Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 64


__ADS_3

Dari jendela lantai dua, Billy yang berdiri di sisi Alex mencibir ketika melihat sosok Raymond akhirnya pergi. Kalau bukan karena sudah berjanji kepada Lorie untuk tidak menyentuh Raymond Dawson, ia sudah akan menghambur keluar dan memberi pria itu pelajaran.


“Masih berani muncul di sini, benar-benar bernyali besar,” gerutu Billy seraya mengeratkan kepalan tangannya.


“Kalau bukan karena Lorie, aku sudah pasti akan menghajarnya sampai babak belur,” imbuhnya lagi seraya menoleh ke arah Alex. “Kalau tidak, aku bikin supaya terlihat seperti kecelakaan saja bagaimana? Setidaknya kaki atau tangannya harus patah.”


Alex mengangkat alisnya dan menatap sahabatnya dengan ekspresi yang tidak terbaca. Sejujurnya, meskipun ia tampak tenang di permukaan, tapi sesungguhnya ia juga sangat ingin mematahkan kaki dan tangan Raymond. Bocah itu berani mengusik anggota keluarganya, mana bisa dibiarkan begitu saja.


“Pergi,” ucapnya setelah terdiam cukup lama. “Jangan sampai Lorie tahu.”


Billy melotot dan tergagap, “A-apa? K-kamu ....”


“Jangan sampai lukanya terlalu parah.”


Mata Billy yang penuh dengan keterkejutan dalam sekejap berganti dengan binar yang penuh semangat. Ia melompat maju dan menggoyang-goyangkan tangan Alex.


“Kamu serius? Kamu setuju?” tanyanya untuk memastikan.


Alex memicing dan menepis tangan Billy dengan kesal.


“Cerewet sekali. Cepat pergi,” gerutunya.


“Baik. Baik. Aku pergi sekarang.”


Dalam sekejap, Billy sudah melesat keluar dari ruangan itu. Entah apa yang akan dilakukannya, Alex tidak mau ambil pusing. Yang jelas, Raymond Dawson harus diberi pelajaran. Alex masih berdiri di sisi jendela ketika seorang pelayang menghampirinya dengan panik.


“Tuan, Nona Muda panas. Suhu tubuhnya 39 derajat,” lapor pelayan itu.


“Apa? Sejak kapan?” tanya Alex. Ia bergegas menuju kamar Amber yang berada di sisi timur.


Sang pelayan mengekor di belakang Alex dan berusaha menyamakan langkah kakinya dengan tuannya.

__ADS_1


“Baru saja. Pelayan yang bertugas melayani Nona Muda curiga karena suaranya terdengar sengau. Dia juga tidak mau menghabiskan sarapannya tadi pagi. Itu ... sepertinya Nona Muda merindukan Nona Lorie.”


“Rindu?” tanya Alex tanpa menoleh. Ia mempercepat langkahnya dan berbelok ke lorong sebelah kanan, tempat kamar putrinya berada.


“Ya ... saya sudah memanggil dokter, mungkin akan tiba sebentar lagi,” jawab si Pelayan takut-takut.


Alex mendorong pintu kamar Amber dan langsung berjalan menuju ranjang. Ia menempelkan telapak tangan di kening Amber. Permukaan kulit gadis kecil itu terasa panas. Mungkin karena merasa ada yang sedang menyentuh keningnya, kelopak mata Amber bergerak dan terbuka.


“Daddy?” panggilnya dengan suara sangat lirih. “Aku rindu Aunty Lorie.”


Alex mengehela napas dalam-dalam. Bisa dikatakan ikatan batin antara Lorie dan Amber sangat kuat. Lorie yang selalu berada di sisi Amber dan menemaninya tumbuh dari seorang bayi menjadi gadis kecil yang lucu dan imut. Sejak dulu, saat sedang sakit pun, asistennya itu yang dicari oleh putri kecilnya. Lorie pun sangat memanjakannya.


“Aunty sedang bekerja. Nanti kalau dia sudah tidak sibuk, dia akan segera pulang untuk menemanimu,” ujar Alex seraya mengusap kepala putrinya dengan penuh rasa sayang.


“Di mana dia? Dia sudah berjanji akan mengajakku pergi ke taman bermain,” gumam Amber pelan, tatapannya menerawang antara sadar dan setengah tertidur.


“Kamu harus sehat kalau ingin pergi bermain,” ucap Alex dengan tegas.


Kedua pelayan itu menggeleng pelan.


“Belum, Tuan,” jawab mereka.


“Nona Muda tidak mau makan,” jelas salah satu pelayan yang merupakan babysitter Amber.


“Kami sudah membujuknya, tapi kata Nona, dia hanya mau makan kalau disuapi oleh Nona Lorie,” imbuhnya lagi seraya menunduk, tidak berani membalas tatapan Alex.


Alex menghela napas lagi dan menatap putrinya. Air mata gadis kecil itu sudah merebak. Ujung hidungnya terlihat memerah karena menahan isak tangis.


“Aku rindu Aunty,” bisik Amber dengan ekspresi memelas. “Aku mau tidur ditemani Aunty ....”


Ia belum puas bermain dan melepas rindu dengan Lorie, tapi wanita itu sudah pergi tanpa berpamitan kepadanya. Ia merasa sedih dan menyimpannya dalam hati, tapi semakin lama rasa sedih itu membuatnya merasa sangat merana dan semakin rindu.

__ADS_1


“Kalau begitu makan dulu, ya. Kalau kamu menurut, mungkin besok Aunty Lorie sudah ada di sini,” bujuk Alex.


“Benarkah?” Mata Amber membulat sempurna. “Daddy janji?”


“Hum. Asal kamu mau makan, lalu minum obat yang diberikan oleh dokter.”


“Baik, aku janji!” seru gadis cilik itu dengan bersemangat.


Ia menoleh kepada pengasuhnya dan berkata, “Aku mau makan.”


“Baik, Nona. Tunggu sebentar.” Perawat itu menarik napas lega dan bergegas menyiapkan makan siang untuk sang Nona Muda.


Sementara itu, Alex mengeluarkan ponselnya dan menimbang sejenak. Ia tidak ingin mengganggu Lorie atau membuatnya terpaksa datang demi Amber, tapi ....


“Halo, Tuan?”


“Lorie, bisakah kamu pulang sebentar? Amber merindukanmu.”


“Oh, saya akan mengambil penerbangan yang paling cepat.”


“Tidak usah terburu-buru, perhatikan kondisi tubuhmu juga.”


“Baik, Anda jangan khawatir. Katakan kepadanya, saya akan segera pulang.”


“Terima kasih.”


Di atas ranjang, Amber yang mendengar percakapan ayahnya dengan Bibi Lorie-nya tak henti tersenyum lebar. Ia bahkan tidak melawan dan tidak mengeluh ketika dokter keluarga datang dan memberinya suntikan untuk meredakan demam.


Ia sudah tidak sabar untuk sembuh dan pergi bermain bersama Bibi Lorie kesayangannya.


***

__ADS_1


__ADS_2