
Sore menjelang Gio pada akhirnya memutuskan untuk membawa Tara pergi saja dari rumah kedua orang tuanya itu. Karena laki-laki itu berpikir kalau ia dan Tara terus-terusan ada di sana, maka kemungkinan besar mantal sang istri akan menjadi taruhan. Dengan menyeret dua koper dan menuruni anak tangga laki-laki itu terlihat terus saja meyakinkan Tara kalau semua ini akan baik-baik saja.
"Tidak apa-apa Tara, percaya padaku kalau ini semua akan baik-baik saja. Oke," ucap Gio tersenyum saat Tara terus saja menatap dirinya. "Lihat ke anak tangga yang akan kamu injak Tara, karena nanti kamu bisa saja jatuh kalau kamu menuruni anak tangga, tanpa melihat ke bawah," sambung Gio memperingati sang istri.
"Gio ...," panggil Tara.
"Ikuti aku kemana saja langkah kakiku ini berjalan, jangan berpikiran yang tidak-tidak istriku." Kalimat Gio rupanya mampu membuat hati Tara yang dari tadi merasa gelisah kini merasa sedikit tenang. "Ingat, kamu cukup dengarkan aku."
Tara yang melihat dua mata indah sang suami memancarkan ketulusan dengan cepat mengangguk. "Aku minta, tolong jangan bosan untuk mengingatkan aku tentang hal ini. Karena kamu tahu sendiri aku ini sangat mudah lupa." Tara lalu terlihat dengan segera memutuskan pandangan matanya dari sang suami. "Jangan ada kata berdebat dengan mommy," kata Tara memperingati sang suami. Karena saat ini Tara melihat Lydia sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati segelas kopi jahe.
"Tidak akan Tara, jika Mommy tidak mengatakan hal yang macam-macam lagi pada dirimu. Karena aku sebagai suamimu ikut sakit hati saat mendengarnya," sahut Gio menimpali sang istri. "Aku juga ingin, kalau kamu jangan terlalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Mommy nanti," lanjut Gio. Sambil terus saja menuruni anak tangga satu-persatu.
__ADS_1
*
Lydia terlihat begitu marah ketika Gio mengatakan kalau putra ketiganya itu berniat pergi dari rumah yang bagaikan seperti istana itu. "Pokoknya Mommy tidak akan setuju kalau kamu pergi dari rumah ini Gio." Lydia terlihat berdekap tangan. "Buang jauh-jauh niatmu itu Gio, karena Mommy tidak akan mengizinkan kamu, keluar dari rumah ini walau sesenti saja, jika niatmu ingin pergi meninggalkan Mommy dan Daddy." Lydia yang tadi menikmati secangkir kopi jahe tiba-tiba saja kopi itu malah terasa menjadi hambar. "Apa setelah kedua kakak kamu tinggal di luar Negeri, sekarang kamu malah mau ikut-ikutan, begitu maksud kamu, Gio?"
"Aku dan Tara hanya ingin tinggal berdua Mom, dan siapa tahu dengan cara begitu Tara akan cepat ha–"
"Itu terdengar sangat mustahil! Dan tidak masuk akal Gio, karena tidak mungkin seorang wanita yang mandul akan bisa hamil," potong Lydia yang kini memiliki mulut yang sangat pedas. Sepedas bon cabe entah level berapa, padahal dulu wanita itu sangat menyayangi Tara. Tapi lihatlah sekarang Lydia seolah-olah ingin menyingkirkan Tara dari kehidupan putranya itu. Saking berambisinya seorang Lydia ingin memiliki cucu dari Gio. "Apa susahnya kamu menikah dengan Sera, dan dengan begitu kamu tidak perlu menceraikan Tara."
"Jika benar apa yang kamu katakan itu kalau Tara wanita yang sehat, lalu kenapa sampai sekarang tidak kunjung hamil? Dan tidak memberikan Mommy dan Daddy cuku, kenapa Gio? Apa kamu bisa menjelaskan semuanya pasa Mommy? Tanpa perlu ada kata, Tuhan belum mempercayai kalian berdua."
"Aku haus benar-benar pergi dari sini Mom, karena keputusanku sudah benar kalau aku ini harus bisa cepat-cepat membawa Tara pergi jauh dari sini. Daripada di sini istriku akan lama-kelamaan menjadi depresi hanya gara-gara masalah seorang anak." Gio langsung pergi setelah mengatakan itu sambil terus saja memegang pergelangan tangan sang istri yang saat ini masih saja menunduk.
__ADS_1
"Gio, kamu lebih milih Mommy atau istri kamu itu?!" seru Lydia bertanya pada Gio.
Sedangkan Gio yang hampir saja sampai di ambamh pintu menghantikan langkah kakinya sbambil menjawab, "Tidak akan ada yang akan aku buang Mom, karena aku akan memilih Mommy dan Tara." Gio melanjutkan langkah kakinya, meskipun sang ibu terus saja berteriak-teriak memintanya untuk kembali. Seolah-olah kali ini laki-laki itu benar-benar tidak mendengar ucapan sang ibu.
"Gio, kita sebaiknya kembali saja," ujar Tara tiba-tiba.
"Jalan saja Tara, jangan hiraukan apapun yang di katakan oleh Mommy saat ini," balas Gio menimpali.
"Tapi Gio ... kasihan mommy."
"Kita perlu egois, untuk suatu hal yang benar Tara. Oleh sebab itu, izinkan aku manjadi penengah yang baik. Meski terkesan aku saat ini terlihat seperti sedang melawan serta menentang kehendak Mommy. Aku harap kamu bisa memahami situasi saat ini yang seperti apa."
__ADS_1
"Maafkan aku mom, karena aku tidak bisa melakukan apa-apa saat ini. Sebab, apa yang dikatakan oleh Gio memang benar apa adanya, dimana kita perlu sedikit menjadi egois hanya untuk kebaikan," gumam Tara membatin dan terus saja mengikuti langkah kaki sang suami. "Tuhan, aku cuma minta cepatlah titipkan aku malaikat kecil di rahim ini. Agar aku dan Gio tidak menjadi anak dan menantu yang durhaka seperti ini, durhaka yang dalam artian telah menentang kehendak mommy," lanjut Tara membatin.