
Gemuruh petir menggelegar di langit, mendung yang menggelayut sejak kemarin akhirnya menumpahkan seluruh muatannya. Tetes-tetes air menerpa atap-atap bangunan dengan keras, menimbulkan suara yang membuat tiga bocah kecil dalam dekapan Alex mengerut ketakutan. Amber menyusup di ketiak ayahnya dan menutup wajah dengan kedua tangan. Tingkahnya itu membuat hati Alex terasa hangat sekaligus sedih. Putri kecilnya itu benar-benar mirip dengan Kinara.
“Daddy, aku takut,” gumam Amber sambil menarik tangan Alex agar mendekapnya lebih erat.
“Shhh … tenanglah, Sweetheart. Kamu aman di sini,” jawab Alex seraya menepuk-nepuk punggung putrinya.
Aslan da Aaron pun mendekat, mengapit saudara perempuan mereka dari kanan dan kiri. Aslan bersandar di dekat adiknya, sementara Aaron mencium pipi bocah perempuan itu.
“Yeah, Daddy benar. Kamu tidak perlu takut. Kami akan menjagamu,” ujar Aaron dengan ekspresi wajahnya yang serius.
Mau tidak mau Alex menyeringai melihat tingkah anak laki-lakinya itu. Lagi-lagi mengambil sifat ibu mereka yang penuh kasih sayang dan perhatian. Alex merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan memeluk tiga bocah yang berusia empat tahun itu. Ia mengedarkan pandangan pada seluruh aula utama yang masih dipenuhi hiasan, balon warna-warni, beragam pita dan aneka kue.
Mereka baru saja merayakan acara ulang tahun bersama para pelayan dan beberapa kerabat dekat, lalu hujan sialan ini memutuskan untuk merusak semua kesenangan. Amber yang takut pada petir menjerit histeris ketika kilatan cahaya yang sangat terang menyambar gerbang timur dan menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Jadi, di sinilah mereka sekarang, berkumpul di atas sofa, berusaha untuk menenangkan gadis kecil itu.
Billy, Elizabeth, dan Lorie masih bercakap-cakap sambil menikmati kudapan. Dokter Ana sudah lebih pulang karena ada yang harus diurusnya di markas. Alex senang karena wanita itu bisa diandalkan. Semua hasil percobaannya tidak pernah mengecewakan. Ia mengalihkan pandangan pada perut Elizabeth yang membesar.
Alex turut senang karena akhirnya Billy pun akan segera menjadi seorang ayah setelah tiga tahun menikah. Sayang sekali, Kinara tidak bisa hadir dalam pernikahan Billy dan Elizabeth, padahal Billy bisa dibilang salah seorang teman baik Kinara. Billy yang dulu sering membela Kinara ketika Alex bersikap keterlaluan pada mendiang istrinya itu. Alex menghela napas panjang, lagi-lagi segala sesuatu kembali mengingatkannya pada Kinara. Selalu seperti itu.
“Hey, Buddy, apa yang kau pikirkan?” tanya Billy sambil duduk di depan Alex.
“Tidak ada,” jawab Alex cepat sambil mengerjap beberapa kali.
Billy tersenyum tipis, tahu dengan jelas kalau Alex sedang berusaha menyembunyikan perasaannya, seperti yang biasa dilakukannya. Tak lama kemudian, Elizabeth dan Lorie menghampiri dan mengajak anak-anak ke kamar mereka.
“Aunty punya permainan baru yang sangat menarik,” ujar Elizabeth, “Siapa mau ikut?”
__ADS_1
“Aku! Aku!” seru Aslan dan Aaron bersamaan.
“Ayo, Sayang,” ajak Lorie seraya mengulurkan tangan pada Amber yang masih sedikit takut-takut. Ia membungkuk dan meraih gadis manis itu dalam pelukannya.
“Kami akan bermain di atas, Tuan,” ujar Lorie seraya menggendong Amber dan berjalan menjauh.
Aslan dan Aaron berlari kecil di sisi Elizabeth dengan penuh semangat, sesekali berceloteh tentang apa yang mereka rasakan di hari ulang tahun mereka ini. Alex memerhatikan mereka hingga berbelok di lantai dua, kemudian berbalik dan menatap Billy. Ia tahu sahabatnya itu pasti ingin membicarakan sesuatu yang penting, kalau tidak … tidak mungkin anak-anak sampai harus dibawa pergi oleh Lorie dan Elizabeth.
“Ada apa?” tanya Alex setelah para pelayan pun telah menyingkir dari dekat mereka.
Billy menghela napas dalam-dalam sebelum mengutarakan hal yang sudah ia pikirkan selama beberapa waktu belakangan ini. Ia sudah membahasnya dengan Elizabeth dan Lorie. Dua wanita itu setuju, meski tidak terlalu mendukungnya. Akan tetapi, ia merasa tetap harus menyampaikannya pada Alex.
Akhirnya Billy berdeham pelan dan berkata, “Aku tahu apa yang akan aku katakan ini pasti terdengar menjengkelkan, tapi … apakah kamu benar-benar tidak mau mempertimbangkan untuk menikah lagi? Anak-anak membutuhkan ibu, kamu membutuhkan seseorang untuk—“
“Aku hanya—“
“Aku tahu. Terima kasih untuk perhatianmu, tapi kami baik-baik saja. Anak-anak tidak butuh ibu pengganti, aku tidak butuh wanita lain. Kami tidak butuh siapa pun. Akan tetap seperti ini sampai aku mati.”
Keheningan yang mencekam tiba-tiba terasa menyesakkan. Billy mengembuskan napasnya perlahan. Ini lebih menegangkan dibandingkan ketika ia harus bernegoisasi dengan para mafia.
“Jangan pernah mengatakan hal semacam ini lagi. Kamu mengerti?” ujar Alex sambil menatap tajam pada sahabatnya.
“Aku mengerti. Maaf, aku hanya ….”
Ketegangan perlahan mencarir ketika Alex bangun dan menepuk pundak sahabatnya.
__ADS_1
“Terima kasih. Aku akan pergi sebentar. Tolong awasi anak-anak sebentar,” kata Alex sebelum berjalan menjauh.
Billy mengulurkan tangan dan hendak mencegah sahabatnya. Ia tahu dengan jelas ke mana pria itu akan pergi. Akan tetapi, ia tahu tidak akan bisa mengubah niat Alex, jadi pada akhirnya ia hanya membiarkannya berjalan keluar.
Alex meraih buket bunga yang sudah disiapkannya di atas meja dan menerima payung yang disodorkan oleh pelayan. Guyuran hujan dan tanah basah tidak menghalangi langkahnya yang panjang dan penuh tekad menuju bukit, menuju tempat istrinya sedang beristirahat dengan tenang.
Sungguh, kalau bukan karena anak-anaknya yang masih sangat kecil, ia ingin meminta agar Tuhan segera mempertemukannya dengan Kinara saja. Jantungnya berdenyut nyeri ketika melihat air memercik di atas nisan marmer itu. Rasa rindunya tidak pernah berkurang sedikit pun.
Ada begitu banyak keluhan dalam hatinya. Ada begitu banyak yang ingin ia ceritakan pada istrinya. Namun, tiba-tiba lidahnya mendadak kelu. ia hanya terpaku di depan makam Kinara hingga tidak menyadari gagang payung sudah terlepas dari tangannya.
“Baby, bagaimana mungkin aku mencari wanita lain untuk menjadi ibu dari anak-anak kita? Kamu tahu Billy hanya asal bicara, bukan? Aku tidak akan pernah melakukan sarannya yang bodoh itu,” ujar Alex dengan suara serak.
Pandangannya mengabur, entah karena air hujan atau karena ia sudah tidak mampu membendung genangan air di pelupuk matanya. Tangannya sedikit bergetar ketika meletakkan rangkaian bunga di atas makam.
“Kinara Lee, di hatiku … hanya ada kamu seorang. Akan tetap seperti itu sampai kapan pun. Bahkan jika aku sudah mati nanti, atau di kehidupan yang akan datang … hanya kamu yang akan aku ingat. Kamu percaya itu, bukan?" gumam Alex di antara rintik hujan yang menerpa pepohonan.
"Aku mencintaimu, Baby. Maafkan aku yang tidak berguna ini … aku … aku benar-benar mencintaimu … hanya kamu. Tidak akan pernah ada yang lain.”
Alex mengerang keras, berusaha menahan rasa sakit yang menghantam jantungnya. Rasa itu tidak pernah benar-benar pergi darinya, kemarahan … juga putus asa. Tidak pernah satu detik pun ia melewati hari tanpa menyesali semua kesalahannya, kekeliruannya, keterlambatannya, kebodohannya ….
“Baby, tunggu aku … aku akan mencarimu. Aku pasti akan menemukanmu ....”
Janji itu bergema di antara pucuk-pucuk pohon pinus, terdengar jelas meski rinai hujan semakin deras. Janji yang selalu Alex ucapkan setiap kali berkunjung ke makam Kinara. Janji yang ia harap bisa menembus ke langit, mengetuk hati Sang Pencipta agar memberinya kesempatan kedua.
__ADS_1