
Ada begitu banyak perusahaan yang bekerja sama dengan Jotuns Corps, hal itu membuat Lorie harus bertemu dengan orang yang berbeda setiap harinya. Ia tidak bisa mengingat rupa dan nama mereka satu per satu, Jenty yang akan mengingatkannya jika mereka harus menemui partner bisnis yang pernah ditemui sebelumnya.
Belum lagi Raymond yang masih terus menghubunginya menggunakan nomor lain--seperti saat ini--membuatnya mempertimbangkan untuk mengganti nomor ponsel dengan yang baru.
Lorie menyimpan ponselnya di laci dan fokus memeriksa dokumen yang baru saja diantar oleh Jenty. Ada banyak laporan yang harus dibaca dan ada lebih banyak lagi berkas yang harus ditandatangani. Ia ingin menyelesaikannya semua hari ini agar besok bisa cuti dan pergi ke dokter kandungan. Sudah waktunya untuk pemeriksaan lagi.
Karena terlalu sibuk mengurusi pekerjaannya, wanita itu sampai tidak menyadari kalau sudah hampir jam makan siang. Ia baru mendongak ketika mendengar suara ketukan di pintu. Sedetik kemudian, Jenty masuk dengan ekspresi yang tampak rumit.
“Ada apa?” tanya Lorie.
“Um ... itu ... ada tamu yang mencari Anda, Nona,” jawab Jenty seraya melirik ke pintu. Ia tahu Lorie tidak suka diganggu, tapi pria di luar sana juga bersikeras sebelum Lorie sendiri yang menemuinya dan memberi keputusan.
“Apa ada janji yang terlewat?” tanya Lorie sambil mengernyit. Seingatnya hari ini ia tidak memiliki janji temu dengan siapa pun.
“Tidak.” Jenty menghampiri Lorie dan menatap bosnya itu dengan ekspresi tak berdaya.
“Tuan Daniel dari EON’s Company. Anda ingat?” tanyanya dengan suara rendah.
Daniel?
Kerutan di kening Lorie semakin dalam. Perlu beberapa detik baginya untuk mengingat pria bermata hijau zamrud yang terus menatapnya selama rapat waktu itu. Ia menghela napas panjang dan memijit pelipisnya. Laki-laki ... mengapa sama saja? Ia sudah cukup pusing dengan tingkah Raymond Dawson, sungguh tidak ingin menambah masalah baru dengan pria lain.
“Katakan aku sedang sibuk,” ucap Lorie seraya kembali menekuri lembaran kertas di hadapannya.
__ADS_1
“Aku sudah berusaha mengusirnya sejak setengah jam lalu, Nona. Tapi dia bersikeras. Aku terpaksa mendatangi Anda karena kehadirannya di depan mejaku menyita cukup banyak perhatian,” jawab Jenty, terdengar seperti sedikit mengeluh karena menghadapi pria yang keras kepala.
Tiba-tiba Lorie menyadari bahwa Daniel bukan tipe pria yang mudah diatasi, dan itu membuatnya semakin enggan. Namun, biar bagaimanapun, dia adalah klien. Lorie tidak mungkin menghindarinya hanya karena alasan pribadi.
Oleh karena itu, setelah menghela napas untuk entah yang ke berapa kalinya, Lorie berkata, “Suruh dia masuk.”
“Baik.” Jenty menarik napas lega dan bergegas keluar.
Lorie tidak berniat membereskan dokumen di mejanya. Ia akan menggunakannya sebagai alasan untuk menolak Daniel, apa pun yang akan diminta oleh pria itu nanti.
“Selamat siang, Nona Lorie. Tampaknya aku mengganggumu?” sapa Daniel saat memasuki kantor Lorie. Ia cukup puas karena akhirnya diizinkan masuk oleh sekretaris yang berwajah masam itu.
Lorie yang masih menunduk diam-diam memutar bola matanya dan mencibir.
Setelah memarahi pria itu dalam hati, Lorie mendongak dengan sedikit enggan dan memaksakan seulas senyum di wajahnya.
“Selamat siang, Tuan Daniel, silakan duduk,” sapanya sekadar basa-basi.
“Seperti yang Anda lihat, ada banyak yang harus saya selesaikan di sini. Oh, apakah ada keperluan mendesak terkait kerja sama kita? Karena seingat saya, tidak ada janji pertemuan atau rapat apa pun hari ini,” sambungnya setelah melihat Daniel menduduki kursi di hadapannya.
Lorie berharap perkataannya itu akan membuat Daniel tidak enak hati dan segera pergi. Namun, rupanya pria itu lebih tidak tahu malu dari yang ia bayangkan. Senyum memikat masih bertengger di wajah yang—sialnya— sangat tampan itu, seolah tidak terpengaruh sama sekali dengan sindiran Lorie barusan.
“Tidak ada, aku kebetulan lewat di sekitar sini dan ingin mengajakmu makan siang,” jawab Daniel, dengan santai menyilangkan kakinya dan menumpu kedua tangannya ke sandaran kursi. Penampilannya yang santai dan cenderung acuh tak acuh itu entah bagaimana malah membuatnya semakin terlihat menarik.
__ADS_1
Pria ini ... begitu blak-blakan dan percaya diri, tidak takut aku menolak atau mengusirnya? Kebetulan lewat. Huh. Siapa yang akan percaya alasan klasik seperti itu? Benar-benar konyol.
Lorie menyunggingkan senyum simpul dan membalas tatapan Daniel yang intens.
“Tuan Daniel, karena ini bukan kunjungan bisnis, katakan saja apa tujuanmu. Itu akan membantu kita berdua untuk mengetahui batasan.”
Sedikit riak keterkejutan muncul di wajah Daniel, tapi pria itu mengendalikannya dengan cepat. Alih-alih kesal atau tersinggung, kini seringai di wajahnya tampak semakin lebar.
“Kamu membuatku semakin tertarik. Jarang menemukan yang sepertimu,” ucap pria itu dengan santai.
Ada sedikit nada menggoda dalam suara Daniel yang magnetis dan membuat Lorie sempat terkesima. Pria itu bahkan mengubah sapaan yang awalnya formal menjadi lebih santai. Namun, dengan cepat wanita itu mengendalikan diri dan bersikap defensif.
“Sayangnya saya tidak tertarik, Tuan. Kalau tidak ada masalah pekerjaan yang ingin dibahas, silakan keluar.”
Setelah mengatakan kalimat itu, Lorie kembali menunduk dan membaca laporannya dengan wajah serius. Ia sudah bertekad, apa pun yang terjadi, ia tidak akan mengacuhkan pria di hadapannya itu.
***
Nah lohhh ....
gimana ini?
Siapa yang bisa nebak endingnya?
__ADS_1
🤣🤣🤣