Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 130: Memulai dari awal


__ADS_3

"Ayo, pulang," ujar Kinara seraya menggenggam jemari Alex.


Hatinya terasa sangat lega sekarang. Semua beban seakan terangkat dari bahunya. Ia ingin belajar mempercayakan semuanya pada Alex. Ia tahu pria itu akan menyelesaikan semuanya dengan baik.


Alex berjalan di sini Kinara, menautkan jemarinya dengan erat. Ia tidak akan melepaskan wanita luar biasa ini, sampai kapan pun. Meski tak ada pembicaraan apa pun di sepanjang jalan menuju rumah kabin, hati sepasang sejoli itu terjalin semakin kuat.


"Hey, aku mencarimu ... oh, kalian sudah berbaikan?"


Raymond berdiri di depan pintu dengan sedikit canggung.


Alex menatap pemuda itu dengan sorot yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.


"Terima kasih karena telah menjaga istriku dengan baik," ujar Alex dengan penekanan pada kata "istri" dan menarik pinggul Kinara hingga tubuh wanita itu menempel padanya.


Raymond tersenyum kecut. "Tidak masalah, Sir."


Pemuda itu menatap Kinara dengan wajah mendung. Hampir empat hari bersama wanita itu membuatnya semakin hanyut dalam perasaan yang tidak seharusnya ia miliki untuk Kinara. Ada banyak kalimat perpisahan yang sudah ia siapkan jika sewaktu-waktu Kinara ingin pulang. Namun sekarang, semuanya tidak mungkin ia utarakan di depan Mr. Smith, bukan?


“Silakan hubungi sekretarisku. Dia akan mengurus semua pengeluaranmu selama istriku menginap di sini,” ujar Alex sambil mengeluarkan kartu nama dan menyerahkannya pada Raymond.


“Tidak perlu, Sir. Suatu kehormatan bagi saya untuk menjamu Kinara. Anda sangat beruntung memiliki seorang istri sepertinya. Tolong jaga dia baik-baik,” balas Raymond. Ia menolak kartu nama yang disodorkan padanya dengan sopan.


“Kamu tidak boleh menolaknya, Ray,” ujar Kinara sambil mengambil kartu nama Alex dan meletakkannya dalam telapak tangan pemuda itu, “Kalau kamu menolak, aku tidak akan berbicara denganmu lagi.”


Ray? Rahang Alex mengeras. Istrinya bahkan tidak pernah memanggilnya dengan sebutan “Lex”,


Kenapa Kinara memanggil pemuda jelek itu dengan sebutan “Ray”?


Raymond menatap punggung tangannya yang dilingkupi oleh telapak Kinara dengan pandangan yang sayu. “Baik. Asal kamu masih mau berteman denganku,” ujarnya sambil tersenyum tulus.


“Tentu saja, Teman. Terima kasih banyak sudah menampung dan memberiku makan.” Kinara tertawa lepas. “Kamu harus singgah ke kediaman kami kapan-kapan. Alex pasti akan senang mengundangmu untuk makan malam bersama. Iya ‘kan, Sayang?”


“Ya, datanglah kalau ada waktu luang. Ajak kedua orang tuamu,” jawab Alex dengan mata menyipit melihat tangan Kinara yang masih menggenggam tangan Raymond. Ia berdeham dan meraih tangan istrinya dengan posesif.


“Ayo, Lorie sudah menunggu,” ajaknya.


“Pergilah. Aku akan meminta pelayan memeriksa dan mengirim barang-barangmu kalau ada yang tertinggal.”


“Terima kasih. Sampai jumpa lagi,” kata Kinara sebelum berbalik dan berjalan bersama Alex.


Raymond terpaku di tempatnya hingga bayangan Kinara dan suaminya tak lagi terlihat. Ia menghela napas panjang dan berjalan masuk. Dua tangkup sandwich dan jus jeruk tergeletak di atas meja seperti sepasang kekasih. Ia menatap makanan yang seharusnya ia santap bersama Kinara itu sambil tersenyum getir. Siapa sangka Mr. Smith lebih dulu datang dan membawa pulang istrinya.


Pemuda itu mendesah pelan dan menyugar rambutnya. Setelah mengetuk-ngetuk permukaan meja beberapa kali, ia bangun dan membawa sandwich itu kembali ke dapur. Tiba-tiba ia kehilangan selera makan.


“Alex, kita mau ke mana? Di mana Lorie?” tanya Kinara dengan kening berkerut ketika menyadari langkah kaki suaminya tidak menuju jalan utama, tetapi berbelok memasuki hutan.


Alex mengusap puncak kepala Kinara dengan lembut. “Dia sedang menunggu di ujung jalan,” jawabnya.


“Ujung jalan? Tapi ini bukan jalan yang biasa dilewati ... tunggu.”


Langkah kaki Alex tertahan ketika Kinara berhenti tiba-tiba dan menatapnya dengan sorot menyelidik. Wajah bulat itu benar-benar terlihat menggemaskan.

__ADS_1


“Ada apa, Sayang?” tanyanya.


“Sejak kapan kamu tahu aku di sini?” tanya Kinara dengan penuh selidik.


Alex mengusap bagian belakangnya dengan kikuk. “Kenapa istriku pintar sekali,” gerutunya dengan suara hampir tak terdengar.


“Apa katamu?”


“Tidak ada,” jawab Alex seraya merengkuh istrinya dalam dekapan, “Apakah kapan aku mengetahui keberadaanmu ini penting? Bukankah yang paling utama adalah kamu sudah memaafkanku. Selain itu, hal lainnya tidak begitu penting.”


“Katakan, sejak kapan kamu tahu aku ada di sini?” paksa Kinara. Ia akan terus bertanya sampai Alex mengakuinya. “Baik. Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau menjawab. Aku akan bertanya pada Lorie nanti.”


Kinara pura-pura merajuk. Ia mendorong tubuh suaminya dengan wajah cemberut.


“Hey!”


Alex menarik kembali tubuh istrinya dan memeluknya erat-erat.


“Aku belum puas memelukmu,” ujarnya seraya mengusap-usap punggung istrinya, “Aku di sini sejak malam kamu melarikan diri, Kelinci Kecil, aku selalu di sini ....”


“Apa?” pekik Kinara tak percaya.


“Dulu, kamu selalu mengikutiku seperti bayangan, bukan? Kali ini, giliran aku yang melakukannya,” jawab Alex. Ia tersenyum lembut dan merapikan jasnya yang menutupi tubuh istrinya.


Kinara menatap lurus ke manik teduh milik suaminya, mencari kejujuran dalam raut wajah yang tenang itu. Sorot mata itu, senyuman itu ... semuanya benar-benar terlihat tulus dan tidak dibuat-buat. Pelupuk matanya kembali memanas. Ia memukuli dada Alex dengan kesal.


“Kamu cari mati, ya? Bagaimana kalau musuhmu menyerangmu lagi? Benar-benar ceroboh! Kenapa tidak bisa mengurus dirimu dengan benar?”


“Kalau kamu ingin aku hidup dengan benar, jangan pernah meninggalkanku lagi. Oke?”


Kinara menggigit bibirnya kuat-kuat sambil mengangguk. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tidak akan ...,” janjinya.


“Bagus. Karena mulai sekarang, aku yang menjadi bayanganmu, mengikutimu ke mana pun kamu pergi. Sampai akhirnya suatu saat nanti jika kamu merasa lelah, biarkan aku menggendongmu dan menanggung semuanya untukmu.”


“Alex ....”


Kinara tergugu. Hatinya dipenuhi kehangatan dan cinta. Kebahagiaan membuncah dalam dadanya. Semua rasa sakit dan penantian panjangnya telah dibayar lunas saat ini juga. Tak ada satu pun kata yang mampu ia ucapkan untuk membalas pernyataan cinta suaminya barusan. Ia terlalu terkejut untuk bisa berpikir dengan jernih. Semuanya terjadi sangat tiba-tiba.


“Shhh ... jangan menangis lagi,” bujuk Alex.


Pria itu terlihat ragu-ragu sejenak. Namun, setelah mengumpulkan semua keberanian dan rasa cintanya, ia merogoh ke dalam saku celana dan mengeluarkan sebuah kotak beledu berwarna merah hati. Ia mengurai pelukannya, kemudian menekuk lutut kirinya hingga menyentuh rumput yang berembun dan basah.


Kinara terpaku di tempatnya. Ia tidak berani bergerak sama sekali. Bahkan isak tangisnya berhenti begitu saja ketika melihat Alex berlutut di depannya.


“Alex?” bisik Kinara dengan suara parau ketika melihat suaminya membuka kotak beledu yang indah itu perlahan.


Cahaya matahari pagi yang menelusup melalui celah ranting dan pepohonan menerpa isi dalam kotak, memantulkan kilau yang memesona dan memikat hati. Kinara tidak berkedip sama sekali. Ia sungguh tidak menyangka Alex akan melakukan hal ini.


“Baby, menikahlah denganku. Bukan sebagai pengantin pengganti, tetapi karena aku mencintaimu.”


Suara Alex terdengar sangat merdu, dan seolah seluruh alam semesta terdiam di depan dua anak Hawa itu.

__ADS_1


Alex benar-benar terlihat seperti pangeran dari negeri dongeng yang tersesat di tengah hutan, dan Kinara merasa menjadi itik buruk rupa yang sangat beruntung.


“Aku masih menunggu jawabanmu, Sayang,” ujar Alex ketika melihat Kinara hanya mematung dan menatapnya dengan nanar.


Kinara terkesiap, tersadar kembali dari hipnotis yang baru saja membuatnya linglung.


“Ya!” Kinara menganggukkan kepalanya berulang kali. ” Ya, Alex! Aku bersedia!”


Ia melompat dan menubruk ke arah Alex, memeluk leher pria itu hingga tubuh mereka berdua terguling di atas rumput yang basah, lalu menangis lagi. Menangis hingga kedua matanya benar-benar merah dan bengkak.


Alex meraih tangan Kinara, melepas cincin di jari manis istrinya dan melemparnya sekuat tenaga. Tadinya cincin itu untuk Jessica. Ia tidak ingin ada bayangan wanita licik itu dalam hubungannya dengan Kinara.


“Alex!” seru Kinara.


“Mari mulai semuanya lagi dari awal,” ujar Alex sambil memasang cincin yang baru, “Kamu ingin resepsi lagi?” tanyanya.


Kinara menggeleng. “Ini semua sudah lebih dari cukup, Sayang ... aku mencintaimu, sangat mencintaimu ....”


“Aku juga mencintaimu.”


Alex merengkuh wajah istrinya dan mendaratkan ciuman di bibir ranum itu, ******* habis hingga tak ada lagi kepedihan dan rasa sakit yang tersisa.


Beberapa ratus meter dari sana, Lorie menghela napas panjang dan menurunkan teropongnya. Semua momen indah itu berhasil ia rekam dengan baik. Tadinya ia sempat khawatir tuannya tidak berhasil membujuk Kinara. Namun, melihat mereka bergumul di tengah hutan seperti itu membuatnya merasa lega. Satu masalah selesai. Tinggal menghadapi masalah utama.


Gadis itu membaca ulang pesan dari dokter Ana yang berisi sebuah titik koordinat dan perintah yang diberikan pada Billy. Pesan itu masuk tepat setelah tuan Alex pergi mengikuti Kinara tadi.


Bagaimanapun, masalah ini harus dihadapi, bukan? Tuan Alex tidak bisa terus menghindar. Mungkin inilah kesempatan terbaik untuk mengalahkan musuhnya itu.


Lorie terus menimbang-nimbang dan berpikir keras, hingga akhirnya suara gemerisik dedaunan dan ranting yang terinjak kembali membuatnya waspada.


"Nyonya, Anda sudah kembali," sapanya ketika melihat siapa yang berdiri sekitar lima meter darinya.


"Lorie." Kinara menghambur dan memeluk pengawalnya itu. "Aku merindukanmu."


"Aku juga merindukanmu," ujarnya seraya membuka pintu mobil, "Ayo, pulang."


Kinara menyeringai lebar dan menarik tangan Alex. "Ya, mari pulang."


Lorie menyalakan mobil dan mengendara dengan tenang. Meski benaknya berkecamuk, ia berusaha menahannya rapat-rapat.


"Apa itu?" tanya Kinara ketika mendengar deru helikopter dari kejauhan.


"Tuan, sebaiknya Anda dan nyonya kembali ke rumah dengan heli, saya segera menyusul," ujar Lorie seraya membanting setir dan mengarahkannya ke lahan kosong yang cukup luas. Ia langsung meminta anak buahnya untuk menjemput dengan helikopter setelah membaca pesan dari dokter Ana tadi.


Alex mengerti tindakan pengawalnya itu pasti dipicu oleh sesuatu yang darurat dan bisa jadi mengancam nyawa mereka. Oleh karena itu, tanpa banyak cakap ia melakukan semua yang dikatakan oleh Lorie.


"Sayang, ada apa?" tanya Kinara. Ia merasa sedikit gugup.


"Tenanglah. Pejamkan matamu," jawab Alex sembari merengkuh kepala Kinara agar bersandar di bahunya, "Semua akan baik-baik saja. Aku janji."


***

__ADS_1


__ADS_2