Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
41


__ADS_3

"Jangan tanyakan itu Gio, sekarang aku hanya mau kita pulang," ucap Tara. Dan tanpa ia tahu saat ini Arzan melihatnya yang saat ini sedang memeluk Gio.


"Hem, hem, katanya tidak mau menjadi pengantin pengganti tapi sekarang lengket bagaikan perangko," ujar Arzan yang terlihat sedang berdiri di dekat jendela. "Tara, di kamar kamu saja, disini banyak orang. Apa kamu tidak merasa malu?"


Tara tidak menghiraukan kalimat sang ayah, wanita itu malah semakin terisak. "Gio, bawa aku pulang," katanya lirih.


"I-iya, kita pulang. Tapi lepaskan dulu pelukanmu ini karena papa sekarang melihat kita," bisik Gio di telinga sang istri.


Tara lalu melepaskan pelukannya dan dengan segera mengusap air mata. "Papa, bilang sama Mama kalau aku mau pulang," ucap Tara yang tidak berani menatap wajah sang ayah. Karena wanita itu tidak mau kalau sampai sang ayah mengetahui dirinya sedang menangis. "Pa, aku sama Gio pamit pulang, dan kami akan pulang lewat pintu belakang," lanjut Tara yang bergelayut manja di lengan sang suami.


Arzan yang masih saja berdiri menyahut kalimat putrinya. "Ada apa Tara, apa kamu bertengkar lagi dengan kakak kamu Tara?"


"Aku pulang dulu Pa," kata Tara yang malah mengabaikan pertanyaan Arzan. "Jangan lupa bilang sama Mama." Setelah mengatakan itu Tara langsung menyenggol tubuh sang suami, supaya Gio tidak diam saja. "Gio, ayo!" seru Tara mengajak suaminya.


"Hm, pa aku sama Tara pulang dulu, titip salam buat mama." Gio menatap Arzan.


"Iya Gio, kamu bawa saja Tara pulang. Mungkin saja moodnya saat ini lagi kacau," balas Arzan. Rupanya Arzan mengerti kalau Tara pasti sudah bertengkar dengan Tika. Oleh karena itu, putri keduanya itu sampai menangis seperti itu.


***


Dua jam berlalu setelah pasangan suami istri itu sampai di rumah. Tara malah tidak mau menceritakan semuanya pada Gio.


"Tadi di rumahmu nangis-nangis sambil peluk-peluk, tapi kenapa sekarang malah cuek bebek?" tanya Gio saat melihat Tara sedang asik memakan salad buah buatan Lydia. "Tara, ayolah cerita, kenapa kamu mendadak menjadi cengeng?"


Tara yang ditanya berhenti mengunyah sambil menatap sang suami. "Jangan bahas itu lagi Gio, sungguh aku sangat merasa jijik!" ketus Tara menjawab pertanyaan Gio. "Bahas yang lain saja, daripada kamu membahas masalah yang itu." Tara benar-benar tidak mau membahas masalah itu karena ketika Gio bertanya seperti itu, mendadak bayangan Tika yang ada di atas tubuh Dion terngiang-ngiang, dan suara de sa han sang kakak terdengar begitu sangat jelas sehingga membuat Tara, berjanji tidak mau mengungkit-ngungkit itu lagi. "Sana kamu pergi saja, jangan malah menggangguku. Karena aku saat ini ingin sendirian," ujar Tara yang malah menyuruh suaminya untuk pergi dari kamar mereka itu.


"Cerita dulu, baru aku akan pergi," kata Gio.

__ADS_1


"Hah, kau ini Gio, sudah kukatakan jangan ingatkan aku tentang dua manusia yang sangat menyebalkan itu!" ketus Tara.


"Dua manusia, mama Yana dan apa Arzan?" tanya Gio yang malah salah mengartikan yang dimaksud oleh Tara.


"Bukan!"


"Lalu siapa?"


"Kak Tika dan Di—" Tara langsung saja menutup mulutnya sendiri, karena wanita itu malah keceplosan.


"Dimana laki-laki itu, bukankah dia tidak ada di rumah itu? Apa jangan-jangan Dion ada di kamar Avantika? Begitu maksud kamu, Tara?"


Tara malah tersedak mendengar pertanyaan Gio. "Uhuk ... uhuk ... uhuk." Tara menepuk-nepuk da danya sendiri.


"Kalau lagi makan apa-apa itu hati-hati," ujar Gio sambil memberikan Tara segelas air. "Ini minum dulu," lanjut laki-laki itu.


"Selalu saja aku yang disalahkan, apa memang benar yang tadi aku katakan itu?"


Saat itu juga Tara kembali lagi menyemburkan air yang masih sedikit tersisa di mulutnya itu, dan air itu mengenai baju sang suami karena posisi Gio saat ini sedang berdiri di dekat ranjang.


"Tara ...!" panggil Gio dengan suara yang sangat melengking sehingga membuat Alexa yang tadi berniat ingin mengantarkan Tara brownis atas permintaan Lydia langsung menghentikan langkah kakinya. Karena saat ini pintu kamar Tara sedikit terbuka oleh sebab itu suara Gio bisa kedengaran.


"Ada apa Tuan muda Gio memanggil Nona muda Tara seperti it–" Kalimat Alexa terputus gara-gara wanita itu malah mendengar suara Gio.


"Kenapa kamu malah menyemburkan airnya ke bajuku, hah? Tidak bisakah kamu menelannya semuanya?" Gio di dalam mengibas-ngibaskan bajunya.


Sedangkan Alexa yang ada di luar malah salah paham. "Air, air apa ma-maksud Tuan muda?" tanya Alexa pada dirinya sendiri dan sekarang pikiran wanita itu malah traveling.

__ADS_1


"Maaf Gio, aku tidak sengaja. Habis kamu sih! Jadi aku tidak bisa menelan semuanya."


"Aku harus pergi dari sini dan memberitahu Nyonya besar kalau Tuan muda sudah berhasil menjebol gawang Nona muda," ucap Alexa antusia dan wanita itu malah semakin salah paham. Namun, ketika ia akan pergi terdengar suara Gio lagi.


"Hentikan Tara, apa yang kamu lakukan? Singkirkan tanganmu, aku merasa sangat geli."


"Oh ta ampun, kupingku ternoda," ujar Alexa yang kali ini langsung pergi dari sana.


***


Alexa dengan semangat 45 menceritakan semuanya pada Lydia dengan apa yang tadi ia dengar.


"Benarkah? Kalau Gio dan Tara saat ini sedang membuatkanku cucu?" Binar bahagia terlihat jelas di kedua bola mata Lydia. Karena saat ini ia sedang membayangkan kalau Gio akan memberikannya cucu yang sangat lucu.


"Iya Nyonya," jawab Alexa dengan bibir yang melukis senyum juga.


"Aku sudah tidak sabar Alexa, melihat anak Gio dan Tara," ucap Lydia yang tidak jadi meminum secangkir kopinya, hanya karena ia mendengar penuturan kepala pelayan itu. "Aku merasa sangat senang hari ini, rupanya setelah mereka menikah satu bulan yang lalu, Gio baru berani melakukan itu pada Tara. Ah, aku tidak bisa membayangkan semuanya."


Malvin yang baru saja datang sangat heran melihat sang istri yang terus saja senyum-senyum sendiri, karena laki-laki itu melihat mimik wajah Alexa biasa saja. Tapi berbeda dengan raut wajah Lydia saat ini sehingga membuat laki-laki itu bertanya pada sang istri.


"Mom, ada apa? Kenapa Mommy senyam-senyum sendiri seperti itu?"


Lydia yang di tanya langsung saja menyuruh sang suami untuk duduk di sebelahnya. "Sini Dad, Mommy mau menceritakan Daddy sesuatu hal yang sangat luar biasa ini." Lydia menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. "Dad sini cepetan!" seru Lydia yang sudah tidak sabar menceritakan semuanya pada Malvin.


"Cerita tentang apa sih, Mom? Sehingga Mommy terlihat heboh sendiri seperti itu, padahal Papa perhatiin wajah Alexa biasa saja." Malvin lalu terlihat melangkahkan kakinya, karena laki-laki itu ingin duduk di sebelah sang istri. "Ayo cerita saja Mom," ucap Malvin.


"Duduk dulu, Baru Mommy akan cerita," balas Lydia menimpali suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2