
Guyuran air sedingin es membuat Lorie tersedak dan terbatuk dengan hebat. Tubuhnya terasa berputar dan bergoyang pelan, lalu guyuran air es kembali meluncur dari ujung kakinya hingga masuk ke lubang hidungnya sekali lagi, membuatnya kembali terbatuk hingga semua otot perutnya tertarik kencang. Dengan napas termengah-mengah, ia membuka mata.
Cahaya keemasan yang memanjang dari lubang ventilasi dari sisi entah sebelah mana dalam ruangan pengap itu membuat Lorie sadar bahwa sepertinya hari sudah menjelang sore.
Sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri?
Siluet dan bayangan kabur berputar di depan wajahnya. Tidak, lebih tepatnya tubuhnyalah yang berputar, sesekali bergoyang ke kanan dan kiri. Perlu waktu setidaknya sepuluh detik baginya untuk menyadari bahwa ia sedang diikat dengan posisi terbalik. Kedua tangannya pun terikat di belakang punggung. Rambutnya tergerai hingga hamoir menyentuh lantai, basah kuyup seperti bagian tubuhnya yang lain.
Sangat menjengkelkan. Kenapa para penjahat sangat suka mengikat dan menyiksa musuh mereka dengan cara seperti ini, gerutunya dalam hati.
Sedetik kemudian ia siaga ketika sekelebat bayangan dari depan wajahnya bergerak mendekat. Tak lama kemudian sebuah gerakan melayang cepat ke arahnya, membuatnya memberi reaksi dengan memutar wajah ke sisi lain.
Bugh!
Sebuah tendangan yang cukup keras menghantam pelipis kiri Lorie, membuatnya merasa ada ratusan bintang yang meledak secara bersamaan di dalam tempurung kepalanya.
“Itu hukuman karena berani membunuh anak buahku.”
Rafael.
Lorie menggertakkan gigi dan berusaha mencari di mana sumber suara tersebut.
__ADS_1
Ia kemudian mencibir dan membalas, “Rupanya seorang pemimpin dari Drun Industry tidak lebih dari ja*lang yang pengecut. Menculik dan mengikatku seperti ini, apa kamu tidak takut reputasimu hancur?”
Suara kekehan yang khas bergema dalam ruangan. Kali ini Lorie bisa merasakan asal suara yang datang dari sisi kanannya. Ia menggerakkan lengannya agar tubuhnya dapat berputar ke arah itu, tapi sekali lagi sebuah tendangan mendarat di punggungnya, membuatnya menggigit bibirnya hingga rasa asin dan bau amis menyebar di dalam mulutnya.
“Reputasi? Apa itu reputasi? Aku tidak pernah memikirkan reputasiku karena itu tidak menghasilkan uang, Nona.”
Lorie mengerjap cepat ketika sepasang kaki mendekat ke arahnya. Ia sudah bersiap untuk menerima tendangan lagi, tapi kaki itu justru menekuk di depannya, lalu tak lama kemudian sebuah tangan mencubit dagunya dan memaksanya untuk mendongak.
“Bajing*an!” maki Lorie saat melihat seringai lebar Rafael yang menjijikkan di depan wajahnya.
“He-he ... bajingan? Panggil aku sesukamu. Aku tidak peduli. Katakan, di mana prototype itu? Aku tahu kamu membawanya bersamamu.”
“Fck you. Go fck yourself.”
Satu tamparan keras membuat sudut bibir Lorie pecah. Ia bahkan bisa mencium aroma besi yang menusuk di ujung hidungnya. Akan tetapi,wanita itu justru tertawa dengan sangat puas.
“Ja*lang, aku akan menyuruh semua anak buahku untuk menidurimu bergiliran kalau kamu tidak mengatakan di mana prototype itu,” geram Rafael.
Kesabaran pria itu sungguh sudah di ambang batas. Salah satu calon pembeli sudah menawar di angka satu triliun USD, dan ia sudah menyanggupi untuk memberikan microchip itu. Tidak mungkin membatalkannya begitu saja. Kalau Jotuns Corps tidak mau menggunakan cara baik-baik, maka ia dengan senang hati akan menggunakan kekerasan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Sialan, katakan di mana benda itu!” serunya lagi saat tawa Lorie masih bergema dalam ruangan.
“Aku sudah memusnahkannya. Percuma kalian menggeledah kamar hotel, atau bahkan membongkar gedung itu sekali pun, kalian tidak akan menemukan benda itu karena aku sudah menghancurkannya.”
__ADS_1
Ya, ia memang membawa prototype microchip β-01 untuk ditunjukkan kepada Rafael jika perjanjian kerja sama mereka berjalan lancar. Namun, sayang sekali semuanya tidak terjadi seperti yang diharapkan. Oleh karena itulah ia langsung memusnahkan benda itu sesuai prosedur keamanan yang seharusnya. Sekarang, biar ia disiksa sampai mati pun, benda itu tetap tidak akan ditemukan.
“Keparat!”
Rafael meraung dan menggila. Ia mengangkat kaki dan melayangkan tendangan secara membabi buta ke arah Lorie. Tidak ada yang wanita itu dapat lakukan selain menahan napas dan menerima semua hantaman bertubi-tubi di seluruh permukaan tubuhnya.
Setelah merasa puas melampiaskan amarahnya, Rafael mendekatkan ponsel ke wajah Lorie dan memberi perintah, “Hubungi Alex Smith, katakan untuk mengirim—“
“Apa kamu tuli? Aku bilang 'fck you'. Go fck yourself.”
Lorie menyeringai lebar meski wajah dan tubuhnya sudah babak belur. Lebam dan lecet ada di mana-mana. Kedua matanya sudah tidak bisa melihat dengan jelas karena tertutup oleh bayangan merah samar setiap kali ia mengerjap. Namun, ia sama sekali tidak merasa takut.
Rafael mengeratkan gigi dan menahan kepalan tangannya yang gemetar. Ia sungguh tidak ingin menghajar wanita itu sampai mati, tapi wanita itu terus menguji batas kesabarannya yang tidak lebih tebal dari selembar kertas.
“Bawa tong itu kemari!” perintahnya dengan suara yang tenang dan pelan. Anehnya, ketenangan itu justru terasa lebih menakutkan.
Dengan sigap dua orang anak buahnya segera membawa sebuah tong berisi air dan meletakkannya di samping Lorie. Salah satu dari mereka mengangkat kepala Lorie, sedang seorang yang lain mendorong agar posisi tong berada tepat di bawah kepala Lorie.
Setelah itu, pria yang memegang kepala Lorie melepaskan cekalannya. Dalam sekejap mulai dari kepala sampai leher wanita itu terendam dalam air.
“Biarkan seperti itu sampai dia mau bicara. Oh, jangan biarkan dia mati” ucap Rafael sebelum keluar dari ruangan.
***
__ADS_1