sudah satu bulan.”
“Aku tahu.” Daniel berusaha untuk tersenyum meski hatinya terasa masam. Ia bisa menebak apa yang ingin dikatakan oleh Lorie.
“Aku tidak bisa menerimamu.”
Ucapan Lorie terdengar tenang dan teduh, tapi mampu menghancurkan hati Daniel hingga luluh lantak. Air muka pria itu berubah; ada kekecewaan, kesedihan, putus asa, juga sedikit rasa sakit. Namun, hanya sebuah senyuman samar yang muncul ke permukaan.
***
__ADS_1