
Dalam dua hari, kondisi Amber sudah sepenuhnya pulih. Wajahnya kembali merona, tidak sepucat saat menangis dalam pelukan Lorie beberapa waktu lalu. Pipinya tampak lebih bulat dan berseri. Ia bahkan sudah bisa berlarian dengan penuh semangat dalam rumah, kembali menggoda Aslan dan Aaron hingga kedua bocah laki-laki itu meminta kepada ayah mereka agar diberi mansion yang terpisah dari sang adik. Tentu saja Alex tidak mengindahkan permintaan konyol itu.
Aslan yang mewarisi sifat dan karakter ayahnya hanya bisa menatap Amber dengan sorot mengintimidasi setiap kali sang adik membuat ulah. Sedangkan Aaron yang sedikit lebih cerewet pasti akan mengomel panjang pendek setiap kali Amber mengganggunya saat sedang mengerjakan tugas sekolah, atau saat mereka sedang mendapat les tambahan di rumah.
Selain mengganggu kedua kakaknya, Amber pun tidak segan merecoki koki di dapur, atau ikut menggali tanah bersama tukang kebun, bahkan sesekali pergi memberi makan kuda di istal yang dipenuhi aneka jenis ras terbaik. Anehnya, tidak ada satu pun pelayan yang bisa benar-benar kesal menghadapi tingkah Nona Muda itu.
Bagi Lorie sendiri, sejujurnya ia merasa tingkah Amber itu seperti suar di tengah kegelapan. Spring Mountains terlalu suram, dan kehadiran Amber membuat semuanya lebih berwarna, lebih bermakna.
Amber sangat mirip dengan Kinara. Dia sangat aktif, tapi rendah hati dan tahu menghargai orang lain. Sepanjang menemani gadis itu, Lorie tidak pernah melihatnya bersikpa tidak sopan kepada para pelayan, atau mendapat laporan bahwa gadis itu menghina salah satu pekerja di kediaman Keluarga Smith. Dan ia sangat bangga akan hal itu.
“Aunty, Amber terus menggodaku sejak tadi. Aku tidak bisa konsentrasi membuat maket ini.” Aaron mengadu kepada Lorie dengan bibir mengerucut.
“Ini harus segera kering karena akan dikumpulkan hari Senin nanti,” imbuhnya lagi seraya melirik kesal ke arah Amber yang sedang terkikik sambil menutup mulutnya.
Gadis itu merasa senang karena berhasil membuat pohon dalam maket kakaknya berubah warna menjadi biru muda.
Lorie menghela napas dan ikut melirik ke arah Amber. Ia lalu bersedekap dan bertanya, “Apakah menurutmu ini lucu?”
Amber menatap Lorie dengan mata bulatnya yang bersinar cerah, kemudian mengangguk dengan sangat antusias.
“Sangat lucu,” jawabnya dengan sangat yakin, kemudian kembali terkekeh puas.
“Apakah kamu senang kalau kakakmu dihukum oleh gurumu?”
Amber langsung terdiam. Ia melirik kembali maket di atas meja dan tiba-tiba merasa pohon berwarna biru muda itu tidak terlalu lucu lagi.
“Maaf ...,” gumamnya seraya memilin jemarinya pelan.
__ADS_1
Aaron mendengkus dan berjalan menghampiri adiknya.
“Bantu aku membetulkannya,” perintah bocah laki-laki itu seraya duduk dan mengambil cat akrilik berwarna hijau tua.
Amber duduk dengan patuh di sisi kakaknya. Ia lalu mengambil kuas dengan ujung yang lebih kecil, kemudian membantu Aaron mewarnai kembali pohon itu dengan tenang.
Aslan yang duduk tidak jauh dari mereka hanya memutar matanya dengan acuh tak acuh, lalu fokus pada tugasnya sendiri yang sedikit lagi akan selesai.
“Kamu tidak mengerjakan tugasmu?” tanya Lorie seraya berjongkok di samping Amber.
“Sudah selesai,” jawab gadis itu tanpa menoleh.
“Sudah selesai?” Mata Lorie membola. “Kapan kamu mengerjakannya? Kenapa Aunty tidak melihatmu sibuk seperti kedua kakakmu?”
Amber mencibir sebelum menjawab, “Aku menyelesaikannya di sekolah. Kakak tidak selesai tepat waktu, makanya Miss Kaitlyn menyuruh mereka mengerjakannya di rumah.”
“Apa?” seru Amber tak mau kalah. “Makanya jangan sibuk berkelahi, harus belajar dengan tekun.”
“Kalian berkelahi lagi?” tanya Lorie seraya menatap wajah Aslan dan Aaron bergantian.
Namun, Amberlah yang lebih dulu menjawab, “Ya, mereka berdua—Emph!”
Gadis itu memukul-mukul tangan Aaron yang sedang membekap mulutnya.
“Diam!” gerutu Aaron sebelum melepaskan tangannya. Ia lalu menoleh ke arah Lorie dan berkata, “Aunty yang cantik, jangan beri tahu Daddy, ya?”
“....”
__ADS_1
Lorie tidak tahu harus mengatakan apa. Pada akhirnya ia hanya bisa mendesah pelan dan mengusap kepala bocah laki-laki itu, lalu menatap Aslan yang berpura-pura tidak tahu apa-apa.
“Kali ini Aunty tidak akan mengadu, tapi lain kali—“
“Tidak ada lain kali!” sela Aaron cepat seraya menaikkan jari telunjuk dan jari tengahnya, membentuk tanda damai.
Lorie tersenyum tak berdaya dan berkata, “Cepat selesaikan tugas kalian. Kalau kalian bisa cepat, mungkin masih ada waktu untuk pergi bermain sebentar.”
“Benarkah?” Amber melompat dari tempat duduknya dan memegang kedua tangan Lorie. “Aunty tidak bohong, ‘kan?”
“Memangnya kapan Aunty pernah membohongi kalian?”
Amber menggeleng cepat dan menjawab, “Tidak pernah!”
Ia menoleh dengan penuh antusias kepada dua orang saudara laki-lakinya dan memberi perintah, “Cepatlah, Kak! Aku ingin pergi bermain!”
Aslan dan Aaron tentu saja tidak suka diperintah seperti itu, tapi mereka hanya bisa menelan kekesalan itu dan mempercepat menyelesaikan tugas. Mereka juga ingin pergi ke taman bermain!
Sudah sangat lama sejak mereka keluar bersama. Bukannya Ayah mereka atau Paman Billy tidak pernah mengajak mereka pergi jalan-jalan. Hanya saja, selalu lebih menyenangkan saat bersama Aunty Lorie. Wanita itu selalu memanjakan mereka dan menuruti apa pun yang mereka mau, sedangkan Ayah atau Paman Billy, kedua orang itu selalu melarang mereka menaiki wahana yang “berbahaya”. Sangat membosankan.
Lorie yang memperhatikan perubahan eskpresi ketiga bocah itu diam-diam mengulum senyum. Rasanya sangat bahagia bisa melihat mata mereka berpendar penuh semangat. Ia sudah berjanji di depan makam Kinara bahwa ia akan menjaga triplets dengan baik. Oleh karena itu, ia akan menepati janjinya dan melakukan apa pun demi ketiga bocah itu. Di matanya, kebahagiaan mereka adalah prioritas utama.
***
jangan lupa likee yaa
mwuahh
__ADS_1