
Dokter Ana menyambut iringan pengawal yang membawa Billy di depan pintu masuk. Ia sudah menanti kedatangan mereka sejak tadi. Melihat pria bersetelan hitam dan pasukannya berhasil membawa Billy ke markas membuat dokter Ana akhirnya bisa bernapas lega.
“Kamu menyuntik obat biusnya sesuai dosis?” tanya dokter Ana pada pria di hadapannya.
“Persis seperti yang Anda perintahkan, Dokter.”
“Terima kasih,” ujar dokter Ana sambil tersenyum puas, “Bawa tuan Billy ke ruang operasi!” perintahnya pada Jacob dan Bryan.
“Baik, Dokter," jawab Jacob dan Bryan.
Dua orang pria itu membantu pengawal memindahkan tubuh Billy ke brankar, lalu mendorongnya mengikuti dokter Ana berjalan di sepanjang koridor menuju ruang operasi. Tak lama kemudian, mereka memasuki ruangan putih yang dipenuhi berbagai peralatan medis. Sebuah layar monitor besar terpasang di pojok kiri ruangan, tersambung dengan kabel-kabel dari meja operasi.
“Dokter James,” sapa dokter Ana pada seorang pria berambut pirang yang sedang menyiapkan suntikan anestesi, “Apakah prosedur sudah bisa dijalankan?”
Pria paruh baya itu menoleh dan mengangguk secara bersamaan.
“Ya,” jawabnya. Ia mengambil kotak kecil transparan yang menyimpan sebuah kawat sepanjang tujuh sentimeter. Kawat setipis helaian rambut itu memiliki sebuah bulatan kecil di bagian tengah yang berkelap-kelip memancarkan cahaya kemerahan.
“Idemu sungguh briliant, Dokter,” puji pria itu sambil menatap kotak di tangannya dengan sorot penuh kekaguman, “Tidak pernah terbersit di kepalaku untuk menanamkan virtual virus di chip itu.”
Dokter Ana menyeringai lebar. “Aku hanya memberi ide. Kemampuanmu untuk merealisasikannya lebih mengagumkan.”
Ucapan itu membuat dokter James terkekeh pelan. Ia memakai kacamatanya dan berkata, “Sekarang mari berhenti saling memuji. Bukankah tuan Billy sudah tiba?”
“Ya,” jawab dokter Ana, kemudian memberi isyarat pada Jacob dan Bryan.
Dengan sigap dua orang pria itu kembali memindahkan tubuh Billy dengan hati-hati. Mereka lalu memasang infus dan selang oksigen, juga peralatan medis lain yang tersambung ke layar monitor di sudut ruangan.
Bryan memeriksa denyut nadi dan aktivitas organ vital lainnya. Raut wajahnya sedikit berubah ketika melihat detak jantung Billy yang tidak stabil. Ia mengawasi kelopak mata pria itu yang tetap berkedut meski di bawah pengaruh obat bius.
“Dokter, kondisi pasien tidak memungkinkan untuk menjalani operasi,” lapor Bryan.
“Apa yang terjadi?” tanya dokter Ana seraya berjalan mendekat. Ia membuka kelopak mata Billy dan mengarahkan senter kecil untuk melihat reaksi pupil matanya.
Bryan benar, kondisi Billy tidak stabil. Mungkin karena chip yang tertanam dalam kepalanya baru saja dipindai. Pria itu juga sepertinya kekurangan nutrisi dan tidak beristirahat dengan cukup. Jika tetap memaksakan untuk melakukan operasi saat ini, kemungkin besar tubuhnya tidak akan cukup kuat untuk bertahan.
Dokter Ana menghela napas. Terpaksa operasi harus ditunda untuk sementara waktu. Ia tidak ingin mengambil resiko dan membuat nyawa pasiennya terancam.
“Fokus pada pemulihannya dulu. Berikan suplemen B-extra. Awasi dan catat setiap perkembangannya,” ujar dokter Ana. Ia melepas kembali jas operasinya dan menyampirkannya di lengan.
Wanita itu kemudian menoleh pada dokter James dan berkata, “Dokter, kita harus menunggu setidaknya sampai matahari terbit agar kondisi pasien kembali stabil.”
***
Aroma mint yang segar menggelitik hidung Kinara. Ia menggeliat ketika telapak tangan yang hangat dan kasar menyentuh wajahnya. Sambil bergumam tidak jelas, ia menepis tangan itu lalu membalikkan tubuh dan hendak berguling menjauh. Namun, sebuah lengan yang kokoh menahan pinggulnya dengan kuat.
“Wake up, Baby. Ini sudah hampir siang.”
Alex menarik tubuh istrinya mendekat, merangkum wajahnya dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di seluruh permukaan kulitnya yang halus dan lembut.
__ADS_1
“Alex, hentikan,” gumam Kinara dengan mata terpejam erat. Kepalanya terasa sangat berat dan ia masih sangat mengantuk.
“Bangunlah, aku membuatkan sup untuk meredakan sakit kepalamu,” bujuk Alex seraya menarik tubuh Kinara dan menyandarkannya ke dipan.
“Buka mulut,” pintanya lagi sambil menyodorkan sendok berisi cairan berwarna kecokelatan.
Kinara membuka mulut dan membiarkan Alex menyuapinya.
“Tidak enak,”gerutunya setelah menelan cairan yang terasa sedikit pahit itu.
“Habiskan. Sakit kepalamu akan segera reda setelah meminumnya.”
“Hmmm ... berikan padaku,” gumam Kinara seraya menyodorkan tangan. Ia membuka mata sekilas untuk melihat wajah suaminya, kemudian menerima mangkuk kecil berisi cairan yang beraroma rempah dari tangan suaminya.
Kinara kembeli menutup mata lalu meneguk ramuan penghilang mabuk itu hingga tandas dalam satu tarikan napas.
“Benar-benar tidak enak,” gerutunya dengan bibir mengerucut. Ia membuka mata dan ingin meletakkan mangkuk yang sudah kosong, tetapi lalu menyadari bahwa ia sudah berada di dalam kamar tidur mereka.
“Kapan kita pulang? Bagaimana caranya? Kamu menggendongku?” cecar wanita itu seraya melihat suaminya dan tempat tidur bergantian. Ia pikir mereka masih berada di Blue Eyes.
“Kamu tidak ingat?” tanya Alex, “Setelah memaksaku bercin*ta denganmu, kamu menyeretku ke mobil–“
“Bohong!” sela Kinara.
Wanita itu menatap suaminya dengan mata menyipit, keningnya berkerut dalam ketika mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Seingatnya, setelah menceritakan kejadian masa kecil mereka, ia langsung tertidur.
Alex menggedikkan bahunya dengan tenang, wajahnya yang datar benar-benar tidak menunjukkan ekpresi apa pun ketika berkata, “Kamu merobek bajuku–“
“Well, kamu mendorongku dan duduk di paha–“
“Pembohong!” desis Kinara seraya mengambil bantal dan mulai memukuli suaminya.
Alex tergelak dan menangkis serangan istrinya. Ia menahan tangan wanita itu di atas kepala, kemudian menunduk dan melahap bibirnya dengan rakus.
“Emh ...!”
Kinara melotot, mengerang dan meronta, ingin melepaskan diri dari kungkungan suaminya. Ia belum mandi dari semalam!
“Tenang sedikit,” gerutu Alex karena tubuh istrinya terus menggeliat. Ia mengangkat tubuh mungil itu dan mendudukkannya di atas paha, lalu menahan punggungnya dan melanjutkan ciuman mereka tanpa memberi kesempatan pada Kinara untuk protes.
Tangannya bergerak pelan, menelusup di bawah gaun tidur istrinya yang tersingkap, mengusap permukaan kulit yang terekspos sebanyak yang ia mau. Hingga akhirnya ketika deru napas mereka tak lagi beraturan, Alex melepaskan istrinya.
“Bagaimana, sudah tidak terlalu pusing?” tanya Alex, tangannya masih belum beranjak dari tubuh istrinya.
“Lumayan,” jawab Kinara.
Kepalanya memang sudah tidak seberat tadi. Rasa pusing yang ia alami sekarang lebih karena ciuman Alex yang mendominasi barusan. Suaminya ini memang benar-benar memabukkan ... memabukkan dalam arti yang sebenarnya. Bahkan Kinara rasa tidak akan berlebihan kalau ia mengatakan bahwa ia mulai kecanduan pada sentuhan suaminya.
“Menurutmu, kapan akan ada bayi mungil di sini?” tanya Alex seraya membelai perut istrinya yang rata. Rasanya pasti akan sangat menyenangkan ketika sebuah kaki kecil menendang-nendang dari dalam sana.
__ADS_1
“A-apa?”
Kinara meremang ketika tangan Alex bergerak di perutnya dengan sangat lembut. Wajahnya memerah karena malu.
“Kenapa? Kamu tidak mau bayi?” tanya Alex ketika melihat istrinya salah tingkah dengan wajah memerah.
“T-tidak, bukan begitu ... hanya saja, aku masih kuliah. Bisakah kita menunggu?”
Kinara mengigit bibirnya. Bukannya ia tidak ingin bayi, tapi cita-citanya masih belum terwujud. Keinginannya untuk kuliah sempat tertunda berkali-kali karena berbagai kondisi dan keadaan, dan sekarang ia baru saja memulainya lagi dari awal. Haruskah semua mimpinya kembali tertunda karena seorang bayi?
Bukan berarti ia tidak mau punya bayi, tapi ... apakah ini tidak terlalu cepat? Belum lagi musuh-musuh Alex yang masih mengincar mereka. Menghindar ketika ia tidak berbadan dua saja sudah sangat merepotkan, bagaimana kalau ditambah seorang bayi?
“Kamu masih bisa tetap kuliah meski hamil,” jawab Alex, “Lagipula kita tidak memakai pengaman sejak kemarin, bagaimana kalau ....”
Wajah Kinara semakin merona. “Pakailah pengaman mulai sekarang.”
“Sekarang?” Alex mengetatkan pelukannya. “Aku belum menyiapkannya kalau sekarang ....”
Kinara memukul pelan lengan suaminya sambil berkata, “Maksudku nanti, kapan-kapan. Bukan sekarang saat ini juga!”
Alex terkekeh dan semakin ingin menggoda istrinya.
“Tapi aku ingin sekarang yang saat ini juga. Bagaimana?” ujarnya seraya merem*as gundukan kenyal dalam genggaman tangannya.
Kinara terkesiap, lalu melompat turun dari atas pangkuan suaminya.
“Monster!” teriaknya sebelum berlari ke kamar mandi.
Seringai di wajah Alex semakin lebar. Dengan langkah panjang ia menyusul Kinara, mendorong pintu yang baru saja tertutup dan menyusup masuk.
Kinara sangat terkejut hingga membeku di tempatnya. “A-apa yang kamu lakukan?” tanyanya seraya menatap suaminya lekat-lekat.
“Menurutmu?”
Alex menutup pintu dan menguncinya. Kemudian dengan gerakan yang sangat sensual, ia mulai melepaskan kancing bajunya satu per satu. Pria itu tidak melepaskan tatapannya dari wajah istrinya, memerhatikan raut wajahnya yang mulai terlihat waspada.
“Alex,” panggil Kinara pelan.
“Hum ...,” jawab Alex sambil membuka ikat pinggangnya, lalu menariknya hingga lepas.
“Kamu boleh mandi duluan, aku akan menunggu di luar,” ujarnya sambil berjalan cepat menuju pintu dan hendak membukanya. Namun, gerakannya terhenti sebelum tangannya sempat memutar gagang pintu.
Alex menarik tangan istrinya hingga tubuh wanita itu hingga menempel dengan dadanya. Jemarinya mengusap bibir Kinara perlahan, lalu menunduk dan menciumnya sekilas. Ia mendongak dan mendapati istrinya sedang tertegun dengan mata terbuka lebar.
“Aku sudah mandi, tapi aku tidak keberatan untuk mandi lagi,” bisik Alex sembari menciumi telinga istrinya, “Dan ... oh, kamu tidak perlu menunggu di luar, Baby ....”
“Ah!”
Kinara memekik kecil ketika suaminya menarik lepas bajunya dan menggendongnya menuju bathtub. Ia tahu percuma saja meronta dan mencoba untuk meloloskan diri dari suaminya, jadi ia hanya menarik napas dalam-dalam dan menghemat tenaganya untuk menghadapi badai dan gelombang yang akan datang.
__ADS_1
***