Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 2


__ADS_3

Venice Marco Polo Airport tampak sangat ramai. Area kedatangan dipenuhi orang-orang dengan penampilan yang beragam, mulai dari yang memakai jas dan pantofel hingga yang hanya mengenakan kaus oblos dan jeans belel. Dalam kerumunan, tampak seorang perempuan berjejal dengan kerumunan dan bergerak menuju pintu keluar.


Perempuan itu menepi di dekat pilar dan mencari jemputan yang seharusnya sudah datang. Tatapan matanya menyisir di antara mobil yang berbaris rapi di depan sana, memeriksa angka yang tertera di bagian belakang mobil dengan teliti.


Ketemu.


Ia mengambil koper hitam yang bersandar di dekat kaki dan menyeretnya menuju sedan yang berada di barisan kelima.


Seorang pria yang menunggu di sisi mobil langsung menyambut dan memberi hormat ketika melihat seorang wanita mendekat ke arahnya. Ia sudah melihat foto wanita yang harus dijemputnya itu di kantor, jadi tidak kesulitan untuk mengenalinya.


“Selamat pagi, Wakil CEO Lorie,” sapa pria berkemeja biru tua itu dengan sopan.


“Pagi. Panggil saja Lorie,” balas Lorie sambil memperhatikan pria di hadapannya yang mungkin berusia sekitar 27 tahun.


“Oh, baik ... um, Miss Lorie.”


Kening Lorie sedikit mengernyit ketika menyadari wajah pria itu berbeda dengan foto yang dikirimkan kepadanya kemarin.


“Leonard?” tanyanya untuk memastikan.


“Bukan, Miss. Namaku George, menggantikan Leonard yang harus mengawal wakil direktur ke Spanyol tadi pagi-pagi sekali. Kantor sudah menghubungi Anda, tapi nomor telepon Anda tidak aktif.”


“Oh, aku memang baru menghidupkannya dan belum memeriksa pesan yang masuk. Maaf merepotkanmu, George.”


“Tidak masalah. Silakan, Miss.” George segera membuka bagasi dan memasukkan koper milik atasannya.


“Terima kasih,” ujar Lorie sebelum masuk dan duduk kursi penumpang.

__ADS_1


Sebenarnya, ia datang ke kota ini juga untuk menggantikan Billy. Eleanor, putri Billy yang baru berusia satu tahun mendadak demam sehingga pria itu tidak bisa meninggalkannya. Tuan Alex pun sibuk dengan triplets yang sedang ujian untuk kenaikan ke kelas dua, jadi ia diserahi mandat untuk meninjau dan membuat laporan. Namun, selain jajaran direksi dari kantor pusat, tidak ada yang tahu sama sekali perihal kedatangannya ini.


Kebetulan sudah lama ia ingin mengunjungi Venice, kota yang katanya paling romantis di dunia, jadi ... dengan senang hati ia datang.


“Saya akan mengantar Anda ke hotel, lalu kembali menjemput pukul sepuluh nanti untuk pergi ke kantor pusat,” ujar George yang sudah mulai mengemudi keluar dari wilayah bandara.


“Baik. Apakah jarak ke kantor pusat jauh?”


“Sekitar setengah jam perjalanan.”


“Oke.”


Lorie melihat jam di pergelangan tangannya. Pukul 10.00, itu berarti masih ada waktu kurang lebih empat jam untuk tidur, semoga bisa mengurangi jet lag yang membuatnya sedikit pengar. Ia menoleh ke luar, memperhatikan bangunan dan gedung yang bergerak cepat di kaca jendela. Jalanan sudah sangat ramai meski masih pagi. Dari penampilannya, sepertinya orang-orang itu adalah para pelancong yang ingin berburu lokasi wisata atau sekadar mencari kuliner khas Italia.


Mobil meluncur melalui jalan bebas hambatan, memasuki kawasan yang tidak dikenal oleh Lorie sama sekali. Berdasarkan GPS, seharusnya Hotel Amber sudah tidak jauh lagi. Hotel itu bernaung di bawah salah satu anak perusahaan Jotuns Corps yang bergerak di bidang akomodasi bertaraf internasional. Dan, ya, Alex Smith memang sengaja menggunakan nama putrinya sebagai nama hotel itu.


Sejak triplets masuk sekolah dasar, Alex lebih sering memintanya untuk membantu mengurusi perusahaan, terbang ke sana kemari dalam satu waktu. Tuannya itu sekarang lebih fokus mengurus anak-anaknya, sepertinya itu yang menjadi satu-satunya alasan bagi pria itu untuk terus bertahan. Sejak kepergian Kinara, pria itu benar-benar terlihat seperti mayat hidup, melakukan semua aktivitas seperti robot. Tak ada lagi cahaya kehidupan di matanya, kecuali saat berinteraksi dengan triplets.


“Apakah Anda ingin sesuatu untuk sarapan, Miss?” tawar George.


Suara George memutus lamunan Lorie yang sedang berkelana. Ia menjawab dengan cepat, “Tidak usah, nanti aku akan memesan di hotel saja.”


“Baik. Kalau ada yang Anda perlukan selama ada di sini, silakan hubungi saya atau Leonard.” Pria berkacamata itu tersenyum dan menoleh sekilas melalui cermin di atas dashboard, memastikan bahwa atasannya akan merasa nyaman selama berada di Italia.


“Oke.”


Mobil melambat dan berhenti di depan gerbang utama Hotel Amber. George membuka kaca jendela dan menunjukkan tanda pengenalnya. Satpam segera menekan tombol sehingga palang terangkat, memberi akses untuk dilewati oleh mobil.

__ADS_1


George memarkir mobil di depan lobi utama, kemudian turun dan mengeluarkan koper Lorie dari bagasi.


“Saya bawakan ke kamar Anda, Miss?” tawar George lagi.


“Aku sendiri saja. Terima kasih. Aku akan menunggu di sini pukul sepuluh nanti.”


“Baik.” George membungkuk sekilas sebelum kembali ke mobil dan melesat pergi. Ia masih harus menjemput salah satu direktur dari rumahnya dan mengantarnya ke kantor.


Sepeninggal George, Lorie menarik kopernya menuju pintu kaca yang terus berputar ketika ada tamu yang masuk atau keluar dari dalam hotel. Model pintu kaca itu seperti tabung dengan empat sekat, jadi setiap orang yang masuk atau keluar tidak akan tercampur.


Begitu memasuki lobi utama, Lorie langsung disambut oleh satpam yang menanyakan keperluannya, apakah ia sudah memesan kamar atau belum. Karena sedang bertindak melakukan pemeriksaan, maka Lorie pun bersikap sebagai tamu biasa. Ia lalu diarahkan langsung menuju resepsionis.


“Kamar Anda berada di lantai 12. Ini kunci kamar Anda, Nona,” ujar seorang gadis yang berdiri di balik meja resepsionis.


“Terima kasih,” balas Lorie sambil tersenyum.


Ia segera berjalan ke arah lift yang hanya berjarak sekitar 5 meter di sisi kanan lobi utama. Setelah mengantri dengan tamu lainnya, akhirnya ia bisa masuk ke dalam lift dan meluncur ke atas bersama delapan orang lainnya.


Pelayanannya cukup bagus. Semua petugas terlihat cekatan dan sigap menjalankan tugas mereka. Akan tetapi, ini baru permulaan. Lorie akan menginap di hotel itu selama satu minggu penuh. Ia berharap nilai pelayanan di hotel ini akan tetap bertahan hingga akhir.


Ketika lift berdenting dan lampu di angka 12 berkedip-kedip, Lorie segera keluar dan menyusuri lorong di sebelah kiri yang tertera angka 111-125. Kamarnya bernomor 120. Ia segera menempelkan kunci pemindai di panel bagian depan pintu, lalu bergegas masuk ketika pintu di hadapannya terbuka lebar.


“Aku benar-benar butuh tidur,” gumamnya sambil menutup kembali pintu kamarnya.


Ia meninggalkan kopernya di depan pintu, pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian melemparkan tubuhnya ke atas ranjang empuk yang langsung menyerap sisa kesadarannya. Dalam sekejap suara dengkuran halus terdengar dalam ruangan itu.


***

__ADS_1


__ADS_2