Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 40


__ADS_3

“Ada begitu banyak obat yang sudah masuk ke dalam darahku, apa itu tidak akan berpengaruh kepada janinnya, Dokter?” tanya Lorie setelah termenung cukup lama.


“Kalau Anda ingin mempertahankannya, silakan datang untuk memeriksanya lagi saat usia janin memasuki minggu kesepuluh. Saya akan melakukan observasi untuk memastikan apakah janin terkena dampak dari obat-obatan itu atau tidak. Setelah hasil hasilnya keluar, Anda dapat memikirkan kembali keputusan Anda,” jawab Dokter Ruth.



Lorie menarik napas panjang saat dibantu untuk turun dari ranjang oleh perawat. Kepalanya terasa berputar dan ia hampir kehilangan keseimbangan.


“Hati-hati,” ucap Dokter Ana sambil memapah Lorie kembali duduk di atas kursi roda.


Dokter Ruth menyerahkan selembar kertas kepada Lorie sambil berkata, “Ini resep vitamin dan obat penguat kandungan yang harus ditebus. Tapi kalau Anda ingin melakukan tindakan sekarang, aku bisa—“


“Tidak. Aku akan mempertahankannya,” sela Lorie. Ia memegangi perutnya yang masih rata, lalu menatap Dokter Ruth dan menambahkan, “Aku ingin janin ini dipertahankan. Kelak jika dia benar-benar tidak bisa ... maka biarkan terjadi seperti seharusnya.”


“Baik kalau itu keputusan Anda, Nona Lorie. Silakan datang lagi sesuai jadwal. Kalau ada keluhan seperti nyeri dan flek, Anda bisa menghubungiku kapan saja.”


Lorie menyimpan resep dan kartu nama yang diserahkan oleh Dokter Ruth kepadanya.


“Terima kasih, Dokter."


“Jangan sungkan, kapan pun Anda butuh bantuan, silakan hubungi saya.” Dokter Ruth tersenyum dan mengantar pasien “khususnya” itu ke pintu.

__ADS_1


“Serahkan resep itu kepadaku, aku akan mengurusnya,” ujar Dokter Ana seraya mendorong kursi roda menuju lift.


“Oke ... hey, ke mana kita akan pergi?” tanya Lorie ketika menyadari mereka tidak kembali ke ruangan perawatannya.


“Bukankah kamu ingin menghindari Raymond Dawson. Perawat baru saja mengirimiku pesan, pria itu sedang menunggumu di depan pintu sekarang,” jawab Dokter Ana.


“Ugh ....” Lorie memasang ekspresi bosan dan memutar bola matanya. Raymond benar-benar lebih keras kepala dari yang ia bayangkan.


“Tenanglah, kamar di Spring Mountains sudah siap. Tuan Alex memintaku untuk langsung membawamu ke sana. Tapi, dia juga punya kejutan untukmu di Red Room. Mana yang ingin kamu datangi lebih dulu? Spring Mountains atau Red Room?” tanya Dokter Ana seraya mendorong kursi roda keluar dari lift.


“Red Room?”


“Um. Red Room.”


“Apa itu Rafael?” tanyanya untuk memastikan.


“Oh ... akan jadi tidak seru kalau aku memberitahukannya kepadamu, tapi ... ya, itu adalah Rafael,” jawab Dokter Ana. Kini ia mendorong kursi roda di selasar yang menghubungkan halaman belakang rumah sakit dengan tempat parkir mobil.


Lorie terkekeh pelan. Meski tampak serius, tapi Doter Ana memiliki selera humor yang tidak buruk. Tujuh tahun berinteraksi dengannya membuat Lorie merasa sangat cocok dengan wanita itu. Dia tegas, setia kawan, jenius, dan pekerja keras; perpaduan karakter yang langka menilik biasanya seorang jenius cenderung nyentrik dan anti sosial.


“Jadi, ke mana tujuan kita, Kapten Lorie?” tanya Dokter Ana lagi setelah membantu Lorie turun dari kursi roda dan memapahnya untuk duduk di dalam mobil.

__ADS_1


“Karena mood-ku sedang buruk, sepertinya jalan-jalan ke Red Room akan sedikit membuatku merasa nyaman,” jawab Lorie seraya memasang sabuk pengaman.


Dokter Ana terkekeh sambil melipat kursi roda, lalu memasukkannya ke bagian belakang mobil. Setelah memastikan semuanya sudah aman, ia duduk di balik kemudi dan menyalakan mesin.


“Jangan telalu kejam, ibu hamil. Nanti bayinya terkejut,” godanya seraya mengedipkan mata.


Lorie mencibir dan membalas, “Bayiku harus memiliki nyali yang besar, sedikit kejutan tidak akan melukainya.”


“O-ho-ho ... itu semangat yang aku suka! Mari bersenang-senang, Kapten!” seru Dokter Ana seraya menginjak pedal gas dalam-dalam.


Antusiasme dua orang di dalam mobil itu sangat berbanding terbalik dengan Raymond Dawson yang sedang berdebat dengan salah seorang perawat di dalam ruang yang tadinya digunakan oleh Lorie.


Pria itu sengaja melepaskan diri lebih awal dari Alice agar dapat kembali dan menyelesaikan masalahnya dengan Lorie. Namun, alih-alih berhasil bertemu dengan Lorie, pemandangan di depan matanya membuatnya panik dan segera mencari ke seluruh ruangan.


Akan tetapi, ia tidak bisa menemukan Lorie di mana pun, meski ia sudah menggeledah sampai ke kamar mandi, tidak ada tanda-tanda kehadiran wanita itu di sana.


“Kalian pasti menyembunyikannya dariku. Katakan, di mana dia berada? Aku ingin bicara dengannya,” desak pria itu kepada salah seorang perawat yang sedang mengganti seprai.


“Saya sudah mengatakannya tiga kali, Tuan. Saya tidak tahu. Anda bisa menanyakannya kepada bagian administrasi,” jawab sang perawat yang mulai kesal dengan tingkah pria di sampingnya. Meskipun tampan, tapi jika terus mengganggu pekerjaannya seperti ini maka ia tidak akan segan.


“Keluarlah, Tuan, kalau tidak saya akan memanggil security,” lanjutnya lagi sebelum berbalik dan meninggalkan Raymond yang termangu di sisi ranjang.

__ADS_1


Pria itu menyugar rambutnya dan mengumpat kesal, lalu berbalik dan keluar dari ruangan itu.


***


__ADS_2